Suasana Pesantogan Kemangi Kemiren
Saatnya jelajah kuliner kembali, menjelang sore saya merencanakan berangkat ke salah satu tempat makan yang cukup unik berada di Desa Kemiren, sebuah desa yang dihuni oleh mayoritas Suku Osing, suku asli Banyuwangi. Mendengar disana terdapat salah satu makanan yang sering disuguhkan hanya saat hajatan,syukuran, nikahan saja, Namanya Pecel Pitik.

Mencicip Pecel Pitik tidak lagi harus di acara syukuran, hajatan nikahan dan lainnya, kita bisa menemukannya di Pesantongan Kemangi Kemiren. Pesantogan Kemangi Kemiren ini merupakan tempat yang didirikan oleh Karang Taruna Desa Kemiren dan diresmikan 20 Okteber 2015 lalu. Bangunan dari Pesantogan Kemangi ini mengacu pada arsitektur rumah tradisional Suku Osing. Tempat ini juga terdapat semacam sanggar untuk dilaksanakannya berbagai kegiatan seperti permainan musik tradisional dan latihan atau pentas pertunjukan tarian desa setempat.
Halaman Depan Pesantogan Kemangi Kemiren
Menuju ke Pesantogan Kemangi KemirenKita bisa menggunakan kendaraan pribadi karena tidak ada kendaraan umum sampai kesana. Rute ke Pesatogan Kemangi Kemiren dari kota Banyuwangi Simpang Lima ambil arah barat terus melewati lampu merah hingga menemukan tugu patung Barong, ambil lurus. Ikuti jalan tersebut sampai di Desa Kemiren. Warung Pesantogan Kemangi Kemiren ada di kiri jalan. Perjalanan kira-kira hanya 20-30 menit saja sudah sampai di depan Pesantogan Kemangi Kemiren ini.

Saya datang kesini malam hari sekitar jam 7 malam, suasana cukup shadu. Sampai desa Kemiren, masih terdengar suara shalawat nabi dari mesjid-mesjid yang kami lewati. Masyarakat lalu lalang tidak menggunakan kendaraan,tapi lebih memilih jalan kaki. Samapi di Pesantogan Kemangi terlihat sederhana, berbilik bambu menampilkan nuansa khas Osing. Menu yang bisa dihidangkan tidak terlalu banyak, namun hidangan merupakan makanan khas Osing seperti Pecel Pitik yang notabenenya dihidangkan hanya saat ada perayaan atau hajatan. Makanan selanjutnya adalah sayur Uyah Asem. Hidangan makanan ringan atau bisa disebut Jajanan ada kucur, pisang goreng, serabi dan klemben namun jika hari libur ada menu spesial yaitu Apem juruk Kopi, Jenang Bedil dan Tape Ketot. Untuk minumannya yang spesial adalah Kopi Arabika dan Robusta khas Kemiren yang dipasarkan dengan merek Jaran Kepang.
Menu yang saya Pesan :D
Pecel Pitik
Uyah Asem
Tertarik dengan makanan khas dan kebetulan juga lapar, kami memesan Pecel Pitik dan Uyah Asem. Pecel Pitik bukanlah makanan dengan bumbu kacang yang kalian bayangkan. Pecel pitik berbahan ayam kampung muda yang umurnya sekitar 8 bulan. Bumbu pecelnya sekilas seperti Makanan Sayur Urap yaitu parutan kelapa, bumbu kacang yang sudah disangrai lalu dihaluskan, ditambah bumbu rempah dan bumbu pedas sekaligus ditambah sedikit air kelapa muda. Nyam nyam rasanya cukup manis di lidah, bagi anda penyuka makanan manis, pecel pitik ini wajib kamu coba :D. Sedangkan Uyah Asem mirip seperti Sayur Lodeh namun santannya lebih sedikit tidak sekental lodeh. Rasanya Kuahnya campuran antara pedes asem dan sedikit manis. Lauk utama dalam sayur tersebut masih ayam kampung muda mungkin umurnya sama dengan pecel pitik, sekitar 8 bulan.
kopi kemiren :9
Sambil menyantap hidangan yang dipesan, alunan musik seperangkat musik tradisional mulai dimainkan pemuda setempat, rasanya nyaman sekali, syahdu dan tak sadar makanan yang kami santap sudah habis. Sambil menikmati alunan musik tradisional kami mencoba memesan kembali kopi kemiren, menikmati alunan musik tradisional, menunggu hujan kecil yang enggan berhenti. Warung Makan Kecil Karang Taruna Desa Kemiren ini perlu kalian coba Kunjungi ^^


Jajanan - Makanan Tradisional Masyarakat Osing

Makanan tradisional dan khas setempat pasti menjadi incaran untuk saya cicipi. Banyuwangi merupakan persinggahan ketiga terlama setelah Jogja dan Lampung. Kali ini saya berkesempatan mencicipi hidangan makanan tradisional masyarakat Osing di Desa Banjar yang sedang mengadakan acara desa bertema Osing Culture Festival.

Dalam Osing Culture Festival ini mengangkat tema potensi desa banjar yaitu Gula Aren. Letaknya di lereng perkebunan sudah pasti potensi akan Pohon Aren cukup tinggi, mengingat pohon aren sangat baik dan tumbuh di daerah tinggi dan biasanya tumbuh di pinggir-pinggir sungai. Pada acara ini  salah satu yang diperlihatkan oleh Desa Banjar adalah Makanan Khas Desa Banjar yang terbuat dari bahan Gula atau produk-produk hasil pengelolaan air nira pohon aren.
Ikamsi hehe
Membayangkan konsep acaranya saja membuat saya antusias, pagi hari berangkat ke Desa Banjar yang letaknya satu arah dengan arah mau ke Ijen. Desanya asri, dikelilingi hamparan sawah, air di sungai kecil bersih untuk bermain-main air. Sebelum acara di mulai beberapa Ibu2 warga setempat atau kita sebut saja Ikamsi (Ibu2 Kampung Sini). Ibu2 ini berpakaian rapi, bisa dibilang cukup manis di usianya. menawarkan beberapa hidangan yang asing dan belum pernah dicicipi. Ikamsi cukup sabar dan senang menjawab pertanyaan saya atau mengulangan bahkan mengeja nama makanan tradisional yang susah sekali saya eja :D. Ini dia makanan tradisional masyarakat Osing yang mereka hidangkan

1. Jenang Procot

Namanya cukup unik, Procot. Kata yang asing buat saya haha. Makanan ini juga berbahan dasar dari gula aren sehingga makanan ini berwarna coklat. Kemasan jenang ini cukup unik berbentuk seperti keong atau bekicot. Mlocrot, dinamakan demikian karena makannya dengan cara di procot.  Sebelum dimakan jenang tersebut diberi Santen terlebih dahulu di atasnya sebelum akhirnya di procot. Untuk lebih jelasnya bagaimana di procot itu sepertinya harus dipraktekan langsung :D
cara makannya seperti ini :)

2. Awug-awug dan Jokong
awug-awug
Awug-awug dan Jokong hijau merupakan makanan dibungkus oleh daun pisang. Sepertinya saya pernah menemukan makanan di Jogja.  Awug-awug terbuat dari tepung ketan, tepung beras, parutan kelapa dan diberi cairan gula merah. Pada acara Osing Culture Festival gula yang digunakan menggunakan Gula Aren. Sedangkang Jongkong hampir sama dengan awug-awug hanya saja berwarna hijau. Saya kurang tau bahan dasar apa yang membuat Jongkong ini berwarna hijau hehe
jongkong

3. Kopi Utek-Utek
Kopi dan Utek-utek
Kopi Utek-Utek ini merupakan cara minum kopi kebiasaan masyarakat setempat. Utek-utek merupakan jajanan atau cemilan yang terbuat dari Gula aren yang kering bercampung dengan kacang. Kopi yang disuguhkan merupakan kopi hitam dari perkebunan kopi desa banjar dan diolahdan dibuat sendiri. Kopi yang dihidangkan dalam Kopi Utek-Utek ini tanpa gula, pahit-pahit semestinya kopi. Rasa manis didapat berasal dari Utek-utek tersebut. Seteguk kopi, satu gigit utek-utek, saya membayangkan betapa nikmatnya minum kopi utek-utek setelah pulang dari kerja, atau istirahat setelah bekerja. Sungguh nikmatnya Ngopi J

4. Telo Rebus Gula Aren (ga tau nama lokalnya)
Telo Rebus Gula Aren
Telo yang di rebus bersama air nira yang hendak matang atau gula aren yang di cairkan kembali. Namun kebanyakan warga setempat membuatnya sekaligus memasak Nira aren. Sesudah Telo matang direbus, telo diangkat dan dihidangkan. Beberapa juga menghidangkan dengan memberi taburan parutan kelapa dan beri topping penutup dengan gula aren cair kembali.
Pisang Rebus Gula Aren
Pengganti ketela atau telo jika sedang tidak ada bisa menggunakan buah pisang dan rasanya wihh terutama bagi yang tidak suka makan pisang tanpa diolah seperti saya hehe. Sepertinya hidangan seperti ini enak menjadi makanan berbuka puasa nanti.

5. Lempok Sawi

Sawi dalam bahasa Osing bukanlah sayuran melainkan Telo, Ketela, Singkong. Terbuat dari parutan telo atau ketela yang dipadatkan, dan setelah pada direbus bersama rebusan air nira yang hendak menjadi gula arena tau gula aren yang dicairkan. Setelah cukup matang bisa dihidangkan dengan memberikan sedikit gula aren cair di atas piring.

Jajanan tersebut mungkin hanya sedikit dari banyaknya jajanan dan makanan tradisional khas masyarakat osing lain yang tidak kalah unik. Harapan saya sih, semoga bisa mencicipi hidangan masyarakat osing lainnya selama masih di Banyuwangi ^^.

yuk ke Banyuwangi, Bukan hanya mengunjungi wisata-wisata alamnya tapi juga cicipi Kulinernya




nb jika ada penulisan nama mohon saya dikoreksi ya hehe

Sunrise van Java, julukan dari Kabupaten Banyuwangi yang terletak diujung timur pulau Jawa dank arena letaknya tersebut selalu menjadi yang pertama mengalami matahari terbit di Pulau Jawa. Tulisan ini merupakan Part 2 dari tulisan sebelumnya yang bisa kalian baca di sini (Spot Menikmati Sunrise di Banyuwangi Part I).

6. Savana Sadengan

Savana ini terletak di Taman Nasional Alas Purwo yang letaknya kurang lebih sekitar 2 jam dari Kota Banyuwangi. Savana ini merupakan padang rumput buatan yang dibuat sebagai habitat Banteng Jawa dan satwa lainnya seperti rusa, babi hutan, kancil, merak dan lainnya. Jika ingin menikmati sunrise disini, kalian bisa berangkat pagi buta atau menginap berkemah di bumi perkemahan TN Alas Purwo di Pantai Pancur. Selain mendapatkan Sunrise menawan, kalian bisa melihat aktivitas satwa banteng yang mencari makan di pagi hari.

7. Teluk Banyubiru

Sunrisenya begitu menawan, biasanya menikmati sunrise kesini pasti masih terombang-ambing dilautan. Sehingga matahari terlihat seolah-olah muncul dari lautan, namun jika makin masuk ke dalam teluk Banyubiru menuju ke pesisir, sunrise yang terlihat agak terhalang perbukitan Taman Nasional Alas Purwo. Sehabis menikmati sunrise dan sarapan barulah bisa menikmati keindahan bawah laut teluk Banyubiru yang mulai terkenal. Untuk ke Teluk Banyubiru tidak bisa dilakukan setiap saat tergantung keadaan Gelombang. Dari info yang saya dapat Jasa Angkutan Ke Teluk Banyubiru tutup mulai Bulan April- September.

8. Muncar

Muncar adalah pelabuhan yang saya bilang cukup besar, namun bukan pelabuhan kapal barang angkut, tapi kapal-kapal nelayan yang punya bentuk yang unik. Salah satunya Kapal Slerek dengan oranamen dan warna-warni yang berani (nanti akan saya bahas tentang kapal ini detail hehe). Sunrise disini juga matahari keluar dari laut. Sayangnya saat datang kesini langit bagian bawah agak berawan sehingga momen matahari muncul perlahan-lahan dari laut kurang terlihat. Namun sunrise di Muncar memang perlu kalian coba. Sekalian melihat aktivitas sibuk Pasar Ikan pagi-pagi dan uniknya kapal-kapal Slereknya J. Setelah menikmati sunrise, perjalanan bisa kalian lanjutkan ke Taman Nasional Alas Purwo yang agak dekat dari Muncar (1 jam perjalanan).

9. Pantai Bedil

Pantai letaknya agak tersembunyi di antara Pantai Pancer dan Pantai Wediireng. Perjalanan kesini pun hanya bisa ditempuh saat air laut surut saja, saat air laut pasang jalan menuju ke Pantai ini tertutup oleh sapuan ombak. Sunrise disini cukup menawan, panorama laut, pesisir pantai pulau merah, mustika dan pancer yang agak berwarna jingga saat senja menampilkan pemandangan yang tidak biasa. Kadang terlihat hiruk pikuk pagi nelayan pantai pancer yang hendak berlabuh membawa ikan hasil tangkapannya.

10. Pelabuhan Marina

Pelabuhan ini letaknya di sebelah utara persis pantai Boom, Pelabuhan masih dalam tahap pembangunan dan rencananya di pelabuhan inilah ada kapal cepat menuju Bali dan wacananya juga akan ada kapal langsung ke Pelabuhan Lembar, Lombok. Sekilas pemandangan yang terlihat sama seperti pemandangan di Pantai Boom yaitu pemandangan Pulau Bali. Beberapa hal yang berbeda di pelabuhan ini terdapat dua dermaga yang satu terdiri dari tumpukan batu dan yang satu lagi dermaga untuk bersandarnya kapal. Selain itu pemandangan menakjubkan bisa terlihat  di sebelah barat pelabuhan ini yaitu terlihat kesibukan keluar masuknya kapal nelayan dengan background gagahnya dua Gunung Marapi dan Ijen.



Sampai disini dulu Spot Menikmati Sunrise di Banyuwangi part ke-2nya. Untuk Part ke-3 ditunggu yak, masih mengumpulkan bahan, gambar dan waktu luang :D.
Selamat Menikmati Sunrise Van Java di Banyuwangi ^^ 
 

Mangunan, terkenal dengan puncaknya yang menyajikan kabut syahdu layaknya hamparan awan yang bisa kita liat di puncak-puncak gunung namun hanya bisa dilihat pada musim penghujan dengan tips yang sudah pernah saya tulis sebelumnya (Baca : Tips melihat HamparanAwan di Kebun Buah Mangunan). Saat ini mulai memasuki Musim Kemarau, Mangunan juga tampak elok dengan pemandangan lembah yang menawan, pemandangan lekukan sungai Oyo berbentuk huruf S. Pemandangan suasana pedesaan yang asri dan jembatan gantung berwarna kuning, yang sering sekali terdengar suaranya ketika ada yang motor yang melintasinya. Saya pun tertarik turun untuk melihat lebih jauh dan lebih dekat seperti apa lembah mangunan.

Rute Menuju Lembah Mangunan

Saya berangkat agak siang sekitar jam 8 pagi menuju lembah Mangunan, diperjalanan saya sempatkan mampir makan dulu mengingat perut sudah minta jatah hehe. Saya berangkat dari Jogja dengan rute awal hampir sama dengan menuju Puncak Kebun Buah Mangunan. Rute menuju lembah  mangunan dari Jogja cukup mudah kok. Kota Jogja – Bangjo Terminal Giwangan – Lurus ke Jalan Raya Imogiri Timur – Ikuti Jalan Imogiri Timur – Mentok di pasar Imogiri ambil kiri melintasi pasar – pertigaan yang lurus ke makam raja-raja Imogiri kalian ambil kanan seperti halnya menuju ke kebun buah namun setelah itu sebelum jalan menanjak hutan-hutan ada pertigaan, kalian ambil kanan  lalu ikuti jalan besar tersebut sampai di pertigaan desa Banyusumurup ambil kanan, ikuti jalan tersebut sampai mentok pertigaan ambil kiri, ikuti jalan tersebut akan sampai di tepian sungai Oya.

Penting : mulai belok kanan di pertigaan sebelum jalan menanjak jangan malu bertanya  kepada warga setempat jika kalian bingung diperjalanan , karena jalan disini banyak persimpangan jalan desa. Jika bertanya coba tanya dengan kata kunci Jembatan Gantung Selopamioro, Dusun Wunut, Desa Sriharjo.
Perjalanan menyelusuri Lembah Mangunan
Pemandangan Lembah Mangunan
Perjalanan di jalan desa di lembah mangunan ini cukup asri, nyaman dengan suasana pedesaan yang saya bilang bisa merefresh otak yang mulai jenuh dengan keseharian, Sapalah warga yang kita temui diperjalanan, mampir sebentar jika mereka mempersilahkan mampir ngobrol di depan rumahnya. Rombongan anak sekolah berpakaian olahraga sehabis melakukan jalan sehat atau olahraga tertentu dan hendak menyebrang sungai kembali ke sekolahnya. Jika musim kemarau, debit sungai Oya agak berkurang jadi jika malas karena cukup jauh memutar melewati jembatah gantung yang merupakan jembatan satu-satunya disana. Lanjut menyelusuri lembah mangunan, sampailah dimana kita bisa melihat pemandangan bukit-bukit yang membentengi lembah mangunan dengan begitu gagah. Terlihat puncak mangunan dari jauh dan sekilas orang yang lagi foto-foto (kayaknya :p). Suasana asri selain lembahnya ketika melihat area persawahan berundak-undak menaiki bukit mangunan tersebut dan berhenti di Jembatan Gantung.

Jembatan Gantungnya
Memandikan Sapi
Sebelum melihat-lihat  dan bermain di sekitar sungai dan area jembatan gantung, parkirlah kendaraan anda di tempat yang disediakan secara rapih agar  tidak mengganggu jalur transportasi di desa tersebut. Jembatan gantung ini merupakan jembatan satu-satunya yang menghubungkan Desa Sri Harjo dengan Desa Selopamioro. Untuk bermain ditepian sungai, kita harus menyebrangi jembatan dulu karena di sisi sebrang terdapat endapan pasir sungai yang kering sehingga kita bisa bermain dengan leluasa. Saat saya datang kesana sekitar jam 10an, terdapat keluarga kecil (bapak-ibu dan anak yg baru pulang sekolah) sedang memandakan sapi mereka di sungai. Kehadiran saya untungnya tidak menganggu aktivitas mereka sampai diijinkan mengabadikan aktivitas mereka. Mungkin mereka adalah salah satu potret kehidupan di sekitar lembah mangunan.  Air sungai yang terlihat hijau bukan berarti kotor, hanya saja karakteristik sungai yang mengalir di daerah karst. Satu lagi karakteristik sungai daerah karst adalah adanya palung-palung sungai, jadi lebih baik hindari bermain air di sungai Oyo. Nikmati saja pemandangan dan suasananya dan jangan lupa sampah jajanan kalian di bawa pulang atau dibuang ketempat sampah yang ada.

Tertarik mengunjungi Lembah Mangunan kan :)

Lembah Mangunan dari Puncak Kebun Buah Mangunan



Setelah kenyang menyantap Mie Ayam Tumini, saya membawa kendaraan saya menuju Bantul dengan tujuan ke Air Terjun Musiman Pulosari atau yang lebih dikenal dengan nama Curug Jurang Pulosari.

patung bagong desa Krebet
Dari Kota Jogja letaknya tidak terlalu jauh, hanya menempuh perjalanan selama paling cepat 45 menit sampai 1 jam dengan motor. Menuju kesini bisa dibilang cukup mudah karena sudah banyak petunjuk jalan yang membawa kalian sampai di Curug Pulosari. Rut eke Curug Pulosari dari Kota Jogja arahkan kendaraan anda ke Jalan Bantul – melewati Bangjo Ringroad Selatan – Bangjo Gapura Desa Wisata Keramik Kasongan ambil kanan memasuki desa tersebut – Ikuti jalan desa wisata kasongan tersebut jangan belok-belok sampai menemukan petunjuk jalan menuju desa wisata Krebet –Ikuti petunjuk jalan menuju desa Wisata Krebet dan kita akan melintasi jalan sedikit agak naik dan berkelok-kelok dengan kanan kiri berupa hutan jati. Jika kalian melihat patung Bagong besar kalian sampai di Desa Wisata Krebet – Liat petunjuk jalan berupa Peta yang ada di sekitar patung tersebut akan mengarahkan anda ke Curug Pulosari. Jika ragu diperjalanan jangan sungkan bertanya pada warga setempat ya :D

Peta petunjuk jalan menuju curug Pulosari di Desa Krebet
Dari lokasi parkir kita tinggal berjalan kaki menyelusuri jarang setapak yang sudah disediakan. Sesuai dengan namanya Jurang Pulosari, air terjun ini letaknya di bawah jurang. Jalan untuk sampai ke bawah jurang tersebut sudah dibuat ramah pengunjung, jadi tidak berbahaya mengajak anak2 untuk berkunjung kesini. Perjalanan dari lokasi parkir menuju air terjun Pulosari cukup seru, menuruni sebuah jurang, menyelusuri hutan jati, menyebrangi sungai dan akhirnya bisa sampai di Air Terjun Pulosari.
kondisi jalan dari parkiran menuju jurang pulosari
Melintasi sungai kecil
Air Terjun Pulosari
Air terjun ini tidak terlalu tinggi, mungkin ketinggiannya berkisar sekitar 5-7 meter saja, namun yang menarik yaitu cara air jatuhnya seperti membentuk tirai-tirai putih yang cukup cantik dan dibawahnya terdapat kolam yang bisa digunakan untuk berenang bermain air. Hari itu cukup ramai, banyak muda-mudi yang sedang berenang-renang, berfoto bersama bahkan ada yang bertapa di bawah air terjunnya, beberapa ada yang mojok dibawah rimbunan pohon-pohon jati. Poin pentingnya : Jika anda berkunjung di hari libur atau di musim kemarau jangan bayangkan bisa mendapatkan foto kece yang biasa diliat di Instagram :p, karena beberapa teman pernah kecewa karenanya. Musim kemarau debit air sedikit dan saat hari libur pasti ramai pengunjung.
cukup ramai hehe :)
alau dikelola warga setempat, fasilitas air terjun ini cukup lengkap. Ada ruang bilas atau ruang ganti baju, ada warung penjaja makanan, lokasi parkir yang luas dan aman, bahkan ada penyewaan ban untuk kalian yang tidak bisa berenang. Jika kalian ingin menginap dan menikmati lebih jauh jurang pulosari ini berikut suasana desa wisata krebet ini bisa menginap di homestay desa wisata krebet yang sudah disediakan. Mumpung belum memasuki musim kemarau yuk kunjungi air terjun ini J

Mie Ayam Tumini, salah satu mie ayam yang lagi hits di Jogja sejak Tahun yang lalu, karena sajiannya yang berbeda dengan mie ayam kebanyakan membuat warung ini selalu ramai setiap harinya.

Setelah menempuh pernajalan Banyuwangi ke Jogja dengan Bis Mila Sejahtera selama 15 jam, akhirnya saya pun sampai Terminal Giwangan. Rasa lapar rasanya tidak terbendung lagi apalagi ketika mengingat ada warung makan mie ayam enak dan mengenyangkan di dekat Terminal Giwangan. Mie Ayam yang cukup terkenal yaitu Mie Ayam Tumini.

warung letaknya persis di utara giwangan
Menuju ke Warung Mie Ayam Tumini cukup mudah loh, letaknya persis di sebelah utara pintu masuk Bis Terminal Giwangan. Jika kalian dari Malioboro tinggal ke arah selatan menuju arah Brigjen Katamso – Perempatan Pojok Benteng Timur ambil ke kiri – Ikuti jalan sampai di pertigaan XT Suare ambil arah ke selatan menuju terminal Giwangan. Warung Mie Ayam Tumini ada disebelah kiri jalan sebelum lampu merah pintu masuk terminal Giwangan.

fasilitas ada kipas angin juga :)
Mie ayam Tumini mulai buka sekitar jam 10 pagi. Sialnya sampai disana, Tumini belum buka dan saya harus mencari ganjalan perut agar bisa tahan menunggu jam buka hehehe. Sekilas terlihat Ini sekian kalinya saya mampir lagi ke Mie Ayam Tumini ini, cukup mengagetkan, warung bertambah luas terutama bagian dalam yang dulunya hanya muat 3 meja, sekarang bisa 6 meja panjang. Ada beberapa kipas angin di ruang dalam agar para pelanggan mie ayam tumini bisa menyantap mie ayam dengan nyaman dan tidak gerah.

Harga Mie Ayam Tumini
Sekitar jam 11, saya kembali lagi ke Warung Tumini ini, sudah cukup ramai, untungnya masih ada bangku yang kosong. Harga mie ayam tumini terbilang murah, dengan porsi semangkuk menurut saya sudah cukup banyak. Harga mulai dari Rp. 6000,- yaitu mie ayam setegah porsi sampai dengan Rp.10000 dengan double mie ayam buat yang sedang lapar banget. Menu favorit saya seperti biasa, mie ayam ceker. Walau ramai kita tidak akan lama menunggu karena mie sudah disiapkan terlebih dahulu, tinggal di “finishing” sebentar lalu siap untuk di hidangkan.


Memang, Mie Ayam Tumini tampilannya ini tidak biasa. Kuahnya yang cukup kental menyembunyikan Mienya. Kuah tersebut yang menurut saya membuat rasa mie ayam tumini ini berbeda. Untuk rasa mienya hampir sama dengan mie ayam-mie ayam lainnya. Jika kalian tertarik datang kesini datanglah sebelum sore, karena biasanya jam 3 sore, warung mie ayam Tumini sudah ludes laris.


Monggo dicoba dan didatangi kembali :D

Alas Purwo, sekilas mendengar namanya saja beberapa orang sudah membayangkan kejadian-kejadian ganjil, mengingat banyak yang menyebutkan Alas Purwo merupakan hutan angker di Jawa. Namun ternyata tidak seseram yang ditakutkan orang-orang, Alas Purwo menyimpan banyak potensi wisata, keanekaragaman hayati yang tinggi, dan bisa menjumpai satwa-satwa langka.

Rute menuju Alas Purwo
Jalan  Hutan menuju Alas Purwo , lagi musim kupu-kupu
Alas Purwo merupakan salah satu dari dua Taman Nasional yang ada di Banyuwangi. Letaknya di bagian selatan Banyuwangi, mulai dari pucuk paling timur sebelah selatan pulau Jawa hingga ke muara sungai Segoro Anak. Rute menuju Taman Nasional Alas Purwo cukup mudah dan dapat ditempuh dalam waktu 2 jam saja. Rutenya dari Kota Banyuwangi ambil jalan kea rah Jember melewati kota Rogojampi dan sampai di pertigaan lampu merah Srono. Ambil kiri ikuti jalan tersebut sampai menemukan perempatan lampu lalu lintas dan ambil kanan. Ikuti jalan tersebut dan dari sini anda tinggal mengikuti papan petunjuk jalan yang mengarahkan anda ke Taman Nasional Alas Purwo. Karena jalan cukup mirip, jika ragu-ragu saat perjalanan jangan sungkan bertanya kepada warga setempat. Jika sudah menemukan kantor seksi wilayah TN Alas Purwo di desa Kalipait perjalanan untuk sampai ke gerbang pintu masuk Alas Purwo tinggal 20 menit lagi kok :).

Burung Merak dipinggir jalan
Setelah melewati kantor seksi wilayah tersebut, kita akan melewati hutan jati dan jalan berubah agak rusak sekitar 7 km. Namun jalan tidak rusak seluruhnya, ada jalan yang aspalnya masih bagus. Hutan yang dilewati adalah hutan Jati, jika memasuki musim kemarau pemandangannya cukup bagus karena hutan jati sedang menggugurkan daunnya, jika memasuki musim penghujan biasanya banyak kupu-kupu dan belalang berterbangan di sekitar jalan. Jika beruntung kalian bisa bertemu satwa yang melintas seperti Burung Merak. Sesampainya di Pintu Gerbang Alas Purwo kita hanya tinggal membayar sebesar Rp.5000,- untuk hari biasa dan Rp. 7500 untuk hari libur per orang.

Seharian Menjalajahi Taman Nasional Alas Purwo
Berangkatlah pagi hari dari kota Banyuwangi, jangan lupa sarapan dan bawa bekal secukupnya karena di Alas Purwo hanya ada 2 warung makan yaitu di Pancur dan Kantin Pos Rowobendo. Di Kantin tersebut juga menjual bensin eceran jenis Premium.

Inilah beberapa hal yang bisa kalian lakukan di Taman Nasional Alas Purwo :
1. Selfie di Pintu Gerbang Alas Purwo dan Lorong Hutan
Gerbang Selamat Datang di Alas Purwo
Jangan lupa untuk berfoto di gerbang ini. gerbang ini letaknya sebelum penarikan karcis masuk Alas Purwo. Gerbang ini merupakan landmarknya Taman Nasional Alas Purwo, jadi dengan berfoto disini kalian berarti telah sampai dan pernah ke Taman Nasional Alas Purwo. Lorong Hutannya terletak setelah pos penarikan karcis masuk, kalian bisa menepikan kendaraan sejenak lalu berfoto-foto. sebelum berfoto-foto jangan lupa liat keadaan dulu jalan dulu, takutnya ada mobil ngebut melintas.
lorong hutannya
2. Mampir sebentar ke Pura Giri Salaka dan Situs Kawitan

situs kawitan
Perjalanan melintasi lorong hutan, makin masuk ke hutan Alas Purwo kita akan melihat 2 Pura yaitu Pura Giri Salaka dan Situs Kawitan yang ada di kiri jalan. Kita bisa mampir sebentar melihat-lihat suasajna di sekitar Pura dan Situs ini. Menurut sumber yang saya baca, dulu pura ini ditemukan hanyalah gundukan batu bata, namun setelah terbukti bahwa ini merupakan tempat ibadah akhirnya dibangun kembali sebagai tempat ibadah umat hindu baik yang ada warga sekitar bahkan umat hindu dari Bali.

3. Melihat Kehidupan Alam Liar di Savana Sadengan

Banteng (Bos javanicus)
Sadengan merupakan savanna semi alami yang dibuat sebagai habitat satwa-satwa yang ada di Alas Purwo khususnya Banteng (Bos javanicus) yang keberadaannya juga sudah terancam punah. Selain dapat menemukan banteng yang hidup di alam liar, kalian bisa menemukan satwa lainnya seperti rusa, burung merak, bangau tong tong bahkan Ajag (sejenis anjing hutan) yang sedang berburu anak banteng atau rusa, jika beruntung. Desain Sadengan juga cukup unik dan asik untuk kalian yang hobi selfie. Berasa bukan di Jawa :).  
Suasana Berbeda di Savana Sadengan
4. Penangkaran Penyu di Ngagelan

bak penangkaran penyu
Sepanjang garis pantai Alas Purwo merupakan salah satu tempat pendaratan dan penyu bertelur. Ada 4 jenis penyu yang mendarat dan bertelur di Alas Purwo yaitu Penyu Abu-abu, Penyu Belimbing, Penyu Hijau, dan Penyu Sisik. Mengunjungi Ngagelan kalian bisa belajar mengenai siklus hidup penyu dan pengetahuan tentang cara penangkaran penyu. Kita juga bisa bertemu anak penyu atau Tukik di kolam penangkarannya :)

5. Bersantai di Pantai Triangulasi
Pantai Triangulasi saat surut
Pantai yang cukup teduh,banyak pohon-pohon pantaiseperti keben yang tajuknya tebal dan lebar untuk berteduh dibawahnya. Pantai ini kadang digunakan untuk acara-acara komunitas karena memiliki lapangan yang cukup luas untuk berkumpul. Keberadaan pohon yang teduh juga membuat beberapa pengunjung mengelar tikar dan menyantap makanan yang mereka bawah sendiri dari rumah sambil menikmati suasana pantai selatan. Jika air laut surut keadaannya surut cukup jauh sehingga bisa digunakan untuk bermain voli pantai, bola dan lain-lainnya dan katanya pantai ini salah satu spot menikmati senja di Alas Purwo.

6. Menikmati Sore di Pantai Pancur

Pantai Pancur
Dari Pantai Triangulasi ke Pantai Pancur menemuh perjalanan sekitar 15 menit dengan jalan batu-batu kecil. Disebut pancur kemungkinaj di karenakan adanya sumber air di tepi pantai yang berbentuk seperti pancuran dan mengalir ke bibir pantai. Pantai Pancur ini berpasir putih dan cukup indah dinikmati. Jalan sedikit kearah timur kalian akan sampai di pantai yang banyak batu karangnya yaitu pantai Parangireng. Keberadaan karang berwarna hitam cukup unik dan mencolok mata karena tebing di sekitar pantai berwarna putih. Karena hari sudah sore saya memutuskan untuk melihat senja di Pantai Pancur. Tempat terindah yang saya temukan untuk menikmati senja di pantai Pancur yaitu di atas tebing dekat pondok pengamatan Hilal. Matahari yang perlahan-lahan turun di laut sangat eksotis apalagi diikuti dengan perubahan warna biru ke jingga dan perlahan-lahan menjadi gelap.

Pantai Parangireng, Alas Purwo
Kita Merayakan Senja :D

Endingnya

Hari mulai gelap, saya pun memutuskan untuk pulang melintasi hutan alas purwo kembali menuju kota Banyuwangi. Ternyata Berkunjung ke Alas Purwo sehari itu tidaklah cukup. Jika kalian punya cukup banyak waktu kalian bisa bermalam di Bumi Perkemahan Pancur yang ada di dekat Pos Jaga Kantor Resort Pancur. Sebelum berkemah laporlah kepada petugas jaga. Berkemah semalam dan keesokan paginya bisa mampir ke Plengkung dan bisa melihat Goa-goa yang ada di sekitar Pancur.