Sadran Agung Bregodo Gito-Gati

, , 3 comments


Siang itu cuaca terik, namun tak mengalahkan prajurit-prajurit dari tiap perdukuhan-perdukuhan Pandowoharjo untuk melakukan Kirab Sadran Agung Bregodo Gito-Gati, begitupula para penonton yang antusias menyaksikannya. Gito-Gati ini merupakan kakak-adik (saudara kembar) yang dikenal sebagai pelaku seni tradisi, pemain ketoprak dan dagelan, serta dalang wayang kulit. Kirab Budaya Sadran ini diadakan selain untuk mengenang dan mewarisi keteladanan Ki Sugito (Gito) dan Ki Sugati (Gati) juga untuk melestarikan budaya Jawa.

Kirab Sadran Agung sudah dilaksanakan pada tanggal 5 Juli  kemarin di dusun Panjangan, Pandowoharjo, Sleman tepatnya di padepokan Gito-Gati. Disebut sadran agung karena acara ini dilakukan dari 11 perdukuhan di Pandowoharjo. Acara kirab ini diadakan bersamaan dengan pekan budaya Gito-Gati yang menampilkan berbagai macam pertunjkan seperti Ketoprak, Jathilan, wayang serta adanya pasar malam dan wahana permainan khasnya. Sebelum kirab dimulai, dilakukan upacara terlebih dahulu sekaligus peresmian Padepokan Gito-Gati oleh bupati Sleman. Seusai upacara alunan alat musik jawa langsung berbunyi, penonton mulai tumpah ruah secara rapi di sisi-sisi jalan. Masing-masing prajurit dari 11 perdukuhan Pandowoharjo terlihat telah mengangkat nasi tumpeng dan gunungan yang akan diusungkan saat kirab berlangsung. Kirab ini dilakukan dari Padepokan Gito-Gati melewati menuju makam Turbomulyo sejauh 5 km.


Sesampainya di makam Turbomulyo,nasi tumpeng dan gunungan pun diletakan rapi dipelataran. Warga Perdukuhan Pandowoharjo telah memadati areal makam ini. Disinilah puncak acara Nyadran (Sadran) yaitu doa bersama untuk orang-orang terdahulu yang dipimpin oleh pemuka-pemuka agama setempat. Kemudian ditutup dengan kenduri bersama di areal makam, para ibu-ibu mulai sibuk menyiapkan dan membagikan nasi tumpeng dan makanan lainnya yang dibawa ke makam.


Tradisi Nyadran berbeda tiap daerah, namun menurut saya tradisi ini mempunyai makna yang sama yaitu mengingat para pendahulu, mengingat dan menelisik silsilah keluarga. Selain itu tradisi ini juga sebagai refleksi diri atas kehidupan kita sebagai manusia. dan menyadari tak ada kehidupan yang abadi. 

3 komentar: