Es Kelapa Muda atau lebih dikenal dengan nama Es Degan memang enak dinikmati pada cuaca terik kota Banyuwangi. Namun disudut sebuah desa di Banyuwangi, terdapat warung bakso yang menjajakan makanan yang tidak biasa yaitu Bakso Degan atau disebut Juga Bakso Kelapa Muda.

Warung Bakso bernama warung Bakso Mba Tatik yang terletak di Dusun Karang Sari, Desa Segobang Kecamatan Licin, Banyuwangi. Di desa tersebut terdapat banyak pohon-pohon kelapa sehingga tidaklah aneh jika Mba Tatik mencoba berjualan Bakso Kelapa Muda karena bahan berupa Kelapa Mudanya mudah didapat di Desa mereka. Bakso Kelapa Muda buatan Mba Tatik ini terbilang berani dan baru karena mulai dijual pada bulan Januari. Untuk saat ini Warung Bakso Kelapa Muda mba Tatik ini adalah satu-satunya di Banyuwangi sehingga jika kalian ingin mencobanya harus siap blusukan ke Desa Segobang, Licin.

penampakan warung bakso Mbak Tatik
Rute ke Warung Bakso Degan Mbak Tatik
Rute menuju Warung Bakso Kelapa Muda Mba Tatik dari Kota Banyuwangi hanya memakan waktu sekitar 20-30 menit saja dengan pemandangan khas desa yang memanjakan mata. Dari Simpang Lima Banyuwangi  ambil ke arah barat menuju Kawah Ijen – Melewati Rel Kereta Api – Patung Barong –Desa Olehsari – Kantor Kecamatan Glagah –Angkringan Piyu – Mentok di Pertigaan Licin ambil ke kiri (jika ke kanan ke Kawah Ijen) – Ikuti jalan tersebut melewati pertigaan Omah Joglo – Hutan Rakyat –Dusun Karangsari – saat memasuki Dusun Karang Sari Desa Segobang pelan-pelan saja nanti ada masjid Kanan jalan – setelah masjid ada warung bakso dengan spanduk bergambar Bakso Kelapa Muda

sederhana
Warung Bakso Mbah Tatik cukup sederhana, bergabung dengan warung toserba, ada dua meja panjang dengan kursi plastik terpisah-pisah untuk pengunjung yang ingin menikmati Bakso Kelapa Muda, Bakso Biasa dan Mie Ayam buatannya. Sambil menunggu pesanan Bakso Kelapa Muda, saya memperhatikan cara membuat Bakso Kelapa Mudanya. Air kelapa muda yang sudah dibuka dimasukan kedalam panci dan dipanaskan, sambil menunggu kuahnya panas kelapa muda yang sudah dikupas diisi dengan bihun, daun seledri, bawang dll berikut juga baksonya. Setelah sudah siap air kelapa muda yang sudah panas dituangkan kembali kedalam buah kelapa yang sudah siap. Lalu Bakso Kelapa Muda tersebut siap dihidangkan.
kelapa muda dibuka terlebih dahulu
siap disajikan kepada pembeli

Pertama kali yang saya coba adalah kuahnya, iya kuahnya rasanya menarik, kuah bakso bercampur dengan air kelapa muda menurut lidah saya cocok. Mulai dengan menambahkan sambel, saus tomat dan kecap, rasa kuahnya berubah kembali dan rasanya juga unik. Makan bakso kelapa muda pun tidak seperti makan bakso dengan mangkuk pada umumnya. Lubang dari buah kelapa yang tidak terlalu besar membuat kami sebagai penikmat bakso antusias menyeruput kuah, memotong bakso bahkan menyerut daging buah kelapa tersebut.
bakso degan Banyuwangi
Untuk kalian yang ingin mencobanya bisa langsung ke warung bakso mba Tatik tersebut di dusun Karangsari, Desa Segobang Kecamatan Licin, Banyuwangi. Warung tersebut buka dari jam 9 pagi hingga 8 malam. Harga 1 porsi Bakso Kelapa Muda hanya Rp. 15.000 rupiah saja. Sehabis makan bakso bisa juga mampir ke Air Terjun Pakudo yang letaknya tidak jauh dari Warung Baksonya. Sekilat tentang air terjun Pakudo bisa dibaca disini -->> Air Terjun Pakudo, Banyuwangi

air terjun Pakudo, Desa Segobang, Licin, Banyuwangi :D


Air Terjun Jagir :D
Mandi Pagi di hari libur itu malasnya minta ampun. Yahh, jika flashback sekian puluh tahun saat masih kecil, mandi pagi itu pantangan karena banyak godaan berupa film kartun penuh hampir setengah hari. Sampai ada quote “udah bosan mandi, gerakannya itu-itu aja”, ada juga yang bilang “ngapain mandi nanti kotor lagi” dan digali lebih jauh, selalu saja ada alasan-alasan baru untuk malas mandi. Mengatasi kebosanan yang meyebabkan malas mandi mungkin karena bukan gerakannya itu-itu aja tapi kalian butuh tempat baru untuk mandi, salah satunya mandi di alam bebas. Seperti pengalaman saya mandi pagi-pagi di Air Terjun Jagir Banyuwangi XD

Air Terjun Jagir terletak di Dusun Kampunganyar, Desa Taman Suruh, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Air terjun ini merupakan destinasi unggulan karena dengan mengunjungi tempat ini kalian dapat melihat 3 air terjun sekaligus dalam satu tempat dan  jaraknya berdekatan. Air terjun ini lokasinya cukup strategis, dekat dari pusat kota Banyuwangi, dan sejalur dengan wisata ke kawah ijen, kondisi jalan yang aspal, melewati perkampungan, pemandangan area persawahan dan  gunung Marapi dan Meranti yang kadang terlihat megah.
Rute ke Air Terjun Jagir dari Kota BanyuwangiUntuk menuju ke air terjun Jagir dari kota Banyuwangi cukup mudah, arahkan kendaraan ke simpang lima kota Banyuwangi lalu ambil arah barat – melewati stadion pangeran diponegoro- perempatan lampu lalu lintas masih ambil lurus ke barat – melewati pintu rel kereta api – pertigaan patung barong smbil lurus ke barat ke arah perkebunan kalibendo – melewati DesaWisata Kemiren – dari sini tinggal ikuti jalan tersebut saja sekitar 15 menit jalan santai nanti saat memasuki Dusun Kampunganyar akan ada tulisan/petunjuk “Air Terjun Jagir atau Parkir Air Terjun” – parkirkan kendaraan lalu jalan sebentar menyelusuri jalan setapak yang sudah ada.
pemandangan air terjun saat menuruni jalan setapak
Sehabis sunrise di pinggir pantai, saya mengarahkan kendaraan menuju air terjun Jagir lewat rute yang sudah dijelaskan diatas. Lama tempuh dari Banyuwangi kota sampai ke Air Terjun ini sekitar 15- 20 menit saja. setelah sampai parkir kendaraan, saya langsung bergegas mengayunkan langkah kaki menuruni jalan setapak, suara gemerincik air terjun sudah terdengan indah, apalagi karena masih pagi hari suara-suara burung berkicau merdu menyapa kedatangan saya.  Sesaat angin berhembus melewati dasar lembah,  membuat tanaman bambu yang ada disekitar air terjun seakan ikut “berkicau”.
berenang :D
Air terjun Jagir  memiliki ketinggian sekitar 10 meter. Tebingnya ditumbuhi oleh sejenis tumbuhan merambat yang bisanya ada disekitar air terjun. keberadaan air terjun tersebut menambah pesona air terjun Jagir.  Airnya berasal dari sumber mata air yang mengalir sepanjang tahun pertanda siklus air di sekitar wilayah ini masih terjaga dengan baik. Air dari sumber air tersebut sebagian ada yang terjun menjadi air terjun Jagir, sebagian juga dialirkan ke pipa PDAM, bangunan kamar mandi untuk warga setempat - pengunjung, dan sebagian mengalir jatuh pada tebing yang lain. Karena hal itu air terjun ini juga disebut air terjun kembar karena dalam satu tebing dapat dilihat dua air terjun. Air dari sumber air tersebut mengalir kebawah namun tidak langsung bergabung menyatu besama aliran sungai, namun jatuh terlebih dahulu ke dalam kolam semi alami lalu  berlanjut mengalir ke sungai. Kolam semi alami ini kedalamannya hanya sekitar 1 meter menjadi favorit pengunjung terutama saya.

terapi digigit ikan :p
Pagi hari jam 6 pagi, kondisi air terjun masih sepi sekali, saya sering menjadi pengunjung pertama yang datang, kadang pula sudah ada warga sekitar yang mengantarkan anaknya mandi, berenang dan bermain air di kolam semi alami air terjun Jagir ini. Kolam semi alaminya jernih, dasarnya pun sampai terlihat jelas, bahkan ada banyak ikan kecil-kecil hidup di kolam tersebut. Jika kita duduk di tepi kolam alami dengan menaruh kaki ke dalam air, gerombolan ikan-ikan kecil menggigiti kaki layaknya terapi digigit ikan yang sempat naik daun sekitar beberapa tahun yang lalu.

air terjun satunya yg berada 10 meter sebelah timur air terjun jagir
Pose hits Instagram katanya :p
Setelah puas foto-foto dan mengamati sekitar air terjun, saya memutuskan untuk bermain air menikmati air terjun ini layaknya milik sendiri karena belum ada orang yang datang. Sesekali saya meneguk teh panas yang biasanya sudah saya siapkan dari rumah sebelum berangkat melihat sunrise dan main ke air terjun ini. Sambil menikmati teh, tersirat doa yang cukup egois “semoga pengunjung  yang datang setelah saya datangnya jam 9 saja :D”.
buat yg pengen menggelar tikar piknik bisa disini
Air terjun ini menurut saya memiliki fasilitas yang lengkap, warung penjaja makanan-minuman  yang letaknya diatur tidak terlalu dekat dengan air terjun sehingga pengunjung yang datang benar-benar menikmati suasana air terjun yang asri. Fasilitas kamar mandinya cukup baik dengan bangunan permanen, terdapat pula semacam tempat untuk menggelar tikar di sebrang sungai dengan pemandangan air terjun tersebut.

Letaknya yang tidak jauh dari Kota Banyuwangi membuat tempat ini saya rekomendasikan untuk kalian kunjungi. Apalagi buat kalian yang bosen sama gerakan mandi yang itu-itu aja XD.


Spot Sunrise Jogja, Bukit Paguk Kediwung
Pagi Jogja.
Dari dulu emang paling asik nyelusuri daerah mangunan, dlingo pagi-pagi. Bedanya kalau sekarang banyak warga setempat membuat tempat asik untuk menikmati pemandangan di pinggir jurang sungai Oya, pemandangan lautan kabut atau yang sering disebut negeri di atas awannya bantul :D. Salah satu tempat yang asik itu salah satunya adalah Bukit Panguk Kediwung.

Bukit Panguk Kediwung letaknya di Dusun Kediwung, Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Bantul, Jogja. Bukit ini perlahan-lahan menjadi ramai dan menjadi viral media social  tahun 2016 silam karena pemandangan paginya dengan lautan kabutnya, panorama hijau perbukitan dan aliran air sungai Oya yang membelahnya, serta hawa sejuk pagi-pagi yang rasanya benar-benar menyegarkan jiwa. Siapa yang tidak senang berada disana pagi-pagi.

klo udah deket kebun buah mangunan, ada papan petunjuk jalannya
Rute Menuju Bukit Panguk Kediwung dari JogjaDari Kota Jogja arahkan kendaraan ke terminal Giwangan lalu di lampu lalu lintas terminal giwangan ambil arah ke selatan, ke jalan Imogiri Timur- Ikuti jalan tersebut sampai mentok hingga menemukan pertigaan dengan papan petunjuk Kebun Buah Mangunan – Ikutin rute petunjuk ke kebun buah mangunan – ketika sampai di dekat gerbang kebun buah mangunan akan ada petunjuk menuju Bukit Panguk Kediwung, ikuti petunjuk tersebut – ikuti jalan turundi depan gerbang kebun buah mangunan- melewati Jurang Tembelan – melewati Bukit Moko dan akhirnya sampai diparkiran Bukit Panguk Kediwung.

lokasi parkir dan rimbunan pohon jati 
Untuk masuk ke kawasan wisata tersebut kita hanya ditarik retribusi parkir sebesar Rp. 3.000 untuk sepeda motor mungkin kalau kalian membawa mobil ditarik retribusi sebesar Rp. 5.000. Bukit Paguk cukup hijau, ditumbuhi oleh rimbunan pohon jati. Mungkin saat musim kemarau tiba rimbunan pohon jati ini mulai hilang karena daunnya meranggas gugur berjatuhan. Jika melihat jauh ke arah timur kita bisa melihat lautan kabut sudah menyapamu, bergerak perlahan-lahan mengikuti aliran angin yang ada disana. Saat itu kabut tersebut bergerak searah aliran sungai.

diujung jurangnya :D
Jiwa rasanya sudah tidak sabar mencapai ujung jurang sebelah timur, dimana lautan kabur mengalir dengan indahnya dengan warna-warna jingga pagi. Segera melangkahkan kaki mencari jalan setapak yang aman untuk dipijaki karena hujan semalam membuat sebagian jalan tanah cukup licin. Di ujung jurang sebelah timur ada beberapa dermaga kayu yang dibuat sebagai spot foto. Dermaga kayu terbuat sederhana, dari kayu-kayu lokal dari hutan rakyat setempat namun dipasang cukup kokoh dan kuat. Dermaga kayu yang kecil, hanya bisa menampungl 2 orang saja, sehingga saat ramai seperti hari minggu tidak bisa lama-lama karena masih banyak yang ingin berfoto saat moment matahari terbit dan saat lautan kabutnya muncul. Pada ujung sebelah kanan jurang, ada dermaga kayu yang cukup besar yang muat beberapa orang sehingga jika ada yang mau foto sekeluarga masih muat banyak :D.
kabut buatan :v


pemandangan kalau ga ada kabutnya :D


Dermaga kayu yang buat rame2
pemadam kelaparan
Fasilitas yang ada di Bukit Panguk Kediwung menurut saya sudah memadai, terdapat warung penjaja makanan minuman yang siap memadamkan rasa lapar kalian yang datang pagi-pagi dan belum makan dari kemarin. Area parkir cukup luas, bisa memuat banyak mobil dan kendaraan bermotor. Fasilitas kamar mandi pun sudah tersedia. Namun karena wisata ini masuk wisata blusukan, jalan yang ditempuh ketika memasuki kawasan desanya bukan berupa aspal bagus, jalannya tidak lebar sehingga bis besar sudah dipastikan tidak bisa masuk kesana.

datanglah bersama keluarga atau rekan2 tercintamu
Bukit Panguk Kediwung ini menurut saya rekomended buat kalian kunjungi, pagi-pagi. Jika ingin mencoba melihat sunrise dan kabut pagi di bukit panguk kediwung ini berangkatlah pagi jam 4 pagi dari Jogja. Dengan lama perjalanan sekitar 1 jam lebih, kalian akan sampai sekitar jam 5-an sehingga punya waktu bersantai, menghirup udara segar, mencari posisi yang enak untuk menikmati matahari terbit.
Selamat menikmati pagi di Bukit Panguk Kediwung ya :)
dua foto panorama pagi kiriman dari si nove :D


Panorama Air Terjun Temcor
Songgon masih masuk list wilayah Banyuwangi yang penasaran ingin dijelajahi lebih lagi. Jika diliat dari bentang alamnya terletak di kaki gunung raung, bisa dibilang pasti banyak panorama indah yang ada disana termasuk juga Air Terjun.

Air Terjun Temcor, atau masyarakat disana juga menyebutnya air terjun  Kembang Arum.  Air terjun ini terletak di Dusun Sumber Arum, Desa Sragi, Kecamatan Songgon, Banyuwangi. Air tejun ini cukup unik, berada di jurang yang dikelilingi persawahan. Air sungai yang membelah persawahan itulah yang jatuh ke bibir jurang membentuk air terjun dan sungai kecil baru.

Rute menuju air terjun Temcor atau air terjun Kembang Arum
Air Terjun ini searah jika kita mau menuju air terjun telunjuk raung, air terjun lider atau air terjun selendang arum. Rutenya daari kota Banyuwangi – Bunderan Patung Kuda – Jalan utama ke Jember – Kabat – Rogojampi – pertigaan kantor pos Rogojampi ambil kanan ke arah songgon – ikuti jalan tersebut melewati pasar Songgon – Pertigaan kedua ambil yang ke arah Sragi – Ikuti Jalan utama saja hingga mentok pertigaan jika ambil ke kiri kearah genteng ,kita ambil ke kanan – Kantor PKK Sragi - melewati pertigaan air terjun lider – nanti di kanan jalan ada papan pondok pesantren Assidiqiyah ambil gang masuk ke kanan – ikuti jalan tersebut hingga mentok – kendaraan bisa dititipkan di rumah warga. Setelah parkir kendaraan, kita tinggal melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melewati pematang sawah.
melintasi pematang sawah

pemandangan dari bibir jurang
Menuruni Jalan Setapak Menuju Dasar Jurang
Treking menuju Air Terjun Temcor atau air terjun kembang arum cukup seru, pertama kita akan melewati pematang sawah milik warga desa sekitar. Petunjuknya tidak ada kita hanya berjalan menuju lokasi dimana air irigasi sawah mengalir yang merupakan bibir jurang. Dari bibir jurang sudah terdengar  suara dan terlihat air terjun temcor dari kejauhan. Sungai kecil diatasnya mengalir membelah area persawahan yang ada lalu jatuh ke ke jurang membentuk air terjun Temcor. Menuruni Jurang harus ekstra hati-hati, karena jalan turunnya tidak dibentuk mirip tangga dan ruangnya cukup sempit. Saat saya kesana jalan menuruni jurang cukup licin karena masih basah, akhirnya saya menuruninya dengan sedikit merosot :p. Hati terenyuh juga melihat bocah-bocah desa yang berangkat bersama ke air terjun menuruninya dengan santai :D

air terjun Temcor
Sesuai namanya, Air Terjun Temcor berasal dari kata madura yaitu "Temor Cora" yang artinya Timur Jurang. Mungkin karena air terjun ini berada di sebelah timur Jurang dari desa tersebut. Jika dilihat dari dekat, air terjun Temcor lumayan tinggi. Kemungkinan air terjun ini memiliki ketinggian 10 meter. Air terjun yang jatuh dari sungai menuruni tebing cukup lebar sehingga membentuk banyak air terjun dan gemerincik air yang jatuh. Pada sisi di sebelah kiri merupakan air yang jatuhannya paling deras dan semakin ke kanan air yang turun dari tebing mengalir tidak deras. Tebing air terjunnya cukup  unik karena ditumbuhi oleh tanaman merambat. Air dari air terjun Temcor ini mengalir kembali mengikuti alur sungai kecil.
tebing yang ditumbuhi oleh tanaman merambat
Anak-anak desa sekitar
Kebetulan rombongan kami datang bersama anak-anak desa sekitar yang sepertinya habis mengambil hasil bumi berupa dedaunan yang ada di sekitar air terjun ini untuk dimasak. Anak-anak dengan riang bermain bahkan ada berfoto-foto dengan HP yang mereka bawa. Saya berpikir, enak juga mereka dengan masa kecil yang di kelilingi alam yang bagus. Berbeda dengan saya dulu, yang tumbuh berkembang di daerah ibukota. eh “Sawang Sinawang ya”.

Setelah puas, kami kembali naik menuju desa. Menaiki jurangnya juga butuh perjuangan lagi, karena habis hujan kondisi tanah cukup licin. Lagi-lagi saya tereyuh, anak-anak desa sekitar naik dengan santainya :D. Sesampai di Desa kami mengisi kembali tenaga dengan makan bakso dan ngemil gorengan enak di sekitar tempat kami menitipkan kendaraan.


ladang sekitar air terjun jangan diinjak2 ya 
Yah akhir tulisan dapat saya menutup bahwa air Terjun Temcor perlu kalian coba apalagi bagi kalian yang suka medan yang menantang. Air Terjun Temcor belum dikelola, sehingga belum ada fasilitas yang memadai seperti kamar mandi ataupun tempat sampah. Namun karena belum adanya fasilitas membebaskan para pengunjung air terjun ini juga membuang sampah sembarangan. Bawa saja kembali sampahnya, nanti dibuang di tempat sampah yang ada di desa. Dan jagalah kesopanan dan hati-hati agatr tidak menginjak dan merusak area persawahan sekitar air terjun. 
Kucing namanya Gorah :D
Pantai Boom, pantai yang cukup terkenal di Banyuwangi karena keindahan “sunrise”nya juga karena letaknya yang mudah dijangkau dari kota Banyuwangi. Pantai Boom juga menyimpan keunikan lainnya terutama bagi anda pecinta hewan kucing.

Sudah lama saya memperhatikan banyaknya jumlah kucing di sekitar pantai Boom, dari jalan masuk sampai di tepian pantainya. Bahkan beberapa kucing yang suka “ndusel-dusel” atau bertemu disekitaran pantai boom saat saya menikmati pagi dan sore, saya beri nama versi saya sendiri seperti si Kantong yang suka masuk-masuk kantong plastik sisa sampah pengunjung pantai yang lupa membuang sampahnya di tempat yang tepat.

jinak nih :D
si kantong, masih belum bergerak nyari sarapan
kucing yg tengah terluka katanya kesiram air panas
Kucing-kucing disini hampir sebagian besar cukup jinak dan bisa dipegang dan dielus-elus. Namun beberapa diantaranya menghindari manusia terutama anak kucing. Beberapa kucing terlihat kondisinya memprihatinkan karena terdapat luka akibat  akibat kesiram air panas L. Bulan Oktober saya bertemu dengan kucing betina  berwarna dasar kuning, matanya bulat, dengan ekor pendek melingker. Sepertinya kucing tersebut merupakan kucing baru karena tidak terlihat pada bulan sebelumnya. Kucing terlihat cukup terawat, bulunya agak halus dan cukup jinak walaupun ragu-ragu (takut) untuk mendekati manusia.
si okta nyantai di pantai :D

orang baik yg kasih makan kucing
Sedikit penasaran untuk menyelusuri dunia perkucingan yang ada di pantai boom saya melakukan sering kali pengamatan (kaya mau skripsi aja >_<). Bukan pengamatan  dink hanya melihat lebih jeli dan lebih dekat dengan kucing-kucing yang ada di pantai boom. Kucing-kucing ini punya kebiasaan menarik yaitu muncul dan berkumpul ditepian jalan secara bersamaan pada pagi hari dan sore hari menjelang magrib. Setelah saya ketahui ternyata pada waktu tersebut ada orang baik yang secara rutin memberi makan berupa ikan-ikan laut. Pernah pula saya lihat mbah-mbah yang mengepulkan ikan  dari nelayan, memberi sebagian hasil tangkapannya kepada beberapa kucing di sekitar parkiran. Mbah tersebut mengumpulkan kucing-kucing hanya dengan dua-tida tepuk saja (tepuk kucing) kucing-kucing yang mendengar sekejap berlarian dan perkumpul disekitar mbah-mbahnya. Sepertinya kucing-kucing tersebut terbiasa mendengar tepukan.

kebiasan pagi dan sore menunggu yang ngasih makan

kebiasan pagi dan sore menunggu yang ngasih makan
Berdasarkan cerita dari ibu penjaja warung yang ada di pantai boom, banyak kucing-kucing di pantai boom merupakan kucing buangan dari daerah lain. Mungkin karena banyak kucing di sekitar pantai boom mereka membuangnya disana. Padahal makanan untuk kucing tidak datang sendirinya. Menurut cerita ibunya, ada pula yang menitipkan kucing kepadanya karena tidak tega membuangnya. Ibu tersebut menerimanya dan hingga terakhir saya lihat kucing tersebut masih ada di sekitar warung ibunya. Ibunya juga cerita bahwa ada yang membuang kucing cukup jahat dengan memisahkan indukan kucing dengan anaknya. Walau sama-sama di pantai boom, bisa dibayangkan kecamuknya pikiran induk kucing tanpa anaknya dan anak kucing tanpa induknya tersebut.

Pengunjung pantai boom juga tidak lepas dari keluarga yang membawa anaknya untuk menikmati pantai, menyuapinya sarapan atau makan sore. Adanya keberadaan kucing-kucing liar di pantai boom sebenarnya bisa saja menjadi pendidikan anak yang tidak dapat di sekolah terutama pendidikan menyayangi sesama mahluk ciptaan Tuhan.

adik2 warga setempat 
Tulisan ini saya buat mungkin nanti ada para pembaca yang hendak berkunjung ke Banyuwangi  terutama menikmati sunrisenya pantai Boom bisa sekalian membawa sedikit makanan untuk di makan oleh kucing-kucing liar yang terlantar. Bagi yang tidak suka akan kucing, bisa mengabaikan kucing-kucing liat tersebut karena kucing tersebut  pastinya tidak mengganggu kesenangan kalian menikmati pemandangan pantai boom banyuwangi J

Berhentilah menandai peta, biar hatimu yang memandu..

Awalnya kami berangkat main dengan tujuan main ke air terjun Kedung Angin dengan rute melewati hutan rakyat yang ada di daerah licin. Baru setengah perjalanan kami terhenti akibat adanya tulisan petunjuk jalan menuju Air Terjun Pakudo. Kami putuskan untuk ikuti kata hati yang penasaran untuk melihat air terjun ini. Tidak menyesal :)

Air Terjun Pakudo berada di bawah tebing sungai yang diapit oleh hutan rakyat dan area persawahan yang berada pada wilayah Dusun Krajan, Desa Segobang, Kecamatan Licin, Banyuwangi.  Air terjun ini tidak terlalu tinggi, jatuh dari atas tebing setinggi 15 meter. Air terjun ini mempunyai aliran yang besar terlebih lagi pada musim penghujan dan tentunya aliran airnya agak keruh dan kadang bisa berwarna coklat.
petunjuk jalan dari jalan utama menuju masuk area persawahan
Rute untuk menuju ke Air Terjun Pakudo dari Kota BanyuwangiDari Simpang Lima Banyuwangi ambil arah barat ke arah Kawah Ijen – melewati rel kereta api sasak perot – patung barong – desa olehsari- gapura desa kenjo – angkringan piyu – pasar licin ambil kiri menuju arah Rogojampi atau Pakel. Ikuti jalan tersebut hingga bertemu hutan rakyat – perhatikan petunjuk jalan sebelah kiri jalan akan menemukan papan petunjuk jalan ke air terjun Pakudo – ikuti saja petujuk jalan tersebut menyelusuri pematang sawah sekitar 10-15 menit sampai menemukan kebun kecil – masuk kebun tersebut untuk memarkirkan kendaraan setelah itu tinggal berjalan menyelusuri pematang sawah menuju sungai yang ada dibawah lalu akan sampai ke air terjun Pakudo.

turunan curam agak berbahaya, untung udah di cor
Akses jalan ke Air terjun ini agak sulit, hanya bisa ditempuh oleh kendaraan roda dua saat memasuki jalan pematang sawahnya. Jika ditempuh pada saat musim hujan atau pada hari sebelumnya turun hujan karena jalanan pematang sawah akan becek membuat motor yang kita bawa bisa ngetril. Untungnya saat kami menuju air terjun, jalan tanah tidak terlalu becek sehingga cukup mudah melewati hingga ke tempat parkir/penitipan motor.
kebun di tengah sawah, tempat nitip motor
sepi dan tidak terlihat pengunjung selain kam
Sepi…
Air terjun terletak dibawah rerimbunan bambu dan beberapa pohon tinggi sehingga disekitarnya nampak sejuk. Air mengalir dengan derasnya jatuh kebawah membentuk sebuah kolam yang saya prediksi sepertinya dalam dan membentuk sebuah kedung. Lebih baik untuk tidak berenang ke tengah atau ke bawah air terjun karena kedalaman airnya tidak bisa terukur. Tebing dari air terjun tersebut ditumbuhi tumbuhan yang merambat sehingga menambah nilai keindahan dari air terjun Pakudo.
tumbuhan merambat memenuhi dinding tebing
Jika diperhatikan, dalam perjalanan menuju ke air terjun Pakudo, dan di sekitar air terjun Pakudo terlihat banyak pohon Durian yang sayangnya belum musimnya berbuah. Mungkin ketika datang saat musimnya, kita bisa membeli Durian untuk dibawa pulang atau makan langsung dengan nuansa  alam air terjun Pakudo, Nikmat sekali rasanya. Katanya sih musim durian akan datang sekitar bulan Februari-Maret.

air terjun pakudo di batasantara sawah dan hutan
Hingga saat ini saya penasaran dengan nama Pakudo. Biasanya orang jawa memberikan nama  dengan artinya, seperti air terjun Pertemon yang artinya pertemuan. Sedangkan Pakudo hingga saat ini kami belum bisa menemukan artinya. Saya pun lupa bertanya pada warga setempat mengenai asal muasal air terjun Pakudo. Pendapat saya Air Terjun Pakudo mungkin adalah sebuah singkatan. Menurut pendapat saya, Pakudo merupakan singkatan seperti “PAnjatkan namaKU di DOamu” "PA tuKU DOren" :p. Yah sepertinya saya harus kesana lagi menanyakan adakah arti dibalik nama Pakudo. Penasaran juga sama Durian di daerah sana, penasaran juga sama Pakudo saat airnya jernih :D.
tim blusuk :p

Tertarik mencoba ke air terjun Pakudo?




Sudah jatuh cinta sama Bantul, terutama daerah perbukitan Dlingo yang mempunyai bentang alam yang indah, apalagi pemandangan di tepian Jurang Sungai Oya.

Jurang Tembelan letaknya bersebelahan dengan puncak kebun buah mangunan juga merupakan salah satu spot menarik menikmari pemandangan tepi jurang sungai Oya. Dahulu tempat ini merupakan ladang dari masyarakat sekitar dlingo namun kemudian di buka warga setempat untuk diusahakan menjadi wisata menikmati pemandangan alam. Jurang Tembelan ini tergolong tempat wisata baru di bantul yang mulai hits karena adanya spot selfi gardu pandang berbentuk kapal dengan pemandangan kabut, perbukitan lembah dan lika-liku sungai Oya.

Rute menuju Jurang Tembelan dari Kota JogjaJurang Tembelan terletak di Dukuh Kanigoro, Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantu Yogyakarta. Dari kota jogja ke Jurang Tembelan menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam. Rute dari Kota Jogja ke Jurang Tembelan cukup mudah, arahkan kendaraan menuju Terminal Giwangan – Melewati Terminal Giwangan – Lampu Lalu Lintas Ring Road Selatan ambil lurus ke selatan menuju Jalan Imogiri Timur – Ikuti Jalan Imogiri Timur Sampai Mentok Pertigaan pasar Imogiri ambil kiri jalan lalu tinggal ikuti petunjuk Jalan Ke Kebun Buah Mangunan – Sampai Depan Tulisan Besar Kebun Buah Mangunan Lurus Sedikit sekitar 100 meter sudah terlihat parkiran kecil bertuliskan Jurang Tembelan.

Kami berangkat jam 5 pagi dan sampai disana sekitar jam 6 kurang. Karena jalan pagi2 belum ramai jadi terasa cepat. Setelah memarkirkan kendaraan dengan rapi, kami langsung berdiri di tepian pagar, menikmati terpaan angin pagi yang menyapa jurang, membawa kabut kecil-kecil seperti gumpalan awan.  Ada dua spot selfie berupa gardu pandang kayu yang salah satunya cukup hits ata tenar di IG yaitu gardu pandang berbentuk perahu. Ada juga gardu pandang yang bertumpu pada sebuah pohon sehingga view yang terlihat lebih tinggi.

totalitas nih masnya 
jangan lupa ajak pasangan halalmu >_<
ada juga sih yang datang sendirian :D

antrian foto kapal
Kebetulan kami kesana hari minggu pagi, kondisi ternyata sudah ramai, terlihat antrian di spot foto gardu pandang kayu cukup banyak.  Sambil menunggu, survey beberapa pose dengan memperhatikan beberapa yang sedang berfoto-foto. Beberapa orang ada yang totalitas banget, membawa kain khas Indonesia sepertinya kain tenun dari daerah Lombok-Sumbawa, ada juga yang membawa payung besar warna-warni hihi. Posenya cukup beragam, namun beberapa kali melihat pose “Titanic” :D. Antrian cukup tertib yang berfoto seperlunya saja, tidak terlalu lama. Karena keadaan teralu ramai, saya mengurungkan diri untuk foto dan kembali lagi mungkin nanti siang saat sepi.  Terdapat jalan menuruni Jurang Tembelan, disitu ada semacam tempat juga untuk menikmati pemandangan, tempatnya relatif sepi ,mungkin karena malas turun dan memilih menikmati pemandangan dari atas.

Fasilitas yang ada di Jurang Tembelan ini cukup lengkap, sudah terdapat tempat parkir, Toilet, Musholla, warung makanan dengan harga yang murah dan tidak terlampau mahal sehingga jika kita yang datang pagi-pagi kesini tidak perlu repot-repot menyiapkan makanan untuk pengganjal perut. Klo favorit pagi-pagi dingin sih enak pesan Teh Panas dan Gorengan ditemani  pemandangan rasanya sungguh memuaskan.

Warungnya
Ada saung-saung untuk bersantai
Jurang Tembelan bisa menjadi alternatif kalian untuk menikmati paginya Jogja yang syahdu selain Puncak Kebun Buah Mangunan. Mempunyai spot foto asik, dan fasilitas yang lengkap dan juga harga tiket masuknya masih Sukarela (Per-Desember 2016). Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan karena penasaran dengan Bukit Paguk Kediwung yang terkenal akan Spot Sunrise yang Cetar.

datang lagi siang hari, cuma g ada kabutnya :D

Tertarik mengunjungi Jurang Tembelan?