Nuansa pagi daerah pegunungan memang tak bisa dipungkiri nikmatnya. Udara sejuk yang seolah-olah menyeruak masuk hingga ke dasar-dasar jiwa menimbulkan ketenangan batin dan menyegarkan ruang-ruang isi pikiran.

Jelajah kali ini saya tertarik berkunjung pagi-pagi ke Bukit Mondoleko yang berada di Desa Sragi, Kecamatan Songgon, Banyuwangi. Memang wilayah songgon ini mulai berkembang menawarkan wisata alam pegunungan seperti air  terjun lider, temcor, telunjuk raung dan lain-lainnya dan tidak kalah juga wisata hutan pinus yang dikemas menarik juga wisata minat khusus untuk rafting di sungai. Bukit Mondoleko sendiri merupakan wisata yang menawarkan wisata hutan pinus dengan pemandangan panorama 5 gunung yang membentengi wilayah Bumi Blambangan Banyuwangi dari daerah sekitarnya yaitu Stubondo, Bondowoso dan Jember.

lapangan bola depan smp kosgoro
Rute Menuju Bukit Mondoleko
Jika kalian dari Kota Banyuwangi, rute ke Bukit Mondoleko searah dengan rute menuju Hutan Pinus Songgon, Air Terjun Temcor-Telunjuk Raung. Rutenya dari Kota Banyuwangi ambil arah menuju Rogojampi – Memasuki Rogojampi ambil terus sampai perempatan Kantor Pos ambil ke kanan arah Songgon – Ikuti jalan tersebut sampai melewati pasar Songgon akan ada petunjuk jalan menuju ke Sragi – ikuti petunjuk jalan ke Sragi dan ikuti jalan tersebut – melewati pertigaan ke Pinus Songgon – lalu sampai di pertigaan Sragi ambil ke kiri dan kalian akan menemukan lapangan bola yang mempunyai tower sinyal (depan SMP Kosgoro Sragi) dengan petunjuk jalan menuju bukit Mondoleko. Ikuti saja petunjuk tersebut hingga sampai parkiran kendaraan. Jika kalian mengandalkan google map tandai saja SMP Kosgoro Sragi atau SD 1 Sragi karena lapangan bola bertower berada di dekat sekolah tersebut.
lapangan bola bertower sinyal (warna biru)
rumah pohon
goa di mondoleko
Dari parkiran kendaraan ke puncak bukit Mondoleko harus jalan kaki selama kurang lebih 10 menit. Trackingnya pun menyenangkan akan melewati persawahan warga, menyebrangi sungai, dan melewati hutan pinus. Ditengah perjalanan terdapat rumah pohon yang berdiri di pohon randu (kapuk) yang cukup besar yang bisa dijadikan spot foto. Selain itu terdapat pula Goa. Goa tersebut dulunya digunakan sebagai tempat persembunyian para pejuang kita untuk melawan penjajahan jepang dan belanda. Kita tidak diperbolehkan masuk karena dikhawatirkan terjadi kejadian yang tidak diinginkan. Pengelola juga sudah memberi pagar sehingga pengunjung tidak dapat memasuki Goa tersebut. Menurut pengelola Goa ini berada persis di bawah puncak bukit Mondoleko berbentuk ruangan besar dan ada lorong-lorong kecil yang diyakini bisa tembus ke pantai Grajagan.

pos shelter dan musholla sebelum jalan naik ke puncak bukit mondoleko
Udara sejuk pagi hari membuat perjalanan menanjak bukit Mondoleko menyelusuri hutan pinus tidak terlalu melelahkan. Di puncak bukit Mondoleko terdapat gardu pandang yang berbentuk dermaga, seperti halnya dermaga-dermaga pandang yang ada diatas bukit di kawasan Mangunan dan Dlingo, Yogyakarta. Dermaga ini dibuat agak menjorok ke arah jurang. Dari ujung dermaga pandang inilah kita bisa melihat pemandangan syadu yang melintang berupa barisan 5 (lima ) gunung yang membentengi daerah Bumi Blambangan Banyuwangi dari kabupaten Jember, Bondowoso dan Situbondo. Gunung-gunung tersebut bernama Raung – Suket– Kendil– meranti – Merapi. Sayangnya gunung Kawah Ijen tidak terlihat dari sini, namun berada di tengah antara gunung Meranti dan Merapi.
background gunung raung-suket-kendil
gunung Raung-Suket
Gunung Meranti- Merapi
Puncak Bukit Mondoleko tidak hanya ada dermaga pandang, juga terdapat wahana asik seperti shelter yang cukup besar, bangku-bangku alami dari batang pohon, hammock, dan beberapa ayunan yang dihiasi kain warna-warni yang digantung. Rasanya seperti berada di negeri tertinggi di dunia, Nepal. Di dekat ayunan terdapat penjaja makanan ringan dan minumanyang merupakan milik kelompok pengelola bukit Mondoleko. Di sebelah pendopo kecil penjaja makanan tersebut terdapat sejenis pohon Beringin yang berdiri miring ke kanan, memiliki pagar dan sebuah kuburan. Kuburan tersebut diyakini adalah Seseorang yang dahulu membuka alas di daerah ini dan seiring berjalannya waktu menjadi sebuah perkampungan.

ayunan dan shelter di puncak bukit Mondoleko

kelebihan muatan
Fasilitas yang ada di Bukit Mondoleko sudah layak menjadi sarana wisata. sidah terdapat tenpat parkir yang mencukupi, warung penjaja makanan-minuman, fasilitas kamar mandi dan tempat ibadah serta gazebo yang bisa digunakan untuk bersantai. Terdapat juga camping ground, sayangnya saat saya sedang dalam proses pembuatan. Masalah dermaga pandang yang mempunyai kapasitas maksimal yaitu 5 orang masih belum ditaati, saat saya berkunjung dermaga pandang sudah berdiri lebih dari 5 orang. Harapannya pengunjung dan pengelola bisa saling menjaga keamanan dan keselamatan lokasi wisata terutama pada dermaga pandang dengan cara saling mengingatkan jika dermaga sudah melebihi kapasitas supaya tidak terjadi hal yang diinginkan.

menuju air terjun Telunjuk Raung
Angin berhembus dari timur,  menelisik ruang-ruang antar pucuk pinus, burung-burung kecil terlihat mulai berpindahan dari pohon satu ke pohon lainnya. Tersadar teh hangat dan sejumlah pisang goreng sudah tersantap habis. Saya bertolak dari bukit Mondoleko menuju Air Terjun Telunjuk Raung yang lokasinya tidak jauh dari Bukit Mondoleko.


Pemandangan Laut dan Pulau Tidore dr Ternate (Sumber foto: RinMuslimah)
Carilah posisi duduk yang nyaman, ingatlah gambar pemandangan diatas ini, lalu pejamkan mata, rasakan seolah-olah duduk manis atas kapal yang berlayar menuju pulau kecil di depan sana, pejamkan mata santaikan raga rasakan udara dan angin disekitarmu seolah-olah merasakan angin yang berhembus melewati perahu yang kamu tumpangi. Bayangkan perlahan-lahan perahumu mulai menepi di pulau kecil tersebut lalu berkata dengan penuh semangat “To Ado Re”.

To Ado Re” yang artinya adalah “Aku Telah Sampai”. Ketiga suku kata tersebutlah menjadi asal muasal penamaan Pulau Tidore, pulau kecil nan elok di Perairan Maluku Utara. Pulau kecil yang mempunyai sejarah yang sangat panjang, bentang alam yang menakjubkan seakan Tidore tercipta saat Tuhan Sedang Tersenyum. Penamaan Nama Tidore awalnya adalah “Limau Duko” atau “Kie Duko” yang berarti pulau bergunung api. Penamaan tersebut sesuai dengan keadaan geografisnya dimana pulau Tidore merupakan gunung api yang terangkat ke permukaan laut. Penamaan tersebut berubah menjadi Tidore karena terjadi peristiwa sejarah.

Menurut kisah yang saya dengar, dahulu di Limau Duko (nama Tidore sebelumnya) sering kali terjadi pertikaian antar Momole sampai akhirnya sekitar Tahun 846 M, rombongan Ibnu Chardazabah, utusan Khalifah al-Mutawakkil dari Kerajaan Abbasiyah di Baghdad tiba di Tidore. Mengetahui adanya pertikaian antar Momole, salah satu dari rombongan yang bernama Syech Yakub berupaya mendamaikan dengan memfasilitasi perundingan/Pertemuan. Pertemuan disepakati di atas sebuah batu besar di kaki gunung Marijang, gunung yang berada di sebrang selatan Tidore. Kesepakatannya, momole yang tiba paling cepat ke lokasi pertemuan akan menjadi pemenang dan memimpin pertemuan. Dalam peristiwa itu, setiap momole yang sampai ke lokasi pertemuan selalu meneriakkan To ado re, karena merasa dialah yang datang pertama kali dan menjadi pemenang. Namun, ternyata beberapa orang momole yang bertikai tersebut tiba pada saat yang sama, sehingga tidak ada yang kalah dan menang. Berselang beberapa saat kemudian, Syech Yakub yang menjadi fasilitator juga tiba di lokasi dan berujar dengan dialek Iraknya: Anta thadore yang artinya “Kamu Datang”. Karena para momole datang pada saat yang bersamaan, maka tidak ada yang menjadi pemenang, akhirnya yang diangkat sebagai pemimpin adalah Syech Yakub. Sejak saat itu mulai dikenal kata Tidore, kombinasi dari dua kata: Ta ado re dan Anta Thadore.

Sejarah kisah asal muasal penamaan Tidore sudah mengajarkan kita bahwasannya perselisihan yang terjadi bisa diselesaikan dengan cara Musyawarah untuk mufakat atau  kesepakatan. Musyawarah untuk mufakat ternyata sudah diterapkan sejak jaman dahulu dan hal tersebut sangat berakar di kehidupan masyarakat Indonesia.

Sultan Nuku (Sumber Foto Slideshare)
Sejarah panjang perjuangan Tidore dalam menentang penindasan dari bangsa-bangsa Eropa seperti Spanyol, Portugis dan Belanda yang mulanya hanya menawarkan kerjasama perdagangan untuk rempah-rempah berubah menjadi tindakan penindasan dan berupaya memonopoli serta menjajah tanah air termasuk juga wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore. Perjuangan terkenal adalah perjuangan dari Sultan Nuku yang membawa Kesultanan Tidore mencapai puncak kejayaan. Sultan Nuku mampu mempertahankan selama 25 tahun berperang mempertahankan tanah air terutama wilayah Kesultanan Tidore meliputi Pulau Tidore, Halmahera Tengah, pantai Barat dan bagian Utara Irian Barat serta Seram Timur. Dengan wilayah yang terpencar tersebut Sultan Nuku melakukan perpindahan ke daerah lain, berlayar keperairan lainnya, mengatur taktik dan strategi serta terjun ke medan perang melawan penjajahan. Sultan Nuku bertekad dan tujuan membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajah dan hidup damai dalam alam yang bebas merdeka. Cita-citanya membebaskan seluruh kepulauan Maluku terutama Maluku Utara (Maloko Kie Raha) dari penjajah bangsa asing. Dengan Tekad tersebut Sultan Nuku menjelma menjadi momok yang menakutkan pemerintah Kolonial Belanda di daerah Ternate, Banda dan Ambon. Hingga usia senja Sultan Nuku masih melakukan perjuangan tanpa kenal lelah dan akhirnya wafat pada usia ke-67 pada tahun 1805.

Pemandangan dari atas benteng Tahula ( Sumber Foto : Langkah jauh)
Benteng Torre ( sumber foto : langkah jauh)
Setelah melewati peristiwa demi peristiwa, Tidore kini mempunyai banyak peninggalan Sejarah yang melimpah dengan balutan bentang alam yang Indah. Datangnya bangsa Spanyol, Portugis, dan Belanda meninggalkan benteng-benteng bersejarah yang sampai saat ini masih berdiri menjadi saksi-saksi bisu perkembangan Tidore dari masa ke masa. Benteng Tahula merupakan benteng yang dibangun bangsa Spanyol. Dari benteng ini seluruh penjuru kota Soasio dan pemandangan lautan indah terlihat jelas sekali. Mungkin hal ini juga alasan Bangsa Spanyol mendirikan benteng disini untuk melindungi dan mengawasi rempah-rempahnya. Benteng selanjutnya adalah benteng Tore yang letaknya tidak jauh dari Benteng Tahula dan pemandangan yang juga sama. Bedanya benteng Tore merupakan peninggalan bangsa Portugis. Saya sedikit menghirup nafas dalam, membayangkan berada di bagian atas benteng-benteng tersebut lalu membayangkan kembali ke Tidore masa lalu. Membayangkan hiruk pikuk kota Soasio dan lalu lalang kapal dagang yang hendak membawa keluar rempah-rempah Tidore.

Tari Soya-Soya ( Sumber Foto : Maluku-Utara)
Tari Soya-Soya merupakan tarian khas dari daerah Maluku Utara begitu pula dengan Tidore. Tarian ini tercipta untuk membakar semangat para prajurit melawan bangsa Portugis saat itu dan kata “Soya-Soya” itu sendiri juga berarti “Semangat Pantang”. Penari tari Soya-Soya memakai cukup menarik, mereka berpakaian dasar berwarna putih, kain sambungan serupa rok berwarna merah, hitam, kuning dan hijau. Setiap penari juga mengenakan ikat kepala berwarna kuning (taqoa) yang merupakan simbol seorang prajurit perang. Kini tari Soya-Soya merupakan tari kebanggaan masyarakat Tidore, anak-anak sejak kecil pun sudah diajari tarian ini bahkan saat masuk sekolah dasar tariann ini diajarkan kembali.
Ritual Lufu Kie tahun 2015 ( foto : Adhiebudho)
Ada satu tradisi budaya yang menarik perhatian saya yaitu Ritual Lufu Kie. Ritual ini diselenggarakan untung mengenang Kufu Fei yang merupakan gelar dari Armada Perang yang berhasil mengusir VOC dari Tidore. Ritual ini dilaksanakan dengan mengelilingi pulau Tidore dengan formasi Armada Kapal seperti kala itu mengusir VOC dari Tidore. Formasinya disebut formasi Hongi Taumoi Se Malofo yang terdiri atas 12 perahu kora-kora tempur dan perahu Kesultanan Tidore yang berisikan 12 pasukan utama Angkatan Laut Kesultanan Tidore. Pada saat itu dengan peralatan yang sudah pasti kalah dari VOC dengan tekad pantang menyerah dari pejuang-pejuang Tidore, VOC dapat diusir. Dengan adanya penyelenggaraan ritual ini, semangat perjuangan mempertahankan tanah air tetap terus terjaga, menyala-nyala selamanya.

Tidore, negeri rempah-rempah yang memiliki sejarah dan pemandangan menakjubkan. Generasi 90-an seperti saya dan mungkin pembaca sekalian, dulu hanya tau dari mata pelajaran IPS lalu berlanjut mengetahui pemandangan Indahnya lewat gambar pada uang Rp.1000 lalu di era teknologi makin canggih saya makin tahu bertapa indahnya Tidore, bertapa menariknya kisah-kisah sejarah yang saya baca saat menulis ini. Ingin pergi kesana, membawa selembar uang Seribu yang telah saya simpan semenjak beberapa tahun yang lalu dengan harapan siapa tau nanti akan ada kesempatan menginjakan kaki ke pulau tersebut dan berucap “To Ado Re”.

Tidore dari Kejauhan (Sumber Foto : spiceislandsblog)
Tertarik mengunjungi Tidore, Yuk Visit Tidore, simpan uang Seribu-mu sebelum berganti dengan uang baru :D.

Artikel ini dibuat untuk mengikuti Lomba Menulis Blog dengan Tema : Tidore Untuk Indonesia 2017.

Suasana Pagi Pantai Syariah
Pulau Santen punya banyak cerita, wajahnya dulu sering dinilai kurang baik karena tidak terawatt, banyak sampah berceceran di sepanjang pantai kini mulai berbenah dan berubah dengan munculnya pantai Syariah sebagai titik balik pulau santen menuju hal yg lebih baik.


Pantai Syari’ah merupakan pantai yang berada di pesisir sebelah utara pulau Santen. Pantai Syariah ini baru launching oleh Pemda Banyuwangi beserta Kelompok Masyarakat Pulau Santen. Pantai ini mempunyai konsep wisata halal yang salah satunya yaitu memisahkan pengunjung wanita dan pria. Mungkin ini adalah pantai pertama yang memisahkan pengunjung pria dan wanita di Indonesia.

pertigaan SD Negeri 2 Karangrejo tinggal ambil kiri lalu lurus
Rute menuju ke Pantai Syariah/Pulau Santen dari Kota Banyuwangi.
Rute menuju pantai syariah dari kota Banyuwangi cukup mudah kok, dari simpang lima kota Banyuwangi arahkan kendaraan anda ke arah selatan menuju lampu lalu lintas hotel Slamet – ambil kiri ikuti jalan besar hingga menemukan perempatan pasar Pujasera (pasar burung) ambil lurus ke timur- ikuti jalan tersebut  hingga pertigaan klenteng – ambil arah ke kiri (ke timur) hingga menemukan pertigaan SDN 2 Karangrejo, ambil kiri lalu ikuti jalan tersebut hingga sampai di lokasi Parkir Pantai Syariah, Pulau Santen. Tarif Parkir untuk mobil sebesar Rp. 4.000 dan Motor sebesar Rp. 2.000.

jembatan menuju pulau santen
Pulau Santen dikategorikan Pulau karena terpisah dari daratan utama oleh sebuah sungai yang bermuara di selat bali. Sungai tersebut juga memisahkan antara Pulau Santen dan Pantai Boom. Karena terpisah oleh sungai, dari parkiran ke Pulau Santen tidaklah perlu menyebrang menaiki perahu seperti halnya ke pulau Tabuhan, hanya berjalan kaki menyebrangin jembatan kayu. Jika datang di pagi hari atau sore hari yang cerah, pemandangan pegunungan yang membentengi kabupaten Banyuwangi terlihat cukup jelas :D. Setelah melewati Jembatan Kayu tersebut maka terlihatlah Pantai Syariah dengan payung dan laybag warna warninya yg menarik perhatian. Penamaan Pulau Santen karena diseluruh pulau ini ditumbuhi oleh pohon-pohon Santen

peraturan di pantai Syariah, yuk dibaca
Pantai Syariah Wanita dan Pria di Pisah :D

Sesampainya di Pantai Syariah akan terlihat papan petunjuk peraturan dan petunjuk memisahkan pengunjung Wanita dan Pria. Hal tersebut merupakan salah satu konsep yang direncanakan untuk menjadikan Pulau Santen merupakan tempat wisata berkonsep wisata halal. Menurut sumber yang saya dapat dari penduduk setempat nantinya akan ada warung yang menjajakan makanan-makanan halal, melarang pengunjungnya berpakaian tidak sopan, ada mushalla yang siap digunakan sewaktu-waktu adzan berkumandang, puskemas dan hal-hal lain selama tidak berbenturan dengan konsep wisata halal.

laybag dan payung warna-warni
Pantai Syariah, area wanita cukup menarik, adanya kursi meja laybag pasir beserta payung khas bali yang dimodifikas dengan warna warni yang mencolok. Jika dilihat rasanya mirip dengan Pantai Double Six di Bali. Fasilitas tersebut disewakan seharga 10ribu saja sudah mendapatkan dua kursi laybag beserta mejanya. Sayangnya karena baru dibuka, belum ada penjaja makanan dan minuman untuk disantap untuk menikmati suasana pantai Syariah ini. Harapannya penjaja makanan dan minuman adalah penduduk lokal pulau Santen saja sehingga bisa mendongkrak penghasilan masyarakat pulau santen yang mayoritas merupakan nelayan. Dibelakang kursi-meja laybag pasir tempatnya sangat teduh karena terdapat barisan pohon Santen yang berjejer rapi. Pengunjung juga bisa menggelar tikar dan menyantap makanan yang dibawa dari rumah.

Pantai Syariah area Pria merupakan area alami dan bisa dibilang merupakan area aslinya pulau Santen. Pohon santen terdapat berjejer bersama pohon waru laut yang berbunga kuning. Di bawah pohon tersebut terdapat kursi-kursi dan meja dari batang pohon yang rubuh atau batang pohon yang terdampat di pesisir Pulau Santen tersebut. Selain itu pada Pulau Syariah area pira terdapat garasi tempat berlabuhnya jukung-jukung tradisional warga setempat yang biasanya digunakan untuk mencari ikan di pesisir pulau santen.

matahari belum terbit, pihak pengelola sudah membersihkan pesisir pantai
Harapan kedepan semoga dengan branding wisata halal dan Pantai Syariah sebagai pantai khusus wanita menjadi titik balik bangkitnya kehidupan pulau Santen yang lebih baik lagi. Para wisatawan diharapkan agar membuang sampahnya ditempat yang telah disediakan oleh pengelola. walau ada yang membersihkan tiap pagi dan tiap saat tetap saja sampah yang dibawa adalah tanggung jawab masing-masing untuk membuangnya.

Tertarik ke mengunjungi Pantai Syariah, Pulau Santen kah kalian?

nb : Postingan selanjutnya (bukan setelah ini) ingin memperlihatkan foto-foto perubahan wajah pulau santen 2 tahun belakangan. ditunggu yak :)
suasana senja di Basecamp Cafe
Sore sepulang kerja mempunyai sisa waktu yang cukup untuk istirahat sejenak sejenak sebelum pulang ke rumah, kadang saya mlipir ke pantai menikmati suasana dan semilir angin panta, salah satunya menikmati sore di Basecamp Cafe, sebuah warung di pesisir pantai Kampung Mandar.

Basecamp Cafe merupakan sebuah warung yang letaknya di daerah pesisir pantai Kampung Mandar. Pesisir pantai Kampung Mandar ini belum lama ini ramai dikunjungi warga setempat di sore hari setelah sepulang kerja, setelah menyelesaikan aktivitas rutin harian karena keberadaan Basecamp Cafe tersebut letaknya pas di tepian pantai, mungkin juga karena adanya perubahan kebijakan kenaikan harga tiket masuk pantai boom yang membuat pengunjung pindah ke pesisir pantai kampung mandar.
(rute 1) belokan ke basecamp cafe sebelum loket masuk pantai boom
(Rute 2) jalan belitung,utara pasar kampung arab 

Rute ke Basecamp Cafe
Untuk menuju Basecamp Cafe dari Kota Banyuwangi cukup mudah. Dari Simpang Lima Kota Banyuwangi, ambil arah ke Pantai Boom melewati Taman Blambangan , pertigaan pom bensin/PLN belok kanan – sebelum jembatan dekat loket retribusi masuk ke pantai boom ada jalan ke kiri memasuki perkampungan nelayan – masuk ke jalan tersebut ikuti plengsengan atau pesisir sungai kecil tersebut hingga mentok menemukan pantai dan Basecamp Cafe. Rute yang lain kalian bisa melewati  Jalan Belitung di sebelah utara Pasar Kampung Arab, daerah Lateng. Ikuti Jalan/Gang Belitung tersebut sampai mentok bertemu Plengsengan lalu ambil kiri untuk sampai ke Pantai dan Basecamp Cafe.

pintu depan Basecamp Cafe
Basecamp Cafe merupakan warung yang sederhana, bangunan utama terbuat dari bambu, menawarkan suasana pantai berpasir hitam dengan pemandangan laut selat Bali dan Pulau Dewata yang menawan hati terlihat dari jejauhan. Menu yang ditawarkan seperti halnya warung kopi pada umumnya ada berbagai kopi lokal, kopi saset, teh, jus buah-buahan dan beberapa makanan ringan seperti tahu walik, rota bakar, roti Maryam, kentang goring dan lain-lainnya. Range harganya juga terbilang murah dari Rp.3.000-Rp.10.000 saja. Range harga yang saya bilang cukup merakyat apalagi sambil bisa merasakan suasana laut selat bali dan semilir angin lautnya.
suasana sore di hari minggu (ramai)
suasana sore di hari minggu (ramai)

Favorit saya adalah datang di sore hari sepulang kerja atau setelah puas bersepeda keliling kota saat hari cerah. Memesan segelas es kopi atau es teh atau cemilan ringan. Saya lebih senang memilih di meja bundar yang terbuat dari eks gulungan kabel-kabel besar beratap langit karena lebih leluasa menikmati suasana pantainya, menikmati terpaan angin sore yang membawa pergi penat dan lelah pergi jauh-jauh. Es Kopi sudah tinggal setengah matahari mulai turun, suasana mulai gelap dan warna awan dan langit mulai berwarna jingga. Lampu-lampu hijau tosca milik Basecamp Cafe mulai dinyalakan, lampu menara suar juga mulai menyala, air laut masih nampak tenang belum pasang, kapal-kapal nelayan belum ada yang melaut karena kondisi laut belum pasang. Di tengah suasana tersebut saya menyalakan lagunya Saras Dewi berjudul Lembayung Bali.

“Menatap Lembayung di Langit Bali, dan kusadari betapa berharga kenanganmu. Dikala jiwaku tak terbatas bebas berandai mengulang waktuuuu ….”
Senja di Basecamp Cafe, Banyuwangi
Ternyata angin sore memang dapat membawa pergi penat dan lelah namun tidak kenangan-kenangan yang pernah dialami.

Es Kelapa Muda atau lebih dikenal dengan nama Es Degan memang enak dinikmati pada cuaca terik kota Banyuwangi. Namun disudut sebuah desa di Banyuwangi, terdapat warung bakso yang menjajakan makanan yang tidak biasa yaitu Bakso Degan atau disebut Juga Bakso Kelapa Muda.

Warung Bakso bernama warung Bakso Mba Tatik yang terletak di Dusun Karang Sari, Desa Segobang Kecamatan Licin, Banyuwangi. Di desa tersebut terdapat banyak pohon-pohon kelapa sehingga tidaklah aneh jika Mba Tatik mencoba berjualan Bakso Kelapa Muda karena bahan berupa Kelapa Mudanya mudah didapat di Desa mereka. Bakso Kelapa Muda buatan Mba Tatik ini terbilang berani dan baru karena mulai dijual pada bulan Januari. Untuk saat ini Warung Bakso Kelapa Muda mba Tatik ini adalah satu-satunya di Banyuwangi sehingga jika kalian ingin mencobanya harus siap blusukan ke Desa Segobang, Licin.

penampakan warung bakso Mbak Tatik
Rute ke Warung Bakso Degan Mbak Tatik
Rute menuju Warung Bakso Kelapa Muda Mba Tatik dari Kota Banyuwangi hanya memakan waktu sekitar 20-30 menit saja dengan pemandangan khas desa yang memanjakan mata. Dari Simpang Lima Banyuwangi  ambil ke arah barat menuju Kawah Ijen – Melewati Rel Kereta Api – Patung Barong –Desa Olehsari – Kantor Kecamatan Glagah –Angkringan Piyu – Mentok di Pertigaan Licin ambil ke kiri (jika ke kanan ke Kawah Ijen) – Ikuti jalan tersebut melewati pertigaan Omah Joglo – Hutan Rakyat –Dusun Karangsari – saat memasuki Dusun Karang Sari Desa Segobang pelan-pelan saja nanti ada masjid Kanan jalan – setelah masjid ada warung bakso dengan spanduk bergambar Bakso Kelapa Muda

sederhana
Warung Bakso Mbah Tatik cukup sederhana, bergabung dengan warung toserba, ada dua meja panjang dengan kursi plastik terpisah-pisah untuk pengunjung yang ingin menikmati Bakso Kelapa Muda, Bakso Biasa dan Mie Ayam buatannya. Sambil menunggu pesanan Bakso Kelapa Muda, saya memperhatikan cara membuat Bakso Kelapa Mudanya. Air kelapa muda yang sudah dibuka dimasukan kedalam panci dan dipanaskan, sambil menunggu kuahnya panas kelapa muda yang sudah dikupas diisi dengan bihun, daun seledri, bawang dll berikut juga baksonya. Setelah sudah siap air kelapa muda yang sudah panas dituangkan kembali kedalam buah kelapa yang sudah siap. Lalu Bakso Kelapa Muda tersebut siap dihidangkan.
kelapa muda dibuka terlebih dahulu
siap disajikan kepada pembeli

Pertama kali yang saya coba adalah kuahnya, iya kuahnya rasanya menarik, kuah bakso bercampur dengan air kelapa muda menurut lidah saya cocok. Mulai dengan menambahkan sambel, saus tomat dan kecap, rasa kuahnya berubah kembali dan rasanya juga unik. Makan bakso kelapa muda pun tidak seperti makan bakso dengan mangkuk pada umumnya. Lubang dari buah kelapa yang tidak terlalu besar membuat kami sebagai penikmat bakso antusias menyeruput kuah, memotong bakso bahkan menyerut daging buah kelapa tersebut.
bakso degan Banyuwangi
Untuk kalian yang ingin mencobanya bisa langsung ke warung bakso mba Tatik tersebut di dusun Karangsari, Desa Segobang Kecamatan Licin, Banyuwangi. Warung tersebut buka dari jam 9 pagi hingga 8 malam. Harga 1 porsi Bakso Kelapa Muda hanya Rp. 15.000 rupiah saja. Sehabis makan bakso bisa juga mampir ke Air Terjun Pakudo yang letaknya tidak jauh dari Warung Baksonya. Sekilat tentang air terjun Pakudo bisa dibaca disini -->> Air Terjun Pakudo, Banyuwangi

air terjun Pakudo, Desa Segobang, Licin, Banyuwangi :D


Air Terjun Jagir :D
Mandi Pagi di hari libur itu malasnya minta ampun. Yahh, jika flashback sekian puluh tahun saat masih kecil, mandi pagi itu pantangan karena banyak godaan berupa film kartun penuh hampir setengah hari. Sampai ada quote “udah bosan mandi, gerakannya itu-itu aja”, ada juga yang bilang “ngapain mandi nanti kotor lagi” dan digali lebih jauh, selalu saja ada alasan-alasan baru untuk malas mandi. Mengatasi kebosanan yang meyebabkan malas mandi mungkin karena bukan gerakannya itu-itu aja tapi kalian butuh tempat baru untuk mandi, salah satunya mandi di alam bebas. Seperti pengalaman saya mandi pagi-pagi di Air Terjun Jagir Banyuwangi XD

Air Terjun Jagir terletak di Dusun Kampunganyar, Desa Taman Suruh, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Air terjun ini merupakan destinasi unggulan karena dengan mengunjungi tempat ini kalian dapat melihat 3 air terjun sekaligus dalam satu tempat dan  jaraknya berdekatan. Air terjun ini lokasinya cukup strategis, dekat dari pusat kota Banyuwangi, dan sejalur dengan wisata ke kawah ijen, kondisi jalan yang aspal, melewati perkampungan, pemandangan area persawahan dan  gunung Marapi dan Meranti yang kadang terlihat megah.
Rute ke Air Terjun Jagir dari Kota BanyuwangiUntuk menuju ke air terjun Jagir dari kota Banyuwangi cukup mudah, arahkan kendaraan ke simpang lima kota Banyuwangi lalu ambil arah barat – melewati stadion pangeran diponegoro- perempatan lampu lalu lintas masih ambil lurus ke barat – melewati pintu rel kereta api – pertigaan patung barong smbil lurus ke barat ke arah perkebunan kalibendo – melewati DesaWisata Kemiren – dari sini tinggal ikuti jalan tersebut saja sekitar 15 menit jalan santai nanti saat memasuki Dusun Kampunganyar akan ada tulisan/petunjuk “Air Terjun Jagir atau Parkir Air Terjun” – parkirkan kendaraan lalu jalan sebentar menyelusuri jalan setapak yang sudah ada.
pemandangan air terjun saat menuruni jalan setapak
Sehabis sunrise di pinggir pantai, saya mengarahkan kendaraan menuju air terjun Jagir lewat rute yang sudah dijelaskan diatas. Lama tempuh dari Banyuwangi kota sampai ke Air Terjun ini sekitar 15- 20 menit saja. setelah sampai parkir kendaraan, saya langsung bergegas mengayunkan langkah kaki menuruni jalan setapak, suara gemerincik air terjun sudah terdengan indah, apalagi karena masih pagi hari suara-suara burung berkicau merdu menyapa kedatangan saya.  Sesaat angin berhembus melewati dasar lembah,  membuat tanaman bambu yang ada disekitar air terjun seakan ikut “berkicau”.
berenang :D
Air terjun Jagir  memiliki ketinggian sekitar 10 meter. Tebingnya ditumbuhi oleh sejenis tumbuhan merambat yang bisanya ada disekitar air terjun. keberadaan air terjun tersebut menambah pesona air terjun Jagir.  Airnya berasal dari sumber mata air yang mengalir sepanjang tahun pertanda siklus air di sekitar wilayah ini masih terjaga dengan baik. Air dari sumber air tersebut sebagian ada yang terjun menjadi air terjun Jagir, sebagian juga dialirkan ke pipa PDAM, bangunan kamar mandi untuk warga setempat - pengunjung, dan sebagian mengalir jatuh pada tebing yang lain. Karena hal itu air terjun ini juga disebut air terjun kembar karena dalam satu tebing dapat dilihat dua air terjun. Air dari sumber air tersebut mengalir kebawah namun tidak langsung bergabung menyatu besama aliran sungai, namun jatuh terlebih dahulu ke dalam kolam semi alami lalu  berlanjut mengalir ke sungai. Kolam semi alami ini kedalamannya hanya sekitar 1 meter menjadi favorit pengunjung terutama saya.

terapi digigit ikan :p
Pagi hari jam 6 pagi, kondisi air terjun masih sepi sekali, saya sering menjadi pengunjung pertama yang datang, kadang pula sudah ada warga sekitar yang mengantarkan anaknya mandi, berenang dan bermain air di kolam semi alami air terjun Jagir ini. Kolam semi alaminya jernih, dasarnya pun sampai terlihat jelas, bahkan ada banyak ikan kecil-kecil hidup di kolam tersebut. Jika kita duduk di tepi kolam alami dengan menaruh kaki ke dalam air, gerombolan ikan-ikan kecil menggigiti kaki layaknya terapi digigit ikan yang sempat naik daun sekitar beberapa tahun yang lalu.

air terjun satunya yg berada 10 meter sebelah timur air terjun jagir
Pose hits Instagram katanya :p
Setelah puas foto-foto dan mengamati sekitar air terjun, saya memutuskan untuk bermain air menikmati air terjun ini layaknya milik sendiri karena belum ada orang yang datang. Sesekali saya meneguk teh panas yang biasanya sudah saya siapkan dari rumah sebelum berangkat melihat sunrise dan main ke air terjun ini. Sambil menikmati teh, tersirat doa yang cukup egois “semoga pengunjung  yang datang setelah saya datangnya jam 9 saja :D”.
buat yg pengen menggelar tikar piknik bisa disini
Air terjun ini menurut saya memiliki fasilitas yang lengkap, warung penjaja makanan-minuman  yang letaknya diatur tidak terlalu dekat dengan air terjun sehingga pengunjung yang datang benar-benar menikmati suasana air terjun yang asri. Fasilitas kamar mandinya cukup baik dengan bangunan permanen, terdapat pula semacam tempat untuk menggelar tikar di sebrang sungai dengan pemandangan air terjun tersebut.

Letaknya yang tidak jauh dari Kota Banyuwangi membuat tempat ini saya rekomendasikan untuk kalian kunjungi. Apalagi buat kalian yang bosen sama gerakan mandi yang itu-itu aja XD.