sisi timur teluk hijau
Pantai Teluk Hijau masuk dalam jajaran pantai terbarat kabupaten Banyuwangi setelah Sukamade. Kunjungan pertama kali ke pantai ini mendapatkan cerita yang cukup berkesan karena perjalanan tidak sesuai dari rencana awal :D.

Perjalanan menuju ke Pantai Teluk Hijau atau Green Bay menempuh perjalanan santai kurang lebih 3 Jam perjalanan dari Kota Banyuwangi. Dulu sempat saya pikir pantai ini dulunya tidak jauh dari pantai Pulau Merah karena terlihat dari peta tidak terlalu jauh. Ternyata dari pertigaan menuju pantai pulau merah ke Teluk Hijau memakan waktu yang cukup lama karena jalannya cukup rusak :D.

jalan rusak menuju Pantai Teluk Hijau :D
Rute Dari Banyuwangi menuju ke Pantai Teluk Hijau
Jika menggunakan kendaraan Pribadi  tinggal arahkan kendaraan anda searah menuju ke Pulau Merah.  Hanya saja nanti dipertigaan pulau merah setelah melewati pasar pesanggaran ambil arah Sarongan. Rute yang ditempuh Dari Kota Banyuwangi melewati Rogojampi-Srono-Benculuk-Jajag-Pesanggaran-Perkebunan Sungail Lembu-Sarongan-Pantai Rajegwesi-Parkiran ke Teluk Hijau.

Jika kalian menggunakan Angkutan Umum bisa naik Bis dari terminal Brawijaya mengambil jurusan Pesanggaran atau bis yang melewati Jajag. Turun Di Jajag lalu pindah bis Damri Jurusan Jajag-Sarongan. Menurut info yang saya dapat bis Damri Jajag-Sarongan berangkat jam 12 siang dan akan sampai di Terminal Sarongan sekitar jam 15.00-16.00. Karena sudah sampai terlalu sore untuk ke teluk Hijau dianjurkan untuk menginap dahulu di homestay setempat atau dari terminal Sarongan bisa naik ojek ke pantai Rajegwesi untuk mendirikan Tenda. Sampai saat ini ada larangan mendirikan tenda menginap di Pantai Teluk Hijau.
naik perahu jukung dari pantai Rajegwesi
jalan ke lokasi parkir kendaraan untuk tracking teluk ijo
Ada dua pilihan menuju Pantai Teluk Hijau yaitu dengan menggunakan Jukung atau Kapal Nelayan di Pantai Rajegwesi atau Tracking menembuh hutan Taman Nasional Meru Betiri dengan lama tempuh sekitar 45 menit. Jika memilih menggunakan Jukung, kita akan diminta uang jasa antar sebesar Rp.35.000 per orang (harga Update per Mei 2017). Namun yang harus diperhatikan adalah jika ombak sedang ganas atau besar, Jukung ini tidak mengantarkan kalian ke Teluk Hijau. Itulah yang terjadi pada saya yang niatnya ingin menggunakan Jukung penyebrangan namun tidak bisa karena ombak senang ganas-ganasnya.

parkiran kendaraan jalan tracking ke teluk ijo
kondisi jalan trackin ke teluk hijau
Perjalanan tracking menelusuri hutan TN Merubetiri menuju Teluk Hijau cukup menyenangkan kok. Jalan relatif aman karena sudah dipasangi tali tambang untuk berpegangan dan papan petunjuk jalan lengkap. Berangkatnya kita memang disugihi pemandangan laut yang terlihat dari celah-celah pepohonan dan jalan menuruni bukit kecil yang membuat kita berpikir bagaimana nanti jalan tanjakan saat pulangnya. Dari pada berpikir itu lebih baik membeli air secukupnya buat pulangnya di lokasi parkiran. Pada jalan setapak di hutan ada beberapa ruang yg bisa di pakai untuk duduk beristirahat.
pantai batu, airnya bercampur muara sungai
pantai batu, pantai yang dipenuhi batu
Sesampainya di bawah kita sudah disambut dengan deburan ombak, namun jangan terlalu senang ini adalah pantai Batu, pantai yang memiliki banyak Batu-batu yang berserakan disepanjang pesisir pantai. Pantai ini juga terdapat muara dari aliran air dari atas gunung sehingga air laut sudah bercampur dengan aliran air tersebut yang membuat warna air laut tidak terlalu biru. Jika lelah kita bisa beristirahat di pantai ini terlebih dahulu.

setelah melewati pantai Batu, kita sampai di Teluk Hijau yeyy :D

Pantai Teluk Hijau letaknya berada disebelah pantai Batu. Tinggal ikuti jalan setapak sekitar 5-10 menit anda akan disapa dengan laut berwarna kehijau-hijauan. Itulah asal muasal kenapa pantai tersebut di sebut Teluk Hijau. Lokasi yang letaknya di sebuah teluk dan air laut yang kemungkinan terpengaruh oleh adanya biota laut yang menyebabkan air laut terluhat agak kehijauan.

antri buat foto hits :D
Ada beberapa larangan yang tidak boleh dilakukan di pantai Teluk Hijau selain membuang sampah sembarangan yaitu adalah mandi atau berenang karena berombak besar dan cukup dalam. Kita juga dilarang bermalam mendirikan tenda disana karena takut dikhawatirkan terjadi kejadian yang tidak diinginkan dan pantai tersebut jaraknya cukup jauh dari rumah penduduk. Lakukanlah aktivitas yang aman seperti foto-foto dengan background pantai, air terjun kecil dipinggir pantai, duduk dibawah rindangan pohon menyantap bekal yang dibawa atau dibeli dari lokasi parkir.

dua teman jauh yg lagi isi tenaga buat nanjak kembali ke atas :D
Setelah cukup puas saya pun bergegas kembali menuju lokasi parkir kendaraan dengan menyiapkan mental perjalanan menanjaki bukit. kalau merasa capek, tidurlah dulu sebentar di bawah tarian dahan pohon :D.


Semoga artikel ini membantu perjalananmu ke Pantai Teluk Hijau Ya :)


Air Terjun Kembar Legomoro
Sudah lama penasaran dengan air terjun yang berada di dalam sebuah hutan yang bernama Hutan Tengkorak, sebuah hutan di wilayah Glenmore, Banyuwangi Air Terjun Kembar Legomoro namanya. Air Terjun Kembar Legomoro ini berada di daerah Dusun Sumbermulyo, desa Margomulyo, Kecamatan Glemore, Banyuwangi.  Disebut kembar karena terdapat dua aliran air terjun yang jatuh membentuk aliran sungai kecil di bawahnya.

Perjalanan menuju air terjun tersebut dari kota Banyuwangi sekitar 1,5 jam perjalanan. Rute menuju air terjun kembar legomoro dari kota Banyuwangi yaitu ambil arah ruas jalan Banyuwangi Jember melewati kota Rogojampi – pertigaan lampu merah rogojampi ambil arah kanan kearah kota Genteng – Setelah melewati Kota Genteng akan pertigaan dengan petunjuk jalan menuju Umbul Pule, Hotel Pinus atau Candi Gumuk Kancil ambil ke kanan ikuti arah menuju Umbul Pule. Lewati jalan di depan Umbul Pule lalu melewati Candi Gumuk Kancil sampai jalanan aspal berubah menjadi jalan tanah berbatu (makadam) ikuti jalan macadam tersebut hingga menemukan petunjuk jalan menuju air terjun kembar Legomoro. Jangan malu bertanya pada warga setempat karena jalan menuju kesana memang cukup rumit.
Pertigaan Setelah Kota Genteng menuju Hotel Pinus/Gumuk Kancil/Umbul Pule
pertigaan ini ke kanan melewati umbul pule
jalan makadam memasuki hutan tengkorak
Saat melintasi jalan makadam, suasana sudah terasa sangat sejuk karena  kita telah memasuki kawasan hutan Tengkorak yang tidak seseram namanya. Di Hutan ini merupakan kawasan hutan milik Perhutani yang ditumbuhi vegetasi Pinus dan sebagian vegetasi Mahoni yang bisa kita temukan tumbuh menjadi lorong jalan menuju air terjun kembar Legomoro. Sampai di lokasi parkir kami membayar retribusi sebesar Rp. 2000 untuk motor dan perorang dikenakan biaya masuk Rp.5000.
Lorong Pohon Mahoni menuju Air Terjun Kembar
bisa sewa hammock dan menikmati hutan pinus
Aroma khas hutan pinus mulai menyeruak masuk ke ruang –ruang kosong dipikiran, semakin dihirup rasanya semakin segar. Deru aliran air terdengar jelas dari tengah hutan pinus membawa tubuh saya menyelusuri jalan setapak yang ada disana. Sampai di ujung jalan setapak hutan pinus terlihat air terjun kembar yang indah diapit oleh hutan-hutan pinus di sekelilingnya. Saya mengabaikan dulu wahana-wahana menarik yang ditawarkan pengelola untuk menikmati hutan pinus seperti persewaan hammock, flying fox, persewaan peralatan untuk tubing menyelusuri aliran sungai Air Terjun Legomoro.

Air Terjun Kembar Legomoro dengan beberapa batu ukiran singa, naga dan kepala orang
aliran kecil membentuk seluncuran
Air Terjun Kembar Legomoro disebut kembar karena memiliki dua jatuhan air yang berada bersebelahan. Disekitar air terjun dibuat ukiran batu untuk menambah daya tarik air terjun ini seperti ukiran naga dan semacam terlihat seperti kepala kakek-kakek :D. Air terjun ini juga bentuknya menarik karena punya anak tingkat sekaligus kolam yang semi alami yang dibuat dan dibendung sehingga pengunjung terutama anak-anak bisa bermain air disini. Pengelola juga menyeiakan persewaan ban seharga Rp.3.000 yang bisa digunakan sampe kesel (capek). Bermain air dengan ban juga tidak dibatasidi kolam semi alami yang ada di depan air terjun. Bisa juga bermain aliran-aliran kecil di bawahnya yang membentuk semacam seluncuran melewati kolong jembatan bambu.

air terjun Putri Ayu
Terdapat satu lagi air terjun tersembunyi bernama Air Terjun Putri Ayu yang berada di sebelah air terjun kembar Legomoro. Menuju kesana kita hanya tinggal mengikuti jalan setapak yang ada disisi kanan air terjun kembar legomoro. Air terjun ini tidak terlalu tinggi namun jatuhan alaminya cukup besar dan memiliki kolam semi alami yang bisa digunakan untuk berendam bermain air. Jika mengikuti aliran air dari air terjun ini terdapat sungai dengan ruang cukup besar dan saya membayangkan bahwa tempat tersebut cocok sekali untuk salah satu tempat permainan outbound.

pemandangan Legomoro dari atas
Kawasan Wisata Air Terjun Legomoro menurut saya cukup baik untuk wisata keluarga. Air Terjun yang memiliki kolam semi alami yang kedalamannya aman untuk anak-anak, alirannya tidak deras, terdapat wahana bermain air seluncuran. Beberapa lokasi mendukung untuk keluarga yang membawa tikar dan makanannya menggelar tikar dan bekalnya disekitar air terjun maupun di hutan pinus dengan memandangi panorama air terjun dari atas. Wahana lain yang menantang juga bisa ditemukan untuk yang suka adventure seperti flying fox, perahu kano, dan tubbing. Kawasan wisata yang menarik dan harapannya kita sebagai pengunjung dapat membantu pengelola kawasan wisata tersebut dengan tidak merusak lingkungan seperti membuang sampah pada tempatnya dan tidak melakukan vandal atau mencorat-coret pohon, batu dan lain-lainnya.
bermain air di air terjun putri ayu
Tertarik mengunjungi Air Terjun Kembar Legomoro? :)

Nuansa pagi daerah pegunungan memang tak bisa dipungkiri nikmatnya. Udara sejuk yang seolah-olah menyeruak masuk hingga ke dasar-dasar jiwa menimbulkan ketenangan batin dan menyegarkan ruang-ruang isi pikiran.

Jelajah kali ini saya tertarik berkunjung pagi-pagi ke Bukit Mondoleko yang berada di Desa Sragi, Kecamatan Songgon, Banyuwangi. Memang wilayah songgon ini mulai berkembang menawarkan wisata alam pegunungan seperti air  terjun lider, temcor, telunjuk raung dan lain-lainnya dan tidak kalah juga wisata hutan pinus yang dikemas menarik juga wisata minat khusus untuk rafting di sungai. Bukit Mondoleko sendiri merupakan wisata yang menawarkan wisata hutan pinus dengan pemandangan panorama 5 gunung yang membentengi wilayah Bumi Blambangan Banyuwangi dari daerah sekitarnya yaitu Stubondo, Bondowoso dan Jember.

lapangan bola depan smp kosgoro
Rute Menuju Bukit Mondoleko
Jika kalian dari Kota Banyuwangi, rute ke Bukit Mondoleko searah dengan rute menuju Hutan Pinus Songgon, Air Terjun Temcor-Telunjuk Raung. Rutenya dari Kota Banyuwangi ambil arah menuju Rogojampi – Memasuki Rogojampi ambil terus sampai perempatan Kantor Pos ambil ke kanan arah Songgon – Ikuti jalan tersebut sampai melewati pasar Songgon akan ada petunjuk jalan menuju ke Sragi – ikuti petunjuk jalan ke Sragi dan ikuti jalan tersebut – melewati pertigaan ke Pinus Songgon – lalu sampai di pertigaan Sragi ambil ke kiri dan kalian akan menemukan lapangan bola yang mempunyai tower sinyal (depan SMP Kosgoro Sragi) dengan petunjuk jalan menuju bukit Mondoleko. Ikuti saja petunjuk tersebut hingga sampai parkiran kendaraan. Jika kalian mengandalkan google map tandai saja SMP Kosgoro Sragi atau SD 1 Sragi karena lapangan bola bertower berada di dekat sekolah tersebut.
lapangan bola bertower sinyal (warna biru)
rumah pohon
goa di mondoleko
Dari parkiran kendaraan ke puncak bukit Mondoleko harus jalan kaki selama kurang lebih 10 menit. Trackingnya pun menyenangkan akan melewati persawahan warga, menyebrangi sungai, dan melewati hutan pinus. Ditengah perjalanan terdapat rumah pohon yang berdiri di pohon randu (kapuk) yang cukup besar yang bisa dijadikan spot foto. Selain itu terdapat pula Goa. Goa tersebut dulunya digunakan sebagai tempat persembunyian para pejuang kita untuk melawan penjajahan jepang dan belanda. Kita tidak diperbolehkan masuk karena dikhawatirkan terjadi kejadian yang tidak diinginkan. Pengelola juga sudah memberi pagar sehingga pengunjung tidak dapat memasuki Goa tersebut. Menurut pengelola Goa ini berada persis di bawah puncak bukit Mondoleko berbentuk ruangan besar dan ada lorong-lorong kecil yang diyakini bisa tembus ke pantai Grajagan.

pos shelter dan musholla sebelum jalan naik ke puncak bukit mondoleko
Udara sejuk pagi hari membuat perjalanan menanjak bukit Mondoleko menyelusuri hutan pinus tidak terlalu melelahkan. Di puncak bukit Mondoleko terdapat gardu pandang yang berbentuk dermaga, seperti halnya dermaga-dermaga pandang yang ada diatas bukit di kawasan Mangunan dan Dlingo, Yogyakarta. Dermaga ini dibuat agak menjorok ke arah jurang. Dari ujung dermaga pandang inilah kita bisa melihat pemandangan syadu yang melintang berupa barisan 5 (lima ) gunung yang membentengi daerah Bumi Blambangan Banyuwangi dari kabupaten Jember, Bondowoso dan Situbondo. Gunung-gunung tersebut bernama Raung – Suket– Kendil– meranti – Merapi. Sayangnya gunung Kawah Ijen tidak terlihat dari sini, namun berada di tengah antara gunung Meranti dan Merapi.
background gunung raung-suket-kendil
gunung Raung-Suket
Gunung Meranti- Merapi
Puncak Bukit Mondoleko tidak hanya ada dermaga pandang, juga terdapat wahana asik seperti shelter yang cukup besar, bangku-bangku alami dari batang pohon, hammock, dan beberapa ayunan yang dihiasi kain warna-warni yang digantung. Rasanya seperti berada di negeri tertinggi di dunia, Nepal. Di dekat ayunan terdapat penjaja makanan ringan dan minumanyang merupakan milik kelompok pengelola bukit Mondoleko. Di sebelah pendopo kecil penjaja makanan tersebut terdapat sejenis pohon Beringin yang berdiri miring ke kanan, memiliki pagar dan sebuah kuburan. Kuburan tersebut diyakini adalah Seseorang yang dahulu membuka alas di daerah ini dan seiring berjalannya waktu menjadi sebuah perkampungan.

ayunan dan shelter di puncak bukit Mondoleko

kelebihan muatan
Fasilitas yang ada di Bukit Mondoleko sudah layak menjadi sarana wisata. sidah terdapat tenpat parkir yang mencukupi, warung penjaja makanan-minuman, fasilitas kamar mandi dan tempat ibadah serta gazebo yang bisa digunakan untuk bersantai. Terdapat juga camping ground, sayangnya saat saya sedang dalam proses pembuatan. Masalah dermaga pandang yang mempunyai kapasitas maksimal yaitu 5 orang masih belum ditaati, saat saya berkunjung dermaga pandang sudah berdiri lebih dari 5 orang. Harapannya pengunjung dan pengelola bisa saling menjaga keamanan dan keselamatan lokasi wisata terutama pada dermaga pandang dengan cara saling mengingatkan jika dermaga sudah melebihi kapasitas supaya tidak terjadi hal yang diinginkan.

menuju air terjun Telunjuk Raung
Angin berhembus dari timur,  menelisik ruang-ruang antar pucuk pinus, burung-burung kecil terlihat mulai berpindahan dari pohon satu ke pohon lainnya. Tersadar teh hangat dan sejumlah pisang goreng sudah tersantap habis. Saya bertolak dari bukit Mondoleko menuju Air Terjun Telunjuk Raung yang lokasinya tidak jauh dari Bukit Mondoleko.


Pemandangan Laut dan Pulau Tidore dr Ternate (Sumber foto: RinMuslimah)
Carilah posisi duduk yang nyaman, ingatlah gambar pemandangan diatas ini, lalu pejamkan mata, rasakan seolah-olah duduk manis atas kapal yang berlayar menuju pulau kecil di depan sana, pejamkan mata santaikan raga rasakan udara dan angin disekitarmu seolah-olah merasakan angin yang berhembus melewati perahu yang kamu tumpangi. Bayangkan perlahan-lahan perahumu mulai menepi di pulau kecil tersebut lalu berkata dengan penuh semangat “To Ado Re”.

To Ado Re” yang artinya adalah “Aku Telah Sampai”. Ketiga suku kata tersebutlah menjadi asal muasal penamaan Pulau Tidore, pulau kecil nan elok di Perairan Maluku Utara. Pulau kecil yang mempunyai sejarah yang sangat panjang, bentang alam yang menakjubkan seakan Tidore tercipta saat Tuhan Sedang Tersenyum. Penamaan Nama Tidore awalnya adalah “Limau Duko” atau “Kie Duko” yang berarti pulau bergunung api. Penamaan tersebut sesuai dengan keadaan geografisnya dimana pulau Tidore merupakan gunung api yang terangkat ke permukaan laut. Penamaan tersebut berubah menjadi Tidore karena terjadi peristiwa sejarah.

Menurut kisah yang saya dengar, dahulu di Limau Duko (nama Tidore sebelumnya) sering kali terjadi pertikaian antar Momole sampai akhirnya sekitar Tahun 846 M, rombongan Ibnu Chardazabah, utusan Khalifah al-Mutawakkil dari Kerajaan Abbasiyah di Baghdad tiba di Tidore. Mengetahui adanya pertikaian antar Momole, salah satu dari rombongan yang bernama Syech Yakub berupaya mendamaikan dengan memfasilitasi perundingan/Pertemuan. Pertemuan disepakati di atas sebuah batu besar di kaki gunung Marijang, gunung yang berada di sebrang selatan Tidore. Kesepakatannya, momole yang tiba paling cepat ke lokasi pertemuan akan menjadi pemenang dan memimpin pertemuan. Dalam peristiwa itu, setiap momole yang sampai ke lokasi pertemuan selalu meneriakkan To ado re, karena merasa dialah yang datang pertama kali dan menjadi pemenang. Namun, ternyata beberapa orang momole yang bertikai tersebut tiba pada saat yang sama, sehingga tidak ada yang kalah dan menang. Berselang beberapa saat kemudian, Syech Yakub yang menjadi fasilitator juga tiba di lokasi dan berujar dengan dialek Iraknya: Anta thadore yang artinya “Kamu Datang”. Karena para momole datang pada saat yang bersamaan, maka tidak ada yang menjadi pemenang, akhirnya yang diangkat sebagai pemimpin adalah Syech Yakub. Sejak saat itu mulai dikenal kata Tidore, kombinasi dari dua kata: Ta ado re dan Anta Thadore.

Sejarah kisah asal muasal penamaan Tidore sudah mengajarkan kita bahwasannya perselisihan yang terjadi bisa diselesaikan dengan cara Musyawarah untuk mufakat atau  kesepakatan. Musyawarah untuk mufakat ternyata sudah diterapkan sejak jaman dahulu dan hal tersebut sangat berakar di kehidupan masyarakat Indonesia.

Sultan Nuku (Sumber Foto Slideshare)
Sejarah panjang perjuangan Tidore dalam menentang penindasan dari bangsa-bangsa Eropa seperti Spanyol, Portugis dan Belanda yang mulanya hanya menawarkan kerjasama perdagangan untuk rempah-rempah berubah menjadi tindakan penindasan dan berupaya memonopoli serta menjajah tanah air termasuk juga wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore. Perjuangan terkenal adalah perjuangan dari Sultan Nuku yang membawa Kesultanan Tidore mencapai puncak kejayaan. Sultan Nuku mampu mempertahankan selama 25 tahun berperang mempertahankan tanah air terutama wilayah Kesultanan Tidore meliputi Pulau Tidore, Halmahera Tengah, pantai Barat dan bagian Utara Irian Barat serta Seram Timur. Dengan wilayah yang terpencar tersebut Sultan Nuku melakukan perpindahan ke daerah lain, berlayar keperairan lainnya, mengatur taktik dan strategi serta terjun ke medan perang melawan penjajahan. Sultan Nuku bertekad dan tujuan membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajah dan hidup damai dalam alam yang bebas merdeka. Cita-citanya membebaskan seluruh kepulauan Maluku terutama Maluku Utara (Maloko Kie Raha) dari penjajah bangsa asing. Dengan Tekad tersebut Sultan Nuku menjelma menjadi momok yang menakutkan pemerintah Kolonial Belanda di daerah Ternate, Banda dan Ambon. Hingga usia senja Sultan Nuku masih melakukan perjuangan tanpa kenal lelah dan akhirnya wafat pada usia ke-67 pada tahun 1805.

Pemandangan dari atas benteng Tahula ( Sumber Foto : Langkah jauh)
Benteng Torre ( sumber foto : langkah jauh)
Setelah melewati peristiwa demi peristiwa, Tidore kini mempunyai banyak peninggalan Sejarah yang melimpah dengan balutan bentang alam yang Indah. Datangnya bangsa Spanyol, Portugis, dan Belanda meninggalkan benteng-benteng bersejarah yang sampai saat ini masih berdiri menjadi saksi-saksi bisu perkembangan Tidore dari masa ke masa. Benteng Tahula merupakan benteng yang dibangun bangsa Spanyol. Dari benteng ini seluruh penjuru kota Soasio dan pemandangan lautan indah terlihat jelas sekali. Mungkin hal ini juga alasan Bangsa Spanyol mendirikan benteng disini untuk melindungi dan mengawasi rempah-rempahnya. Benteng selanjutnya adalah benteng Tore yang letaknya tidak jauh dari Benteng Tahula dan pemandangan yang juga sama. Bedanya benteng Tore merupakan peninggalan bangsa Portugis. Saya sedikit menghirup nafas dalam, membayangkan berada di bagian atas benteng-benteng tersebut lalu membayangkan kembali ke Tidore masa lalu. Membayangkan hiruk pikuk kota Soasio dan lalu lalang kapal dagang yang hendak membawa keluar rempah-rempah Tidore.

Tari Soya-Soya ( Sumber Foto : Maluku-Utara)
Tari Soya-Soya merupakan tarian khas dari daerah Maluku Utara begitu pula dengan Tidore. Tarian ini tercipta untuk membakar semangat para prajurit melawan bangsa Portugis saat itu dan kata “Soya-Soya” itu sendiri juga berarti “Semangat Pantang”. Penari tari Soya-Soya memakai cukup menarik, mereka berpakaian dasar berwarna putih, kain sambungan serupa rok berwarna merah, hitam, kuning dan hijau. Setiap penari juga mengenakan ikat kepala berwarna kuning (taqoa) yang merupakan simbol seorang prajurit perang. Kini tari Soya-Soya merupakan tari kebanggaan masyarakat Tidore, anak-anak sejak kecil pun sudah diajari tarian ini bahkan saat masuk sekolah dasar tariann ini diajarkan kembali.
Ritual Lufu Kie tahun 2015 ( foto : Adhiebudho)
Ada satu tradisi budaya yang menarik perhatian saya yaitu Ritual Lufu Kie. Ritual ini diselenggarakan untung mengenang Kufu Fei yang merupakan gelar dari Armada Perang yang berhasil mengusir VOC dari Tidore. Ritual ini dilaksanakan dengan mengelilingi pulau Tidore dengan formasi Armada Kapal seperti kala itu mengusir VOC dari Tidore. Formasinya disebut formasi Hongi Taumoi Se Malofo yang terdiri atas 12 perahu kora-kora tempur dan perahu Kesultanan Tidore yang berisikan 12 pasukan utama Angkatan Laut Kesultanan Tidore. Pada saat itu dengan peralatan yang sudah pasti kalah dari VOC dengan tekad pantang menyerah dari pejuang-pejuang Tidore, VOC dapat diusir. Dengan adanya penyelenggaraan ritual ini, semangat perjuangan mempertahankan tanah air tetap terus terjaga, menyala-nyala selamanya.

Tidore, negeri rempah-rempah yang memiliki sejarah dan pemandangan menakjubkan. Generasi 90-an seperti saya dan mungkin pembaca sekalian, dulu hanya tau dari mata pelajaran IPS lalu berlanjut mengetahui pemandangan Indahnya lewat gambar pada uang Rp.1000 lalu di era teknologi makin canggih saya makin tahu bertapa indahnya Tidore, bertapa menariknya kisah-kisah sejarah yang saya baca saat menulis ini. Ingin pergi kesana, membawa selembar uang Seribu yang telah saya simpan semenjak beberapa tahun yang lalu dengan harapan siapa tau nanti akan ada kesempatan menginjakan kaki ke pulau tersebut dan berucap “To Ado Re”.

Tidore dari Kejauhan (Sumber Foto : spiceislandsblog)
Tertarik mengunjungi Tidore, Yuk Visit Tidore, simpan uang Seribu-mu sebelum berganti dengan uang baru :D.

Artikel ini dibuat untuk mengikuti Lomba Menulis Blog dengan Tema : Tidore Untuk Indonesia 2017.

Suasana Pagi Pantai Syariah
Pulau Santen punya banyak cerita, wajahnya dulu sering dinilai kurang baik karena tidak terawatt, banyak sampah berceceran di sepanjang pantai kini mulai berbenah dan berubah dengan munculnya pantai Syariah sebagai titik balik pulau santen menuju hal yg lebih baik.


Pantai Syari’ah merupakan pantai yang berada di pesisir sebelah utara pulau Santen. Pantai Syariah ini baru launching oleh Pemda Banyuwangi beserta Kelompok Masyarakat Pulau Santen. Pantai ini mempunyai konsep wisata halal yang salah satunya yaitu memisahkan pengunjung wanita dan pria. Mungkin ini adalah pantai pertama yang memisahkan pengunjung pria dan wanita di Indonesia.

pertigaan SD Negeri 2 Karangrejo tinggal ambil kiri lalu lurus
Rute menuju ke Pantai Syariah/Pulau Santen dari Kota Banyuwangi.
Rute menuju pantai syariah dari kota Banyuwangi cukup mudah kok, dari simpang lima kota Banyuwangi arahkan kendaraan anda ke arah selatan menuju lampu lalu lintas hotel Slamet – ambil kiri ikuti jalan besar hingga menemukan perempatan pasar Pujasera (pasar burung) ambil lurus ke timur- ikuti jalan tersebut  hingga pertigaan klenteng – ambil arah ke kiri (ke timur) hingga menemukan pertigaan SDN 2 Karangrejo, ambil kiri lalu ikuti jalan tersebut hingga sampai di lokasi Parkir Pantai Syariah, Pulau Santen. Tarif Parkir untuk mobil sebesar Rp. 4.000 dan Motor sebesar Rp. 2.000.

jembatan menuju pulau santen
Pulau Santen dikategorikan Pulau karena terpisah dari daratan utama oleh sebuah sungai yang bermuara di selat bali. Sungai tersebut juga memisahkan antara Pulau Santen dan Pantai Boom. Karena terpisah oleh sungai, dari parkiran ke Pulau Santen tidaklah perlu menyebrang menaiki perahu seperti halnya ke pulau Tabuhan, hanya berjalan kaki menyebrangin jembatan kayu. Jika datang di pagi hari atau sore hari yang cerah, pemandangan pegunungan yang membentengi kabupaten Banyuwangi terlihat cukup jelas :D. Setelah melewati Jembatan Kayu tersebut maka terlihatlah Pantai Syariah dengan payung dan laybag warna warninya yg menarik perhatian. Penamaan Pulau Santen karena diseluruh pulau ini ditumbuhi oleh pohon-pohon Santen

peraturan di pantai Syariah, yuk dibaca
Pantai Syariah Wanita dan Pria di Pisah :D

Sesampainya di Pantai Syariah akan terlihat papan petunjuk peraturan dan petunjuk memisahkan pengunjung Wanita dan Pria. Hal tersebut merupakan salah satu konsep yang direncanakan untuk menjadikan Pulau Santen merupakan tempat wisata berkonsep wisata halal. Menurut sumber yang saya dapat dari penduduk setempat nantinya akan ada warung yang menjajakan makanan-makanan halal, melarang pengunjungnya berpakaian tidak sopan, ada mushalla yang siap digunakan sewaktu-waktu adzan berkumandang, puskemas dan hal-hal lain selama tidak berbenturan dengan konsep wisata halal.

laybag dan payung warna-warni
Pantai Syariah, area wanita cukup menarik, adanya kursi meja laybag pasir beserta payung khas bali yang dimodifikas dengan warna warni yang mencolok. Jika dilihat rasanya mirip dengan Pantai Double Six di Bali. Fasilitas tersebut disewakan seharga 10ribu saja sudah mendapatkan dua kursi laybag beserta mejanya. Sayangnya karena baru dibuka, belum ada penjaja makanan dan minuman untuk disantap untuk menikmati suasana pantai Syariah ini. Harapannya penjaja makanan dan minuman adalah penduduk lokal pulau Santen saja sehingga bisa mendongkrak penghasilan masyarakat pulau santen yang mayoritas merupakan nelayan. Dibelakang kursi-meja laybag pasir tempatnya sangat teduh karena terdapat barisan pohon Santen yang berjejer rapi. Pengunjung juga bisa menggelar tikar dan menyantap makanan yang dibawa dari rumah.

Pantai Syariah area Pria merupakan area alami dan bisa dibilang merupakan area aslinya pulau Santen. Pohon santen terdapat berjejer bersama pohon waru laut yang berbunga kuning. Di bawah pohon tersebut terdapat kursi-kursi dan meja dari batang pohon yang rubuh atau batang pohon yang terdampat di pesisir Pulau Santen tersebut. Selain itu pada Pulau Syariah area pira terdapat garasi tempat berlabuhnya jukung-jukung tradisional warga setempat yang biasanya digunakan untuk mencari ikan di pesisir pulau santen.

matahari belum terbit, pihak pengelola sudah membersihkan pesisir pantai
Harapan kedepan semoga dengan branding wisata halal dan Pantai Syariah sebagai pantai khusus wanita menjadi titik balik bangkitnya kehidupan pulau Santen yang lebih baik lagi. Para wisatawan diharapkan agar membuang sampahnya ditempat yang telah disediakan oleh pengelola. walau ada yang membersihkan tiap pagi dan tiap saat tetap saja sampah yang dibawa adalah tanggung jawab masing-masing untuk membuangnya.


Tertarik ke mengunjungi Pantai Syariah, Pulau Santen kah kalian?

nb : Postingan selanjutnya (bukan setelah ini) ingin memperlihatkan foto-foto perubahan wajah pulau santen 2 tahun belakangan. ditunggu yak :)