Pulau Tabuhan, pulau yang terlihat jelas dari Pantai Watudodol sudah lama membuat saya penasaran. Terlihat dari jauh, kecil, berwarna kehijauan dan berada di tengah-tengah warna biru laut yang luas. Minggu pagi, saya mendapat ajakan bersama teman dari Jalan-JalanSeru Banyuwangi untuk piknik seru ke Pulau Tabuhan tersebut. Walau letaknya di tengah Laut Selat Bali, Pulau ini masuk dalam wilayah Kabupaten Banyuwangi, tepatnya di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi.

Cara menuju Pulau Tabuhan, Banyuwangi
Dari Kota Banyuwangi: Pulau ini bisa ditempuh dengan menyewa kapal dari beberapa tempat seperti Grand Watudodol, Bunder Bangsring dan Kampe. Jarak terdekat untuk sampai ke Pulau Tabuhan yaitu dari Pantai Bangsring atau Kampe. Minggu kemarin saya menggunakan jasa Kapal dari Pantai Bangsring. Dari kota Banyuwangi, ambil arah Pelabuhan Ketapang – melewati Pelabuhan Ketapang – Pantai Watudodol (patung gandrung) – pom bensin kiri jalan – tikungan ke kanan – masjid perumahan griya (kiri jalan) – setelah melewati masjid, kanan jalan akan ada papan petunjuk jalan ke rumah apung, kalian tinggal ikutin papan petunjuk jalan itu saja. Sesampainya di Pantai Bangsring kalian bisa menyewa kapal dan berlayar menempuh perjalanan selama 15 menit saja.
Dari Luar Kota Banyuwangi: Jika kalian yang naik kereta ke Banyuwangi, bisa turun di stasiun Banyuwangi Baru dan melanjutkan naik ojek atau menyewa angkot atau bisa juga naik angkot ke terminal sritanjung lalu naik bis yang menuju arah situbondo dan minta turun di desa Bangsring (rumah apung). Jika kalian dari Surabaya naik bis, bisa memilih bis jurusan bali atau banyuwangi yang lewati Situbondo. Minta Turunlah di depan Desa Bangsring (Rumah Apung).

Biaya sewa kapal sebesar Rp. 500.000 perkapal dengan maksimal penumpang sebanyak 10 orang. Fasilitas kapalnya kalian dapat pelampung keselamatan. Namun jika ingin Snorkling di Pulau Tabuhan kalian bisa menyewa alat Snorkel Satu Set berupa Jaket Pelampung dan Snorkel seharga Rp. 30.000. Jika butuh sepatu katak akan dikenalan biaya sewa lagi sebesar Rp.10.000-15.000

Pulau Tabuhan merupakan pulau kecil yang luasnya hanya sekitar 5-6 ha. Pulau tak berpenghuni, tidak banyak pohon-pohon teduh yang bisa dijadikan tempat berteduh. Walau pulaunya tidak seberapa besar aktifitas seru bisa dilakukan disini seperti:

1. Snorkeling
Spot Snorkeling
Ombak disini utara agak tenang, biasanya pengunjung melakukan snorkeling di spot ini. Spot terbaik bisa di dapat di area agak ke tengah, kita bisa minta tolong oleh nahkoda perahu yang kita sewa untuk mengantarkan ke daerah spot tersebut. Hati-hati dengan bulu babi dan jangan menginjak karang ya J

2. Keliling Pulau
Spot foto sebelah timur pulau
Pulau Tabuhan ini luasnya hanya 5-6 ha, mengelilinginya dengan jalan kaki tidak akan menempuh waktu jalan terlalu lama. Mungkin yang perlu disiapkan adalah tabir surya supaya kulit tidak gosong terbakar. Pengalaman kemarin sih walau sudah pakai tetap gosong :D. Mengelilingi pulau ini hanya sekitar 15menit berjalan kaki kadang yang bikin lama adalah berhenti dan berfoto-foto :D. Kadang berteduh sebentar di semak-semak agak tinggi menyantap makanan, atau karena kepanasan.

3. Berfoto-foto

Ada beberapa spot foto yang menarik perhatian, salah satunya adalah reruntuhan bangunan. Spot ini menjadi spot favorit oleh para pengunjung. Biasanya posenya sih berdiri di atas reruntuhan bangunannya. Jika sedang pasang hati-hati yak J. Spot foto menurut saya di pulau sebelah timur, pasirnya halus karena terus terkena ombak, dengan pemandangan laut biru dan pulau Bali spot foto ini terlihat bagus. Spot foto berikutnya adalah spot foto Gili Trawangan Ala-ala (beberapa orang menyebutnya seperti itu), spot ini merupakan ayunan yang ada di Pantai, dengan tulisan Pulau Tabuhan di tiang penopangnya diharapkan menjadi salah satu icon dari pulau tabuhan.

spot reruntuhan bangunan
spot reruntuhan bangunan

Pulau Tabuhan ini menjadi pilihan untuk menikmati Sunset dan Sunrise sekaligus dibanyuwangi selain di pelabuhan Marina. Karena belum mencobanya langsung, saya tidak bisa berkata banyak. Tapi untukbisa menikmati suasana Senja dan Matahari terbit di Pulau Tabuhan kalian harus menginap disini semalam.

warung sederhananya, sekaligus bisa ngadem
Fasilitas yang ada disini tidak terlalu lengkap, baru ada Bilik untuk mengganti baju dan beberapa warung makanan-minuman buat yang tidak atau bekalnya kurang. Selain itu tidak ada fasilitas lainnya. Jika kalian yang hendak bersnorkling, sewalah peralatannya di Pantai Bangsring sebelum berangkat. Belum ada tempat pembuangan sampah yang memadai, sehingga pengunjung diharapkan dapat membawa kembali sampahnya dan di buang ditempat sampah yang ada.
pasukan lengkap :p
Setelah lelah bermain di Pulau Tabuhan, kami memutuskan kembali ke Pantai Bangsring. Jika masih belum puas bersnorkling, di pantai Bangsring kalian bisa melanjutkannya dan bahkan bisa bersnorkeling bersama Hiu


Makanan-makanan yg tersaji dalam Tupat Sewu
Banyak tradisi adat yang cukup menarik di berbagai daerah di Indonesia, salah satunya di Banyuwangi. Pada H+7 bulan Syawal masyarakat khususnya daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur mengenal Lebaran Ketupat, dimana lebaran ini masyarakat membuat ketupat dan membagikannya kesanak saudaranya bahkan tetangganya. Ada juga yang membuat ketupat dan memakannya bersama-sama dengan sanak-saudaranya. Di Banyuwangi pun begitu, adanya tradisi adat Puter Kayun yang merupakan tradisi dari Desa Boyolangu, Kecamatan Giri, Kabupaten Banyuwangi yang diadakan pada tanggal 7 Syawal sampai 10 Syawal. Salah satu acara yang cukup menarik yaitu Ketupat Sewu atau 1000 Ketupat.

Ketupat Sewu yang diadakan di Desa Boyolangu ini memulai rangkaian acara tradisi adat Desa Boyolangu. Diadakan tanggal 7 Syawal pada malam hari tepatnya pada setelah Shalat Magrib. Setelah magrib warga desa Boyolangu menggelar tikardi depan rumahnya (juga ada yang didalam rumah) dan mengeluarkan ketupat-ketupat yang sudah disiapkan untuk disantap bersama-sama sanak saudara dan keluarga yang datang dan ada saat itu. Karena makan ketupat bersama-sama satu desa inilah kenapa di sebut Ketupat Sewu.

sedang merapihkan barisan lilin :D
Suasana cukup ramai sekali, anak kecil berlarian dengan pakaian habis dari masjid, berkopiah, baju kok, celana pendek dengan sarung yang digantung seperti tas pinggang. Riuh suara obrolan dari antar warga yang beramah tamah kepada tetangganya didepan rumah sambil mempersiapkan dan menunggu mulainya acara Ketupat Sewu. Sebelum dimulai, penerangan lampu sedikit dimatikan, dan diganti dengan lampu tradisional sederhana yaitu Lampu Teplok yang dibuat dari botol-botol kaca bekas. Jadi keingat tradisi menjelang Idul Fitri di Gorontalo. Lampu Templok ini taruh di tengah jalan sebagai pengganti penerangan lampu yang dimatikan. Beberapa anak-anak kecil terlihat senang melihat api. Bahkan ada yang nyanyi lagu “selamat ulang tahun” :D
masih agak ramai, saling bercerita satu sama lain hehe
mendadak hening dan berdoa, tidak ada yg berlarian seperti sebelumnya

Suasana agak hening, ketika suara dari masjid mulai terdengar dan mengajak para warga untuk berdoa mengucapkan syukur atas karunia yang telah diberikan Yang Maha Kuasa. Ketika doa selesai, suasana ramai kembali, warga mulai menyantap hidangan ketupat yang telah disiapkan. Hidangan ketupat sewu relatif sama seperti daerah lain, Ketupat dengan opor ayam yang berbeda adalah lauk tambahan berupa tempe, tahu, semacam tempura, bahkan ada yang membuat bakso dan tidak lupa adanya sambal dan kerupuk baik kerupuk biasa maupun kerupuk peyek. Saya diajak salah seorang warga untuk ikut menyantap ketupat sewu bersama keluarganya. Rezeki ga boleh ditolak, mumpung perut  sudah lapar dan sudah tergiur aroma Opor dari asap-asapnya yang berterbangan.

Jika tidak suka ketupat ada sedia Nasi :D
Nambah setengah ketupat, pencitraan aja sih setengahnya
Ketika acara selesai, lampu dinyalakan kembali, lampu teplok dimatikan dan anak-anak masih berkeliaran bermain :D. Saya juga berlarian menuju bazar kecil yang ada di tengah desa. 
mas dor dan temen dari IG:@instabanyuwangi

Terima Kasih untuk keramahannya keluarga Mas Dor dan Warga Desa Boyolangu ^^
Taman Laut di Cirebon Waterland
Cirebon adalah kota bersejarah, apalagi nuntuk Orang Tua (Ortu) saya. Menjadi rutinitas tahunan, lebaran saya sekeluarga pulang menengok Nenek di Losari, Cirebon. Saat acara kebaran mulai senggang kami sekeluarga menyempatkan mampir ke Taman Ade Irma Suryani - Cirebon Waterland ini yang ramai dibincangkan dari tahun 2015 silam dan juga Ramai dikunjungi apalagi saat libur lebaran seperti ini.

Taman  Ade Irma Suryani ternyata sudah ada sejak dahulu dengan nama Taman Traffic Garden Cirebon namun sejak tahun 1966 di ganti menjadi Taman Ade Irma Suryani. Taman ini merupakan taman rekreasi dan taman bermain satu-satunya di Kota Cirebon. Mulai tahun 2014 dikembangkan menjadi Cirebon Waterland dan selesai dan dibuka kembali pada Libur Lebaran tahun 2015 yang lalu.  Jika mengingat memori lama, sebelum Cirebon Waterland jadi sekitar  Kelas 6 SD atau 1 SMP saya pernah mampir ke Taman Ade Irma Suryani ini. Kondisinya kurang menarik, namun karena satu-satunya taman rekresasi, taman ini menjadi andalan warga Cirebon untuk bersantai, menikmati taman dan laut dari dermaga yang ada saat itu.

Cara Menuju Taman Ade Irma Suryani Cirebon Waterland
Taman Ade Irma Suryani - Cirebon Waterland ini terletak pusat kota Cirebon, tepatnya berdekatan dengan Pelabuhan Cirebon. Jadi jika kalian menggunakan kendaraan pribadi bisa mengikuti petunjuk jalan menuju Pelabuhan Cirebon namun jika menggunakan kereta bisa turun di stasiun terdekat yaitu Stasiun Cirebon Prujakan. Dari Stasiun bisa menaik Ojek (nawar dulu) dan angkot bernomor kode GM (Jurusan Gunungsari-Mundu). Jika kalian yang punya sedikit waktu disarankan naik ojek saja, karena naik angkot jalannya agak memutar (jangan lupa untuk tanya terlebih dahulu supir angkotnya apa kah melewati daerah tujuan J )

Saat H+3 lebaran 2016, untuk memasuki Taman Ade Irma Suryani  seharga Rp. 65.000 sudah termasuk tiket untuk berenang di Cirebon Waterlandnya. Saya cukup keberatan soal ini karena berimbas keluarga yg ikut pada tidak jadi masuk ke Cirebon Waterland ini dan menunggu diparkiran. Padahal sebelum Puasa dan Lebaran tiket dipisah, unuk menikmati Taman Ade Irma Suryani seharga Rp. 15.000 dan untuk Cirebon Waterland Seharga Rp. 60.000 sekaligus bisa menikmati suasana yang ada di Taman Ade Irma Suryani. Karena sudah jauh2 dari Banyuwangi saya niatkan saja sebentar masuk untuk melihat-lihat di dalam seperti apa. Dan  Semoga setelah melewati Hiruk Pikuk Lebaran, harga tiket kembali seperti sedia kala.



Memasuki Taman Ade Irma Suryani – Cirebon Waterland, pemandangan waterlandnya lah yang mencolok mata, dengan bentuk yang menakjubkan dan menjulang agak tinggi dari bangunan dan pohon sekitarnya. Kolam Renang dengan Wahana yang bisa dibilang cukup wow dimata, cocok untuk berfoto-foto dan bermain air bersama keluarga, apalagi didukung oleh cuaca Cirebon yang panas-panas membakar khas Pantura :D. Kemarin saya tidak mencoba Kolam Renang ini, hanya memperhatikan kegembiraan dan mendengar teriak sana sini anak kecil yang sedang bermain air di Cirebon Waterlandnya.

Setelah melewati Kolam Renang, Kita akan melihat kapal raksasa bertuliskan Cheng-Ho (Pelaut  dari Cina yang terkenal). Bangunan tersebut merupakan Restoran berbentuk kapan berpemandangan laut utara Jawa. Di kanan kiri Resto Kapal tersebut terdapat Dermaga yang bisa kita lalui untuk melihat pemandangan laut. Menyelusuri Dermaga ini kalian akan melihat pemandangan mewah berupa rumah apung yang berada di kanan kiri dermaga. Desainnya menarik, hampir mirip dengan rumah apung yang berada di Gorontalo, dan Pulau Cinta. Rumah Apung tersebut disewakan dengan harga dari yang termurah yaitu 1,5 Juta sampai 2,7 Juta permalam. Menurut info yang saya dapat yang 1,5 Juta bisa untuk 4 Orang dan 2,7 Juta untuk 10 orang.  Kalau Patungan serasa murah.

Rumah Apung yang di sewakan
Potret lebih dekat penginapan rumah apung 
Menyelusuri Dermaga berhujung kepada Gazebo santai dimana disambung dengan Dermaga yang terbuat dari Bambu. Dermaga yang Instagramable menurut saya. Untuk ke Dermaga itu ternyata bayar lagi sebesar Rp, 15.000 dan gratis Tolak Angin untuk anak2 satu buah. Padahal lebih baik Stiker Cirebon Waterland atau semacamnya yang bisa menimbulkan efek promosi dan tentunya meninggalkan kesan baik. Dermaga Bambu ini cukup panjang, mungkin sekitar 500 m-1 km. selama perjalanan menuju ujung dari dermaga bambu ini ada selter berupa bangku dari bambu. Diujung Dermaga berupa selter besar, mirip seperti gazebo yang mempunyai beberapa kursi untuk para pengunjung bersantai menikmati angin sepoi-sepoi, laut pantai utara dan sepertinya sunset disini lumayan cantik juga. Air laut yang terlihat di Pantai Utara sering kali berwarna coklat, tidak biru seperti halnya pantai-pantai di selatan Jawa. Hal ini dikarenakan di daerah Cirebon sendiriterdapat banyak muara sungai yang membawa endapan lumpur berwarna coklat dan akhirnya warna coklat dan endapannya menyebar ke laut pantai utara. Disini juga terdapat Jasa Penyewaan Kapal Laut oleh nelayan setempat dengan maksimal 10 orang dengan harga 10rb/orang.


Setelah puas menikmati pemandangan laut pantai utara Cirebon dan puas berkeliling Taman Ade Irma Suryani ini, saya bersama keluarga memutuskan untuk kembali pulang ke rumah Mbah. Semoga kapan2 ada kesempatan bisa menikmati senja disini, main air di waterland atau sekedar makan malam di Resto Kapalnya.

Taman untuk bermain bersama si kecil :)
Itinerary ke Cirebon Waterland ini :Parkir Mobil Rp. 8000
Tiket Masuk Rp. 65.000
Tiket Masuk Ke Dermaga Bambu Rp. 15.000
Total sekitar Rp. 88.000.


Setelah pergi silaturahmi ke Rumah Teman di Dekat Terminal Arjosari, saya memutuskan untuk keliling malang melihat-lihat suasana malam dan mencari tempat makan di Malang. Melintasi Balai Kota saya melihat rumah makan yang sedikit klasik bernama “Inggil”.

Lihat muka depannya saja, rumah makan ini seperti menghipnotis siapa saja yang berhenti memandangnya, seperti kembali mengenang masa yang berlalu. Saya memutuskan untuk makam malam disini, suasana agak sepi, mungkin karena sudah lewat jam makam malam yaitu jam 19:30. Namun suasana yang tidak terlalu ramai ini malah menjadi kenyamanan tersendiri.  Rumah Makan ini terletak di belakang Balai Kota Malang, bersebelahan dengan Museum Malang Tempo Dulu atau lebih tepatnya beralamat di Jalan Gajah Mada No. 4,Kiduldalem,Klojen,Kota Malang, Jawa Timur.

Inggil Resto, Tampak Depan
Cara Menuju Kesana
Rute menuju kesana cukup mudah, jika kalian dari Stasiun Kota Malang bisa berjalan kaki selama 10-15 menit menyusuri jalan Kertanegara ke Alun-alun Tugu atau Buinderan Tugu BalaiKota Malang. Di Bunderan tersebut ambil jalan ke kiri sebelum Gedung Balai Kota (Jalan Gadjah Mada). Rumah makan Inggil atau Inggil Resto ada di sebelah Museum Malang Tempo Dulu. 

Ruang Utama, Semacam Hall Pertunjukan
Inggil Resto mempunyai beberapa ruangan dengan konsep yang berbeda. Untuk memasuki ruang utama dari luar kalian akan melewati semacam lorong, lorong waktu dimana disetiap dindingnya terdapat foto malang tempo dulu dan cerita singkat mengenai foto tersebut. Ruang utamanya berupa ruang besar, Semacam Hall dimana disisi-sisinya terdapat benda-benda kesenian dan benda-benda tempo dulu. Saya memilih duduk di ruang utama ini karena ruangan cukup luas, leluasa memandang. Menu yang ditawarkan berupa Serba Bakar dan Goreng, masakan-masakan dan minuman khas Jawaseperti Dawet, dan Wedang. Awalnya saya pikir pada menu tersebut untuk satu porsi satu orang ternyata beberapa menu yang dipesan bisa untuk lebih dari satu orang :D. Range harga makanan dari Rp.15.000 dan minuman mulai dari Rp.5.000. Cukup murah, apalagi beberapa makanan bisa untuk lebih dari 1 porsi :D.

Koleksi Alat-alat Jadul.. Orangnya nggak ya :D
Jam Weker dan Seterika Areng
Mesin Pengkeriting Rambut 
Setelah memesan, saya pergi melihat-lihat Inggil Resto. Inggil Resto ini kesannya seperti museum. Pada ruang utamanya terdapat benda-benda kesenian seperti wayang, Topeng-Topeng Kayu untu menari dan benda lama seperti jam weker lama, mesin jahit, bahkan favorit saya yaitu Setrika Areng yang bila digunakan baju yang digosolk seterikamempunyai bau yang khas. Menengok ke ruang depan terdapat koleksi-koleksi kaset jaman dulu sekitar tahun 70an hinggan kaset masa kini. Bahkan ada kaset lagu anak-anak jaman 90an :D. Berjalan ke ruang selanjutnya terdapat beberapa benda klasik seperti piano, keyboard dan yang paling menarik perhatian adalah alat pengeriting rambut jaman dulu yang awalnya saya sangka merupakan alat setrum penyiksa tahanan :D. Diruangan ini juga terdapat foto-foto Malang tempo dulu dan beberapa tulisan dinding berupa sejarah kota Malang.

Ruang Berisikan Koleksi Kaset
Ruang Foto Tempo Dulu, Sejarah Singkat Malang
Makanan sudah jadi, saya bergegas kembali ke meja di ruang utama. Makanan yang dihabiskan cukup banyak mengingat makanan yang dipesan berupa makanan untuk dua porsi orang :D. Pada saat itu di Panggung Utama terdapat Live Musik yang menyanyikan lagu-lagu tipe klasik yang tidak saya kenal, namun lagu tersebut terdengar damai di telinga. Menurut info yang saya dapat, panggung ini disetiap malamnya dilakukan pertunjukan yang berbeda seperti live music pada hari saya datang. Kalau dilihat di atas panggung terdapat seperangkat alat gamelan, kemungkinan ada pertunjukan wayang orang atau nyinden.

makanan yang pesan, porsi dua semua, kecuali nasgor 
Setelah selesai saya agak enggan meninggalkan Inggil Resto ini, dan akhirya berkeliling tiap ruangan di Inggil Resto untuk mengambil gambar kembali dan setelahnya puas saya membayar dan berpamita untuk kembali berkeliling kota Malang Malam Hari.

Terlintas dalam pikiran “Kalau Amerika punya patung Liberty, Banyuwangi punya Patung Gandrung”. Setelah melihat Patung Gandrung dari Bukit Watudodol dengan latar berupa Laut Selat Bali seperti galnya patung Liberty di Muara Sungai Hudson, Newyork.

Bukit Watudodol, merupakan area Perhutani yang difungsikan sebagai tempat bersejarah karena terdapat Makam Syekh Maulana Ishaq dan Putri Sekardadu, yang merupakan makam dari tokoh penting dalam sejarah Kerajaan Blambangan (Banyuwangi). Bukit Watudodol habis berbenah, penebangan beberapa ranting pohon yang menghalangi pemandangan view laut di pangkas dan diberi semacam bangku dan meja untuk pengunjung menikmati panorama laut selat bali. Pembenahan tersebut kini membuat Bukit Watudodol ini ramai dikunjungi anak-anak muda yang sekedar ingin tahu, foto2 dan  yang ingin menikmati suasana matahari terbit dari bukit Watudodol ini.

Rute Menuju Ke Bukit Watudodol.
Cukup mudah, karena berada di jalan utama Banyuwangi-Situbondo jika berangkat dari kota Banyuwangi akan menempuh perjalanan sekitar 25-30 menit. Jadiuntuk menikmati Sunrise kira-kira setelah adzan Subuh langsung jalan. Rutenya dari Kota Banyuwangi ambil kearah pelabuhan Ketapang, lewati pelabuhan ketapang, lalu melewati Terminal Sri Tanjung, Pabrik Semen Bosowa dan jika melihat laut di sebelah kanan anda, akan telah sampai di area Watudodol. Pintu masuk Bukit Watudodol berada di hutan sebelum Patung Gandrung.

Setelah membayar tiket masuk seharga Rp.2.500 dan Parkir motor Rp. 2.000, kita akan berjalan menaiki bukit, jalannya cukup landai, sekitar 10 menit akan sampai Gardu Pandang, semacam tempat melihat pemandangan Pantung Gandrung Watudodol dan Panorama Selat Bali. Ternyata gardu pandang letaknya bersebelahan dengan Makam Syekh Maulana Ishaq dan Putri Sekardadu. Sekilas kisah yang saya baca di Papan Informasi, Ternyata Syekh Maulana Ishaq dan Putri Sekardadu adalah Orang Tua dari Sunan Giri. Mereka bertemu ketika itu saat Kerajaan Blambangan diserang penyakit aneh, dan Putri terkena penyakit tersebut dan tidak ada satu pun tabib yang bisa menyembuhkan saat itu hingga Syekh Maulana Ishaq datang dan berhasil menyembuhkan Putri Sekardadu. Lama kemudian mereka menikah.
Makam Syekh Maulana Ishaq dan PutriSekardadu
Jam 5, saya datang dengan keadaan Gardu Pandang masih gelap dan sepi, Tuhan mulai melukis-lukis langit pagi itu. Bangku-bangku masih kosong, duduk dan menikmati udara pagi dan angin laut yang sepoi-sepoi. Jika sedang tidak puasa, saya sudah bawa termosberisi air hangat dan seperangkat alat dan bahan pembuat Teh. Makin pagi, langit perlahan menerang, Gardu Pandang mulai ramai oleh pengunjung yang mencari tempat asik untuk menikmati pemandangan pagi. Saya memandangi patung gandrung dari atas sini sekilas terbayang patung Liberty di Amerika. Semisal Amerika punya Patung Liberty, Banyuwangi punya Patung Gandrung :D

Amerika punya Patung Liberty, Banyuwangi punya Patung Gandrung :)
Sunrisenya ^^
Akhirnya matahari muncul dari balik garis horizon laut dan langit. Suasana makin riuh, banyak yg sibuk berfoto-foto, yang tadinya menikmati dengan kalem pun juga sibuk berfoto begitu juga saya. Beginilah Banyuwangi dan Penduduknya yang gemar menikmati pagi. Saatnya kembali ke Kos-kosan, kembali tidur.

Dateng berduaan asik
dateng beramai-ramai juga boleh


Tips : Karena spot ini sedang Hits-hitsnya. Hindari hari libur, apalagi untuk kalian yang ingin menikmati suasananya.  Oia dan Jangan lupa Jaga kesopanan dan kebersihan karena area ini juga salah satu area yg dihormati dan di keramatkan :)
Senja dan Formasi 4 Gunung Syahdu :)
Pelabuhan Marina ini setahu saya adalah proyek pembangunan pelabuhan untuk perahu-perahu komersial yang terintegrasi dengan pelabuhan Teluk Benoa, Labuan Bajo dan tempat2 menarik lainnya. Pelabuhan ini masih dalam proses pembangunan mungkin tahun 2017/2018 sudah selesai dan mulai beroperasi. Karena letaknya di pesisir Kota Banyuwangi dan bersebelahan dengan Pantai Boom, menjadikan pelabuhan ini sering dikunjungi pengunjung, untuk mancing di Dermaganya, atau sekedar menikmati udara pagi dan sore hari yang sejuk serta pemandangan yang indah.
Rute Menuju Pelabuhan MarinaUntuk menuju ke Pelabuhan Marina cukup mudah, dari kota Banyuwangi ke pelabuhan marina hana memakan waktu sekitar 5-15 menit saja. Dari Kota Banyuwangi - Taman Blambangan - pertigaan PLN dan Pom Bensin, ambil kanan - ikuti jalan sampai melewati pelabuhan nelayan pantai Boom lalu tempat pemungutan retribusi pantai Boom – Parkiran Pantai Boom – Pelabuhan Marina. Biaya yang dikeluarkan hanya Rp.2000 untuk Motor dan Rp,5000 untuk Mobil.
Spot Sunsetnya di sini, di tempat parkir kapal
Sekitar jam 4 sore langit terlihat cerah, 4 Pegunungan di sebelah barat Kota Banyuwangi terlihat sangat Syahdu tanpa awan mendung yang menutupi puncaknya. Karena saya rasa pemandangan senja kala itu akan luar biasa, saya memutuskan berangkat ke Pelabuhan Marina.Pelabuhan tersebut belum sepenuhnya jadi namun beberapa orang yang datang untuk memancing dan menikmati suasana sore hari di Provinsi paling timur di Pulau Jawa.  Sebelum saya pergi ke Pelabuhan Marina, terlebih dahulu telah membeli jajan di pinggir jalan pelabuhan pantai Boom berupa bakso bakar dan air mineral, mengingat di pelabuhan marina tidak ada penjual dan rasanya kurang jika menikmati senja hanya memandangi langit tanpa cemilan (setuju?).

pemancing yang duluan datang,
Sesampainya disana, para pemancing yang sudah lebih siang datang sudah duduk enak di pinggir pelabuhan menunggu umpannya dimakan ikan, kadang sambil mengobrol dengan pemancing sebelah, ada yang sibuk main hp, bahkan ada yg sibuk ngemil-ngemil kacang. Suara musik Banyuwangian terdemgar dari atas kapal Slerek – Kapal Khas Banyuwangi- yang dinyalakan sambil menunggu kesiapan berlayar mencari ikan dan kru kapal yang belum datang.
Perahu Slerek kecil Berlayar
Waktu terus berjalan, perlahan-lahan matahari menghilang di balik formasi gunung Marapi- Ijen- Gunung X – Raung, perlahan-lahan tak terasa bakso bakar sudah habis. Cukup beruntung kadang keempat gunung tersebut tertutup awan mendung tebal sehingga warna senja tidak begitu terlihat, namun kali ini cerah bebas awan. Saya pun bangkit berdiri mempersiapkan kamera yang dibawa beserta sudut foto yang enak dilihat. Satu persatu perahu Slerek berangkat keluar dari pelabuhan menuju laut. Lagu-lagu Banyuwangian masih terdengar keluar dari atas kapal-kapal tersebut. Sekilas saya tanya kepada pemancing. Memang pemilik kapal sengaja menaruh sound sistem agar kru nelayan tidak bosan saat melaut. Tengah Laut itu sepi!!

Jam menunjukan pukul 17.16 Langit yang berwarna biru pucat menjadi Jingga. Matahari yang tadinya sidah tenggelam dibalik Gunung seakan memaksakan sinar terakhirnya seakan tidak lagi ada hari esok. Yah hari esok memang misteri sih.
foto terakhir sebelum pulang, gemerlap kelap kelip lampu kota Banyuwangi
Lama-lama mulai gelap, lampu kota mulai menyala satu demi satu, angin mulai dingin mulai menusuk-nusuk kulit, saatnya saya pulang. Dan berniat bertemu matahari esok harinya di tempat ini. Di tunggu tulisan selanjutnya ya ^^



Memandangi senja dari Kota Banyuwangi cukup susah, mengingat lokasi pantai-pantai dekat kotanya menghadap ke sebelah timur yang notabene cocok sekali untuk menikmati pemandangan pagi hari. Namun ada beberapa lokasi yang bisa digunakan untuk menikmati pemandangan matahari terbenam atau senja, salah satunya yaitu di Rumah Apung Pantai Bangsring atau lebih dikenal Bangsring Underwater.

Rumah Apung letaknya berada mengapung di selat Bali dank arena keberadaannya tersebut Rumah Apung bisa leluasa memandangi pemandangan di kala senja, memandangi matahari yang perlahan-lahan turun ke balik Gunung Marapi dan Gunung tidak tahu namanya (sebut saja X), menikmati angin di selat balik yang cukup sejuk di saat itu.  Rumah Apung merupakan fasilitas yang ada di Pantai Bangsring atau Bangsring Underwater. Rumah Apung ini merupakan penangkaran Ikan-ikan Hiu yang terjaring jaring nelayan setempat. Ikan hiu nya berjenis ikan hiu sirip hitam ini akan dilepas kembali jika dinilai sudah siap dan sembuh dari luka-luka jaring. Di rumah apung juga terdapat penangkarang Lobster yang cukup besar ukurannya.
Rute Menuju Rumah Apung dari Kota BanyuwangiPerjalanan kurang lebih 30 menit dari Kota Banyuwangi. Rutenya Kota Banyuwangi menuju ke Pelabuhan Ketapang, setelah melewati Pantai Watudodol akan ada Pom Bensin Kiri jalan, lewati pom bensin bertemu tikungan sampai nanti akan ada pertigaan kecil dengan Tulisan Rumah Apung atau ZPT (Zona Perlindungan Setempat), masuk kedalam pertigaan kecil tersebut  ikuti saja jalan tersebut dan petunjuk jalan yang ada untuk sampai di Pantai Bangsring atau Rumah Apung Bangsring. Tidak dipungut biaya masuk, hanya biaya parkir saja sebesar Rp.2000 untuk motor dan mobil Rp.5000 (kalau tidak salah).
pantai Bangsring
Jasa Perahu ke Rumah Apung
Dari pantai Bangsring, kita bisa menyewa jasa perahu penyebrangan ke Rumah Apung sebesar Rp. 5000  saja untuk Pergi-Pulang. Jika kalian ingin berenang-renang terlebih dahulu atau berenang di penangkaran Hiu, sewalah pelampung dan alat snorkel seharga 30 rb. Karena saya datang sudah sore yaitu jam 4 Sore, saya tidak memutuskan berenang, toh tidak bawa baju ganti juga.  Sesampainya di Rumah Apung Bangsring, terlihat ada rombongan keluarga sedang asik bermain air, snorkeling dan beberapa ada yang berenang di Penangkaran Hiu. Kadang mereka histeris, ketika hiu menyenggol badan atau kaki mereka, Kyaaaa.

Penangkaran Hiunya
Cuaca sore itu cukup mendukung, Cerah, sampai-sampai Gunung Baluran juga bterlihat dari jejauhan. Rombongan keluarga yang tadi memutuskan untuk kembali ke pantai karna khawatir masuk angin, angin diselat bali dalam keadaan basah sedikit dingin menusuk-nusuk kulit. Saya ditemani perahu terakhir dan meminta izin untuk mengabadikan senja dan Intinya jangan ditinggal Pulang >_<. Matahari ternyata turun diantara celah Gunung Marapi – X, agak mengingatkan saya dengan gambar legendaris Jaman SD 90an. Alhamdulillah bisa dipertemukan senja yang indah ini.
Gambar Legendaris Jaman SD, Tapi bukan Sawah :D
Matahari sudah di Balik Gunung, namun langit malah baru menampakan warna Jingga, seakan mengerti, operator kapal mempersilahkan saya untuk lebih lama lagi jika mau disini (dan tidak ditinggal pulang). Sambil mengabiskan waktu senja, kami mengobrol tentang bangsring dan tentang daerah Banyuwangi yang mulai perlahan bangkit menampakan dirinya. Kami rasa sudah cukup,terlalu lama di Rumah Apung, walau langit masih menampakan warna Jingga tapi waktu terus berjalan, waktu untu Sholat Magrib makin berkurang.

Perjalanan Pulang ke Pantai, masih sempet aja moto >_<