Spot yg katanya 9-12 sama Raja Ampat Papua (abaikan yg berduaan) :D
Raja Ampat dan Danau Sentani, bagi saya dan mungkin sebagian orang, tempat tersebut menjadi destinasi impian. Karena posisinya berada di pulau paling timur Indonesia biaya perjalanan kesana tidaklah murah. Di Perbatasan Banyuwangi-Situbondo belakangan ini sedang dihebohkan dengan adanya spot mirip Raja Ampat, ada juga yang bilang mirip Danau Sentani, tempat itu bernama Waduk Bajulmati.

Waduk Bajulmati merupakan waduk yang terletak di perbatasam Banyuwangi dan Situbondo tepatnya di desa Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, untuk wilayah Situbondo dan Desa Bajulmati, Kecamatan Wongsorejo untuk Wilayah Banyuwangi. Waduk ini dapat menampung air hingga 10 juta Meter Kubik dan dapat mengaliri area persawahan seluas 1.800 Hektar di Wilayah, Banyuwangi dan Situbondo.
Gapura Waduk Bajulmati
Rute Menuju Waduk Bajulmati Letaknya yang bersebelahan dengan Kawasan Taman Nasional Baluran atau juga dikenal Afrika Van Java untuk menuju kesini pun searah dengan menuju ke Taman Nasional Baluran. Rute dari Kota Banyuwangi  Jika menggunakan kendaraan pribadi atau sewa kalian bisa mengarahkan kendaraan  keluar Kota Banyuwangi – Pelabuhan Ketapang – Pantai Watudodol – Jalan Lintas Banyuwangi-Situbondo – Pasar Bajulmati – Pintu Masuk Taman Nasional Baluran – setelah melewatinya sekitar 10 menit kiri jalan akan ada gapura dan gerbang masuk ke Waduk Bajulmati. Untuk kalian yang menggunakan sarana transportasi umum bisa menaiki Bis Jurusan yang menuju Situbondo dari Pelabuhan Ketapang dan turun di depan gerbang waduk Bajulmati. Begitupula sebaliknya jika kalian dari Kota Situbondo ambil arah ke Banyuwangi atau Pelabuhan Ketapang setelah memasuki kawasan hutan TN Baluran nanti akan bertemu gapura masuk ke Waduk Bajulmati di sebelah Kanan jalan.
Pemandangan Waduk setelah masuk gerbangnya :)
Untuk memasuki Waduk Bajulmati kita dipungut biaya masuk untuk kendaraan saja sebanyak Rp.5.000/Motor atau Rp.10.000/Mobil dan untuk orang untuk saat ini belum dikenakan biaya. Dari pintu gerbang dan pemungutan tiket masuk tinggal berjalan sebentar sejauh 500 meter jalan turun dan akan melihat pemandangan waduk dengan diapit bukit-bukit yang cukup tinggi. Sesampai disana saya langsung memilih untuk melihat-lihat dan berkeliling Waduk mencari spot foto yang bagus.

Lagi blasak-blasak rerumputan di perbukitan waduk Bajulmati, nyari angle foto yg sip :D
Saya berhenti tepian waduk yang cukup tinggi untuk memandang luas keseluruhan waduk Bajulmati. Terlihat jelas liak liuk perbukita membentuk suatu pola yang indah. Melihat pemandangan tersebut seakan-akan melihat Spot Wayag, Raja Ampat yang diidam-idamkan. Sepet saya pikir bayangan ini agak lebay dan mencoba menanyakan ke beberapa teman dan jawaban mereka cukup menghibur miriplah dikit 9-12 :p. Samar-samar terlihat pemandangan Gunung kemungkinan Gunung yang juga terlihat dari Banyuwangi Kota yaitu Gunung Marapi dan Ijen. Namun sayangnya saat di foto tidak nampak begitu jelas. Jika menghadap ke timur akan terlihat Gunung Baluran yang nampak gagah dan terlihat cukup dekat.

Salah satu sudut pandang yg menurut bagus disini. lagi-lagi abaikan pasangan itu ya :D
Pemandangan berlatarkan Gunung Baluran
Makin siang, makin gersang. Jarang sekali ada pohon yang teduh disini, saya kembali ketempat awal karena ada Balai Bengong beratapkan patung tari Gandrung. Ternyata para pengunjung juga sedangasik berteduh dan menyantap bekal yang mereka bawa sambil menikmati pemandangan waduk dari balai bengong tersebut. Untuk fasilitas yang lainnya belum ada sama sekali, karena waduk ini memang belum sepenuhnya dibuka dan disiapkan untuk wisata.

Balai Bengong di pinggir waduk
Tinggi air masih kurang 6 meter lagi, entah berapa kubik lagi ketinggian 6 meter itu
Mengunjungi Waduk Bajulmati baiknya dilakukan pagi hari atau sore hari saja dan jika terpaksa mengunjunginya siang hari jangan lupa membawa tutup kepala jika tidak kuat ssengatan cahaya matahari. Mengunjungi Waduk ini juga bisa sekaligus jalan untuk berkunjung ke Taman Nasional Baluran yang dikenal sebagai Afrika Van Java karena lokasinya cukup berdekatan dan searah. Semoga pengembangan wisata di waduk ini bisa memuaskan pengunjung dan fungsi waduk bisa meningkatkan kesejahteraan petani-petani yang sawahnya teraliri air dari waduk ini.

Situasi di Spot Foto Raja Ampat KW :D, Rameeee
Selamat Mengunjungi Waduk Bajulmati si Papua Kecil di Perbatasan Banyuwangi-Situbondo :)


Sengaja aku datang ke kotamu
Lama kita tidak bertemu
Ingin diriku mengulang kembali
Berjalan-jalan bagai tahun lalu
~
Lirik awal dari lagu legendaris “Sepanjang Jalan Kenangan” yang mendadak saya ingat ketika membawa kendaraan kami menuju Pantai Sepanjang. Sebuah Pantai yang bisa dibilang cukup panjang namun tidak sepanjang jalan kenangan.  “Kenangan kita”.

Sepanjang dari atas bukit
Sehabis dari Pantai Sanglen, Saya masih bersama Nove dan mba Dwi melanjutkan perjalanan ke Pantai Sepanjang dan Pantai Lolang (disebelah baratnya). Pantai Sepanjang ini memiliki pantai yang lumayan panjang, mungkin terpanjang di Gunungkidul lalu diikuti oleh pantai Wediombo. Pantai ini terletak di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Pantai ini  menjadi favorit karena selain memiliki pantai yang luas dan panjang, pantai  ini memiliki jalan yang lebar  serta parkiran yang luas sehingga dapat menampung banyak wisatawan. Belum lagi fasilitas yang cukup lengkap, sampai-sampai ada masjid besar di pesisir Pantainya.

Tulisan besar dipertigaan menuju Pantai Sepanjang
Rute Menuju Pantai SepanjangPerjalanan dari Kota Jogja ke Pantai Sepanjang sekitar 2 jam perjalanan bahkan bisa lebih sedikit. Dari Kota Jogja arahkan kendaraan ke Jalan Wonosari – Pertigaan Piyungan – Bukit Bintang – Patuk – Rest Area Bunder/Hutan Wanagama – Kota Wonosari – Alun-alun Wonosari – Jalan Baron – dari sini ikuti papan petunjuk jalan menuju pantai Baron,Kukup, Drini atau Krakal sampai di Pos Tempat Pemungutan Retribusi Karcis lalu arahkan kendaraan anda melewati pantai Kukup dan setelahnya akan ada Tulisan Pantai Sepanjang yang cukup besar, ambil kanan  kemudian kita akan sampai di Pantai Sepanjang.
Bersihhhhhhh :)
Bersih, pasirnya juga lumayan halus dan tidak terlalu dalam sehingga enak diijak. Karena kami masih di tengah-tengah pantai sepanjang, ujung pantai sebelah barat dan timur yang berupa tebing tidak terlihat saking jauhnya mungkin :D. Di area pantai, pengelola (Kelompok Masyarakat) telah membuat wahana-wahana kecil untuk foto-foto dari beberapa ayunan sederhana yang terlihat tidak kokoh ternyata kuat menampung dua orang (nove dan mba dwi) berayun2 :D. Coba ngambil gambar siluet searah matahari, berasa Ayunan Gili Trawangan ala-ala. Satu lagi yang menarik ada figura berbentuk “Love” dengan pinggirannya diberi hiasan bunga-bunga.  Spot Narsis ini malah bisa jadi tempat foto couple atau prewed heheu..

Ayunan Gili Trawangan Ala-ala  :P
Spot Selfi :D
Untuk makanan-minuman tidak usah khawatir karena sepanjang pantai Sepanjang, sepanjang itu pula warung penjaja makanannya. Fasilitas memadai berupa tempat ibadah, kamar mandi, parkir yang luas dan bahkan sebuah kafe kecil di atas bukit yang mungkin cukup syahdu menikmatinya saat senja-malam hari.

Matahari dilangit mulai senja, kami bertiga sepakat untuk pindah tempat menikmati senja syahdu diatas bukit tepatnya di Baron Teknopark yang letaknya tidak jauh dari Pantai Sepanjang. Kunjungan singkat di Pantai Sepanjang memang tidaklah cukup menyelusuri sudut-sudut unik Pantai Sepanjang namun setidaknya cukup memberikan kenangan tersendiri untuk diri kami masing-masing.


Selamat mengujungi Pantai ini :D
Pantai Sanglen dari Bukit Sebelah Timur
Tiga tahun silam, saya pernah ke pantai ini, pantai yang letaknya sebenarnya berdekatan dengan pantai Gunungkidul yang ramai dikunjungi seperti Pantai Sepanjang, Pantai Kukup dan Drini. Namun karena keberadaannya 3 tahun silam masih tertutup semak, sehingga pantai tersenbut seolah-olah tersembunyi dan tak tergarap oleh kelompok masyarakat sekitar. Pantai tersebut bernama Sanglen.

Pantai Sanglen, belakangan ini mulai diperbincangkan keberadaannya. Pantai ini menurut saya juga merupakan pantai yang memiliki ciri khas yang unik dari pantai disebelahnya. Pantai Sanglen terletak di desa Kemadang, kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul, Jogja atau lebih tepatnya berada di sebelah timur dari Pantai Sepanjang dan sebelah barat pantai Watukodok. Pantai ini masih relatif sepi karena pengunjung masih mengarah ke pantai Sepanjang, pantai Watukodok dan Pantai Drini yang memiliki fasilitas yang lengkap.

Rute menuju Pantai SanglenCukup mudah untuk kalian menuju Pantai ini karena letaknya di satu pintu masuk dan blok pantai-pantai terkenal gunungkidul lainnya seperti pantai baron, kukup, sepanjang, drini dan lain-lainnya.  Rute daru Jogja menuju pantai Sanglen, Arahkan kendaraan anda ke Jalan Wonosari – Piyungan – Bukit Bintang – Patuk – Rest Area Bunder Hutan Wanagama – Kota Wonosari – Alun-alun – Bangjo Pertigaan Pos Polisi ambil kanan ke arah Jalan Baron – dari sini tinggal mengikuti papan petunjuk jalan ke pantai Baron/Kukup/Drini saja sampai mencapai Tempat Penarikan Retribusi (TPR). Setelah melewati TPR ambil kea rah pantai Kukup – Lewati Pantai Kukup sampai menemukan petunjuk Jalan ke Pantai Watukodok. Masuk ke jalan cor-coran Watukodok nanti akan ada pertigaan kecil lalu ambil kanan untuk menuju ke Parkiran Pantai Sanglen. Jika kalian ragu dengan jalan yang kalian tempuh berhentilah dan tanya kepada warga setempat ya :).
Jalan Cor-coran ke Pantai Watukodok dan Sanglen

Setelah menempuh perjalanan dari kota Jogja selama 2 Jam perjalanan naik motor saya bersama Nove (Empunya http://noveriarasyida.blogspot.co.id/) dan mba Dwi (Empunya http://dwitff.blogspot.co.id/ ) akhirnya sampai ke pantai yang membuat Nove penasaran karena sempat liat foto di IG air laut biru dan pantainya masih relatif sepi untuk dikunjungi saat weekend :D. Sesampainya di parkiran motor,kami sudah digoda oleh langit biru, suara angin laut dan deburan ombak pantai Sanglen sudah memanggil-manggil kami. Kebetulan parkiran berada di tebing atas bukit, kami menyempatkan memandang keadaan pantai Sangleng yang cukup hijau dan teduh. Tidak sampai 5 menit kami sudah berada di Pasir Pantai Sanglen. Pasirnya cukup tebal, dan sudah menjadi butiran-butiran cukup halus. Kami menepi sejenak mencari tempat teduh untuk meninggalkan tas, agar bisa leluasa menikmati liburan di pantai dan berfoto2 :D .
si gadis pantai
Sepinya :D
Suket Gimbal
Pantai Sanglen tidak jauh beda dengan pantai Gunungkidul lainnya, diapit dua bukit. Bukit sebelah barat memisahkannya dengan Pantai Sepanjang, Bukit sebelah timur dengan pantai Watukodok. Namun ada dua hal yang menurut saya unik disini yaitu keberadaan pohon-pohon cemara laut (cemara udang) yang cukup rapat memberi ruang teduh dan dijadikan tempat favorit pengunjung pantai dan juga para peladang sekitar pantai ini untuk berteduh dari teriknya matahari. Waktu 3 tahun silam pun pohon-pohon cemara ini sudah ada, dan menjadi tempat berteduh juga. Keunikan lainnya yaitu pada biota laut terutama suket (rumput lautnya) berbentuk seperti rambut gimbal, menggulung gulung ikal. Jumlah rumputnya bisa dibilang banyak jumlahnya terutama di sebelah barat. Rumput ini hanya bisa dilihat saat laut dalam keadaan surut. Sempat saya angkat dan ternyata rumputnya cukup panjang membentang kearah pantai karena mengikuti arah ombak yang menuju ke pantai. Karna belum tau nama rumputnya ini sebut saja Suket Gimbal :D

pepohonan cemara tempat untuk berteduh
Fasilitas pantai ini masih minim dan sederhana, hanya baru tersedia parkiran motor, tempat teduh bersama di pepohonan cemara, kamar bilas dengan sumber air yang masih bisa dibilang rasanya masih agak asin. Di tempat teduh bersama tersebut terdapat tempat sampah untuk membuat sampah-sampah piknik kalian di Pantai ini.


Selamat mengunjungi pantai ini :)

Perjalanan kami masih berlanjut di pantai-pantai lain yang relatif sepi, ditunggu kelanjutannya minggu depan yak :D

Pulau Tabuhan, pulau yang terlihat jelas dari Pantai Watudodol sudah lama membuat saya penasaran. Terlihat dari jauh, kecil, berwarna kehijauan dan berada di tengah-tengah warna biru laut yang luas. Minggu pagi, saya mendapat ajakan bersama teman dari Jalan-JalanSeru Banyuwangi untuk piknik seru ke Pulau Tabuhan tersebut. Walau letaknya di tengah Laut Selat Bali, Pulau ini masuk dalam wilayah Kabupaten Banyuwangi, tepatnya di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi.

Cara menuju Pulau Tabuhan, Banyuwangi
Dari Kota Banyuwangi: Pulau ini bisa ditempuh dengan menyewa kapal dari beberapa tempat seperti Grand Watudodol, Bunder Bangsring dan Kampe. Jarak terdekat untuk sampai ke Pulau Tabuhan yaitu dari Pantai Bangsring atau Kampe. Minggu kemarin saya menggunakan jasa Kapal dari Pantai Bangsring. Dari kota Banyuwangi, ambil arah Pelabuhan Ketapang – melewati Pelabuhan Ketapang – Pantai Watudodol (patung gandrung) – pom bensin kiri jalan – tikungan ke kanan – masjid perumahan griya (kiri jalan) – setelah melewati masjid, kanan jalan akan ada papan petunjuk jalan ke rumah apung, kalian tinggal ikutin papan petunjuk jalan itu saja. Sesampainya di Pantai Bangsring kalian bisa menyewa kapal dan berlayar menempuh perjalanan selama 15 menit saja.
Dari Luar Kota Banyuwangi: Jika kalian yang naik kereta ke Banyuwangi, bisa turun di stasiun Banyuwangi Baru dan melanjutkan naik ojek atau menyewa angkot atau bisa juga naik angkot ke terminal sritanjung lalu naik bis yang menuju arah situbondo dan minta turun di desa Bangsring (rumah apung). Jika kalian dari Surabaya naik bis, bisa memilih bis jurusan bali atau banyuwangi yang lewati Situbondo. Minta Turunlah di depan Desa Bangsring (Rumah Apung).

Biaya sewa kapal sebesar Rp. 500.000 perkapal dengan maksimal penumpang sebanyak 10 orang. Fasilitas kapalnya kalian dapat pelampung keselamatan. Namun jika ingin Snorkling di Pulau Tabuhan kalian bisa menyewa alat Snorkel Satu Set berupa Jaket Pelampung dan Snorkel seharga Rp. 30.000. Jika butuh sepatu katak akan dikenalan biaya sewa lagi sebesar Rp.10.000-15.000

Pulau Tabuhan merupakan pulau kecil yang luasnya hanya sekitar 5-6 ha. Pulau tak berpenghuni, tidak banyak pohon-pohon teduh yang bisa dijadikan tempat berteduh. Walau pulaunya tidak seberapa besar aktifitas seru bisa dilakukan disini seperti:

1. Snorkeling
Spot Snorkeling
Ombak disini utara agak tenang, biasanya pengunjung melakukan snorkeling di spot ini. Spot terbaik bisa di dapat di area agak ke tengah, kita bisa minta tolong oleh nahkoda perahu yang kita sewa untuk mengantarkan ke daerah spot tersebut. Hati-hati dengan bulu babi dan jangan menginjak karang ya J

2. Keliling Pulau
Spot foto sebelah timur pulau
Pulau Tabuhan ini luasnya hanya 5-6 ha, mengelilinginya dengan jalan kaki tidak akan menempuh waktu jalan terlalu lama. Mungkin yang perlu disiapkan adalah tabir surya supaya kulit tidak gosong terbakar. Pengalaman kemarin sih walau sudah pakai tetap gosong :D. Mengelilingi pulau ini hanya sekitar 15menit berjalan kaki kadang yang bikin lama adalah berhenti dan berfoto-foto :D. Kadang berteduh sebentar di semak-semak agak tinggi menyantap makanan, atau karena kepanasan.

3. Berfoto-foto

Ada beberapa spot foto yang menarik perhatian, salah satunya adalah reruntuhan bangunan. Spot ini menjadi spot favorit oleh para pengunjung. Biasanya posenya sih berdiri di atas reruntuhan bangunannya. Jika sedang pasang hati-hati yak J. Spot foto menurut saya di pulau sebelah timur, pasirnya halus karena terus terkena ombak, dengan pemandangan laut biru dan pulau Bali spot foto ini terlihat bagus. Spot foto berikutnya adalah spot foto Gili Trawangan Ala-ala (beberapa orang menyebutnya seperti itu), spot ini merupakan ayunan yang ada di Pantai, dengan tulisan Pulau Tabuhan di tiang penopangnya diharapkan menjadi salah satu icon dari pulau tabuhan.

spot reruntuhan bangunan
spot reruntuhan bangunan

Pulau Tabuhan ini menjadi pilihan untuk menikmati Sunset dan Sunrise sekaligus dibanyuwangi selain di pelabuhan Marina. Karena belum mencobanya langsung, saya tidak bisa berkata banyak. Tapi untukbisa menikmati suasana Senja dan Matahari terbit di Pulau Tabuhan kalian harus menginap disini semalam.

warung sederhananya, sekaligus bisa ngadem
Fasilitas yang ada disini tidak terlalu lengkap, baru ada Bilik untuk mengganti baju dan beberapa warung makanan-minuman buat yang tidak atau bekalnya kurang. Selain itu tidak ada fasilitas lainnya. Jika kalian yang hendak bersnorkling, sewalah peralatannya di Pantai Bangsring sebelum berangkat. Belum ada tempat pembuangan sampah yang memadai, sehingga pengunjung diharapkan dapat membawa kembali sampahnya dan di buang ditempat sampah yang ada.
pasukan lengkap :p
Setelah lelah bermain di Pulau Tabuhan, kami memutuskan kembali ke Pantai Bangsring. Jika masih belum puas bersnorkling, di pantai Bangsring kalian bisa melanjutkannya dan bahkan bisa bersnorkeling bersama Hiu


Makanan-makanan yg tersaji dalam Tupat Sewu
Banyak tradisi adat yang cukup menarik di berbagai daerah di Indonesia, salah satunya di Banyuwangi. Pada H+7 bulan Syawal masyarakat khususnya daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur mengenal Lebaran Ketupat, dimana lebaran ini masyarakat membuat ketupat dan membagikannya kesanak saudaranya bahkan tetangganya. Ada juga yang membuat ketupat dan memakannya bersama-sama dengan sanak-saudaranya. Di Banyuwangi pun begitu, adanya tradisi adat Puter Kayun yang merupakan tradisi dari Desa Boyolangu, Kecamatan Giri, Kabupaten Banyuwangi yang diadakan pada tanggal 7 Syawal sampai 10 Syawal. Salah satu acara yang cukup menarik yaitu Ketupat Sewu atau 1000 Ketupat.

Ketupat Sewu yang diadakan di Desa Boyolangu ini memulai rangkaian acara tradisi adat Desa Boyolangu. Diadakan tanggal 7 Syawal pada malam hari tepatnya pada setelah Shalat Magrib. Setelah magrib warga desa Boyolangu menggelar tikardi depan rumahnya (juga ada yang didalam rumah) dan mengeluarkan ketupat-ketupat yang sudah disiapkan untuk disantap bersama-sama sanak saudara dan keluarga yang datang dan ada saat itu. Karena makan ketupat bersama-sama satu desa inilah kenapa di sebut Ketupat Sewu.

sedang merapihkan barisan lilin :D
Suasana cukup ramai sekali, anak kecil berlarian dengan pakaian habis dari masjid, berkopiah, baju kok, celana pendek dengan sarung yang digantung seperti tas pinggang. Riuh suara obrolan dari antar warga yang beramah tamah kepada tetangganya didepan rumah sambil mempersiapkan dan menunggu mulainya acara Ketupat Sewu. Sebelum dimulai, penerangan lampu sedikit dimatikan, dan diganti dengan lampu tradisional sederhana yaitu Lampu Teplok yang dibuat dari botol-botol kaca bekas. Jadi keingat tradisi menjelang Idul Fitri di Gorontalo. Lampu Templok ini taruh di tengah jalan sebagai pengganti penerangan lampu yang dimatikan. Beberapa anak-anak kecil terlihat senang melihat api. Bahkan ada yang nyanyi lagu “selamat ulang tahun” :D
masih agak ramai, saling bercerita satu sama lain hehe
mendadak hening dan berdoa, tidak ada yg berlarian seperti sebelumnya

Suasana agak hening, ketika suara dari masjid mulai terdengar dan mengajak para warga untuk berdoa mengucapkan syukur atas karunia yang telah diberikan Yang Maha Kuasa. Ketika doa selesai, suasana ramai kembali, warga mulai menyantap hidangan ketupat yang telah disiapkan. Hidangan ketupat sewu relatif sama seperti daerah lain, Ketupat dengan opor ayam yang berbeda adalah lauk tambahan berupa tempe, tahu, semacam tempura, bahkan ada yang membuat bakso dan tidak lupa adanya sambal dan kerupuk baik kerupuk biasa maupun kerupuk peyek. Saya diajak salah seorang warga untuk ikut menyantap ketupat sewu bersama keluarganya. Rezeki ga boleh ditolak, mumpung perut  sudah lapar dan sudah tergiur aroma Opor dari asap-asapnya yang berterbangan.

Jika tidak suka ketupat ada sedia Nasi :D
Nambah setengah ketupat, pencitraan aja sih setengahnya
Ketika acara selesai, lampu dinyalakan kembali, lampu teplok dimatikan dan anak-anak masih berkeliaran bermain :D. Saya juga berlarian menuju bazar kecil yang ada di tengah desa. 
mas dor dan temen dari IG:@instabanyuwangi

Terima Kasih untuk keramahannya keluarga Mas Dor dan Warga Desa Boyolangu ^^
Taman Laut di Cirebon Waterland
Cirebon adalah kota bersejarah, apalagi nuntuk Orang Tua (Ortu) saya. Menjadi rutinitas tahunan, lebaran saya sekeluarga pulang menengok Nenek di Losari, Cirebon. Saat acara kebaran mulai senggang kami sekeluarga menyempatkan mampir ke Taman Ade Irma Suryani - Cirebon Waterland ini yang ramai dibincangkan dari tahun 2015 silam dan juga Ramai dikunjungi apalagi saat libur lebaran seperti ini.

Taman  Ade Irma Suryani ternyata sudah ada sejak dahulu dengan nama Taman Traffic Garden Cirebon namun sejak tahun 1966 di ganti menjadi Taman Ade Irma Suryani. Taman ini merupakan taman rekreasi dan taman bermain satu-satunya di Kota Cirebon. Mulai tahun 2014 dikembangkan menjadi Cirebon Waterland dan selesai dan dibuka kembali pada Libur Lebaran tahun 2015 yang lalu.  Jika mengingat memori lama, sebelum Cirebon Waterland jadi sekitar  Kelas 6 SD atau 1 SMP saya pernah mampir ke Taman Ade Irma Suryani ini. Kondisinya kurang menarik, namun karena satu-satunya taman rekresasi, taman ini menjadi andalan warga Cirebon untuk bersantai, menikmati taman dan laut dari dermaga yang ada saat itu.

Cara Menuju Taman Ade Irma Suryani Cirebon Waterland
Taman Ade Irma Suryani - Cirebon Waterland ini terletak pusat kota Cirebon, tepatnya berdekatan dengan Pelabuhan Cirebon. Jadi jika kalian menggunakan kendaraan pribadi bisa mengikuti petunjuk jalan menuju Pelabuhan Cirebon namun jika menggunakan kereta bisa turun di stasiun terdekat yaitu Stasiun Cirebon Prujakan. Dari Stasiun bisa menaik Ojek (nawar dulu) dan angkot bernomor kode GM (Jurusan Gunungsari-Mundu). Jika kalian yang punya sedikit waktu disarankan naik ojek saja, karena naik angkot jalannya agak memutar (jangan lupa untuk tanya terlebih dahulu supir angkotnya apa kah melewati daerah tujuan J )

Saat H+3 lebaran 2016, untuk memasuki Taman Ade Irma Suryani  seharga Rp. 65.000 sudah termasuk tiket untuk berenang di Cirebon Waterlandnya. Saya cukup keberatan soal ini karena berimbas keluarga yg ikut pada tidak jadi masuk ke Cirebon Waterland ini dan menunggu diparkiran. Padahal sebelum Puasa dan Lebaran tiket dipisah, unuk menikmati Taman Ade Irma Suryani seharga Rp. 15.000 dan untuk Cirebon Waterland Seharga Rp. 60.000 sekaligus bisa menikmati suasana yang ada di Taman Ade Irma Suryani. Karena sudah jauh2 dari Banyuwangi saya niatkan saja sebentar masuk untuk melihat-lihat di dalam seperti apa. Dan  Semoga setelah melewati Hiruk Pikuk Lebaran, harga tiket kembali seperti sedia kala.



Memasuki Taman Ade Irma Suryani – Cirebon Waterland, pemandangan waterlandnya lah yang mencolok mata, dengan bentuk yang menakjubkan dan menjulang agak tinggi dari bangunan dan pohon sekitarnya. Kolam Renang dengan Wahana yang bisa dibilang cukup wow dimata, cocok untuk berfoto-foto dan bermain air bersama keluarga, apalagi didukung oleh cuaca Cirebon yang panas-panas membakar khas Pantura :D. Kemarin saya tidak mencoba Kolam Renang ini, hanya memperhatikan kegembiraan dan mendengar teriak sana sini anak kecil yang sedang bermain air di Cirebon Waterlandnya.

Setelah melewati Kolam Renang, Kita akan melihat kapal raksasa bertuliskan Cheng-Ho (Pelaut  dari Cina yang terkenal). Bangunan tersebut merupakan Restoran berbentuk kapan berpemandangan laut utara Jawa. Di kanan kiri Resto Kapal tersebut terdapat Dermaga yang bisa kita lalui untuk melihat pemandangan laut. Menyelusuri Dermaga ini kalian akan melihat pemandangan mewah berupa rumah apung yang berada di kanan kiri dermaga. Desainnya menarik, hampir mirip dengan rumah apung yang berada di Gorontalo, dan Pulau Cinta. Rumah Apung tersebut disewakan dengan harga dari yang termurah yaitu 1,5 Juta sampai 2,7 Juta permalam. Menurut info yang saya dapat yang 1,5 Juta bisa untuk 4 Orang dan 2,7 Juta untuk 10 orang.  Kalau Patungan serasa murah.

Rumah Apung yang di sewakan
Potret lebih dekat penginapan rumah apung 
Menyelusuri Dermaga berhujung kepada Gazebo santai dimana disambung dengan Dermaga yang terbuat dari Bambu. Dermaga yang Instagramable menurut saya. Untuk ke Dermaga itu ternyata bayar lagi sebesar Rp, 15.000 dan gratis Tolak Angin untuk anak2 satu buah. Padahal lebih baik Stiker Cirebon Waterland atau semacamnya yang bisa menimbulkan efek promosi dan tentunya meninggalkan kesan baik. Dermaga Bambu ini cukup panjang, mungkin sekitar 500 m-1 km. selama perjalanan menuju ujung dari dermaga bambu ini ada selter berupa bangku dari bambu. Diujung Dermaga berupa selter besar, mirip seperti gazebo yang mempunyai beberapa kursi untuk para pengunjung bersantai menikmati angin sepoi-sepoi, laut pantai utara dan sepertinya sunset disini lumayan cantik juga. Air laut yang terlihat di Pantai Utara sering kali berwarna coklat, tidak biru seperti halnya pantai-pantai di selatan Jawa. Hal ini dikarenakan di daerah Cirebon sendiriterdapat banyak muara sungai yang membawa endapan lumpur berwarna coklat dan akhirnya warna coklat dan endapannya menyebar ke laut pantai utara. Disini juga terdapat Jasa Penyewaan Kapal Laut oleh nelayan setempat dengan maksimal 10 orang dengan harga 10rb/orang.


Setelah puas menikmati pemandangan laut pantai utara Cirebon dan puas berkeliling Taman Ade Irma Suryani ini, saya bersama keluarga memutuskan untuk kembali pulang ke rumah Mbah. Semoga kapan2 ada kesempatan bisa menikmati senja disini, main air di waterland atau sekedar makan malam di Resto Kapalnya.

Taman untuk bermain bersama si kecil :)
Itinerary ke Cirebon Waterland ini :Parkir Mobil Rp. 8000
Tiket Masuk Rp. 65.000
Tiket Masuk Ke Dermaga Bambu Rp. 15.000
Total sekitar Rp. 88.000.


Setelah pergi silaturahmi ke Rumah Teman di Dekat Terminal Arjosari, saya memutuskan untuk keliling malang melihat-lihat suasana malam dan mencari tempat makan di Malang. Melintasi Balai Kota saya melihat rumah makan yang sedikit klasik bernama “Inggil”.

Lihat muka depannya saja, rumah makan ini seperti menghipnotis siapa saja yang berhenti memandangnya, seperti kembali mengenang masa yang berlalu. Saya memutuskan untuk makam malam disini, suasana agak sepi, mungkin karena sudah lewat jam makam malam yaitu jam 19:30. Namun suasana yang tidak terlalu ramai ini malah menjadi kenyamanan tersendiri.  Rumah Makan ini terletak di belakang Balai Kota Malang, bersebelahan dengan Museum Malang Tempo Dulu atau lebih tepatnya beralamat di Jalan Gajah Mada No. 4,Kiduldalem,Klojen,Kota Malang, Jawa Timur.

Inggil Resto, Tampak Depan
Cara Menuju Kesana
Rute menuju kesana cukup mudah, jika kalian dari Stasiun Kota Malang bisa berjalan kaki selama 10-15 menit menyusuri jalan Kertanegara ke Alun-alun Tugu atau Buinderan Tugu BalaiKota Malang. Di Bunderan tersebut ambil jalan ke kiri sebelum Gedung Balai Kota (Jalan Gadjah Mada). Rumah makan Inggil atau Inggil Resto ada di sebelah Museum Malang Tempo Dulu. 

Ruang Utama, Semacam Hall Pertunjukan
Inggil Resto mempunyai beberapa ruangan dengan konsep yang berbeda. Untuk memasuki ruang utama dari luar kalian akan melewati semacam lorong, lorong waktu dimana disetiap dindingnya terdapat foto malang tempo dulu dan cerita singkat mengenai foto tersebut. Ruang utamanya berupa ruang besar, Semacam Hall dimana disisi-sisinya terdapat benda-benda kesenian dan benda-benda tempo dulu. Saya memilih duduk di ruang utama ini karena ruangan cukup luas, leluasa memandang. Menu yang ditawarkan berupa Serba Bakar dan Goreng, masakan-masakan dan minuman khas Jawaseperti Dawet, dan Wedang. Awalnya saya pikir pada menu tersebut untuk satu porsi satu orang ternyata beberapa menu yang dipesan bisa untuk lebih dari satu orang :D. Range harga makanan dari Rp.15.000 dan minuman mulai dari Rp.5.000. Cukup murah, apalagi beberapa makanan bisa untuk lebih dari 1 porsi :D.

Koleksi Alat-alat Jadul.. Orangnya nggak ya :D
Jam Weker dan Seterika Areng
Mesin Pengkeriting Rambut 
Setelah memesan, saya pergi melihat-lihat Inggil Resto. Inggil Resto ini kesannya seperti museum. Pada ruang utamanya terdapat benda-benda kesenian seperti wayang, Topeng-Topeng Kayu untu menari dan benda lama seperti jam weker lama, mesin jahit, bahkan favorit saya yaitu Setrika Areng yang bila digunakan baju yang digosolk seterikamempunyai bau yang khas. Menengok ke ruang depan terdapat koleksi-koleksi kaset jaman dulu sekitar tahun 70an hinggan kaset masa kini. Bahkan ada kaset lagu anak-anak jaman 90an :D. Berjalan ke ruang selanjutnya terdapat beberapa benda klasik seperti piano, keyboard dan yang paling menarik perhatian adalah alat pengeriting rambut jaman dulu yang awalnya saya sangka merupakan alat setrum penyiksa tahanan :D. Diruangan ini juga terdapat foto-foto Malang tempo dulu dan beberapa tulisan dinding berupa sejarah kota Malang.

Ruang Berisikan Koleksi Kaset
Ruang Foto Tempo Dulu, Sejarah Singkat Malang
Makanan sudah jadi, saya bergegas kembali ke meja di ruang utama. Makanan yang dihabiskan cukup banyak mengingat makanan yang dipesan berupa makanan untuk dua porsi orang :D. Pada saat itu di Panggung Utama terdapat Live Musik yang menyanyikan lagu-lagu tipe klasik yang tidak saya kenal, namun lagu tersebut terdengar damai di telinga. Menurut info yang saya dapat, panggung ini disetiap malamnya dilakukan pertunjukan yang berbeda seperti live music pada hari saya datang. Kalau dilihat di atas panggung terdapat seperangkat alat gamelan, kemungkinan ada pertunjukan wayang orang atau nyinden.

makanan yang pesan, porsi dua semua, kecuali nasgor 
Setelah selesai saya agak enggan meninggalkan Inggil Resto ini, dan akhirya berkeliling tiap ruangan di Inggil Resto untuk mengambil gambar kembali dan setelahnya puas saya membayar dan berpamita untuk kembali berkeliling kota Malang Malam Hari.