Tari Gandrung sudah menjadi sebuah ikon dari Kabupaten Banyuwangi, beberapa patung penari gandrung dibuat di beberapa tempat seperti di perbatasan Situbondo-Banyuwangi yang ada di Waduk Sidodadi, Pantai Watudodol dan Perbatasan Banyuwangi-Jember di Gunung Gumitir. Beberapa event dan program diadakan untuk makin menunjukan eksistensinya Tari Gandrung salah satunya adalah Festival Gandrung Sewu.

Setelah tahun lalu tidak sempat melihat perhelatan akbar Festival Gandrung Sewu karena tugas Negara,tahun ini akhirnya sempat melihatnya bersama teman-teman dari Jateng dan Bonsowoso. Festival ini diadakan cukup unik pada siang hari di pantai Boom, salah satu pantai terkenal di Banyuwangi. Untuk menuju pantai Boom dari kota Banyuwangi cukup mudah arahkan kendaraan ke Alun-alun Blambangan – Lurus ke arah pertigaan Pom Bensin PLN ambil Kanan, ikuti saja jalan tersebut dan akan sampai di Pantai Boom.

berpose di baliho festival gandrung sewu
Festival ini mulai diadakan tahun 2012 dan setiap tahunnya mempunyai konsep tema yang berbeda, tema tahun ini yaitu Seblang Lukinto yang merupakan lanjutan dari tahun 2015 yaitu Podo Nonton (tahun lalu nyesel g nonton). Podo Nonton menceritakan tentang  perjuangan rakyat Banyuwangi yang dipimpin oleh Rempeg Jogopati dalam melawan penjajahan VOC. Saat itu, tarian diakhiri dengan kisah perlawanan para pejuang hingga titik akhir. Sedangkan tema Seblang Lukinto menceritakan kebangkitan sisa dari prajurit Rempeg Jogopati untuk kembali melawan penjajahan VOC.  Beberapa cara dilakukan salah satunya prajurit Rempeg Jogopati membentuk kelompok seni dan mereka menyanyikan Seblang Lukinto sebagai sandi/kode

Curi-curi foto sebelum pertunjukan
melakukan persiapan
Acara ini dimulai jam 15.00 namun beberapa penonton sudah memenuhi pantai Boom mulai pukul 09.00. Saya bersama rombongan sampai di Pantai Boom sekitar jam 10.00 kondisi memang cukup ramai, parkiran dialihkan diluar area parkir pantai boom karena sudah padat. Terlihat beberapa penari Gandrung sudah selesai di make-up sedang bersenda gurau, berfoto-foto bersama rekan penari Gandrung lainnya. Adapula pengunjung yang minta foto bersama termasuk saya hehe. Menurut Baliho pengumuman acara akan dimulai jam 13.00 namun baru mulai dibuka jam 14.30-an. Penonton dari beberapa kalangan sudah mulai memadati area sekitar panggung pertunjukan.
 
segmen rebutan layangan
Akhirnya Festival Tari Gandrung pun dimulai, dibuka dengan aksi anak-anak bermain layang, mengejar layang-layang yang putus dan diakhiri ada yang menangis karena layangan yang dia dapat sobek/rusak. Lalu setelah segmen tersebut selesai, perlahan-lahan sepanjang garis pantai tempat pertunjukan, Sekian ribu penari Gandrung mulai terlihat seolah-olah muncul mendadak dari laut. Efek kejut ini memanfaatkan kondisi pantai yang relatif lebih rendah dari panggung pertunjukan.

formasi ombak yang ombaknya dibentuk oleh kipas
Pada pertunjukan ini terdapat aksi yang menceritakan kebangkitan sisa prajurit Rempeg Jogopati, namun tidak terlalu mencolok karna tertutupi penampilan dan aksi penari Gandrung yang jumlahnya sulit dihitung manual. Aksi Tarian Gandrung sepertinya membentuk beberapa formasi Bunga, Ombak, Api dan Benteng. Formasi-formasi mereka cukup menarik sehingga perhatian saya dan mungkin banyak dari para penonton yang hadir.

Melantunkan Gending "Seblang Lukinto"
Formasi Benteng
Pada Formasi Benteng Penari Gandrung menutupi tubuhnya dengan selendang merah namun sebelum itu secara bersama-sama Penari Gandrung melantunkan  Gending “Seblang Lukinto” dengan suara yang cukup membuat orang semangat untuk mendengarkannya. Liriknya begini : 
"Wis wayahe bang bang wetan" (Sudah waktunya mentari pagi terbit), "Kakang kakang ngelilira" (saudara saudara bangunlah), "Wis wayahe sawung kukuruyuk" (Sudah waktunya ayam jago berkokok), "Lawang gedhi wonten kang njagi" (Pintu gerbang ada penjaganya), "Medala ring lawang butulan" (Lewatlah pintu rahasia), "Wis biasane ngemong adhine" (Sudah terbiasa mengasuh adiknya), "Sak tinjak balio mulih" (Satu tendangan kembali pulang).
Belakangan ini saya baru tau arti dari lirik tersebut, liriknya seperti mengandung kalimat-kalimat rahasia hanya dipahami oleh sisa-sisa prajurit Blambangan yang masih berjuang melawan Penjajahan. Dari Tema Seblang Lukinto beberapa hal yang bisa saya tangkap adalah bagaimana cara berjuang. Berjuang hingga titik penghabisan hingga tidak ada penyesalan, berjuang tidak harus dengan cara konveksional dalam hal ini melawan langsung musuh dari depan tapi dengan cara-cara unik, kreatif dan tidak dapat disangka-sangka. Cara berjuang ini mungkin bisa kalian adopsi untuk memperjuangkan calon pendamping hidup kalian >_<.


Formasi terakhir sebagai penutup adalah formasi bunga, sayangnya penonton sudah tak terbendung lagi dan maju mendekati penari gandrung untuk berfoto selfie K (hadehh). Yah akhirnya festival ini berakhir cukup meriah dan mengesankan. Tempat pertunjukan dan para Penari Gandrung mulai diserbu para penonton untuk berfoto bersama. Ada pula yang penari yang berfoto sesame penari Gandrung karena berasal dari sekolah atau kecamatan yang sama atau saling mengenal. Lembayung senja mulai terlihat diufuk barat, kami perlahan meninggalkan pantai Boom menuju rumah untuk beristirahat.




Ibu-ibu kece penjual Geblek :D
Jogja menyimpan banyak memori memori menarik saat saya merantau ke sana untuk mencari ilmu. Salah satu memori menarik yang tidak terlupakan adalah Pasar Tradisionalnya. Pasar tradisional dimana-mana ada, bahkan untuk kota sekelas Jakarta pun masih ada pasar tradisional yang masih bertahan. Pasar Tradisional di Jogja yang menyimpan memori dan selalu saya sempatkan berkunjung namanya Pasar Kenteng, Sebuah pasar yang letaknya di persawahan daerah pegunungan Menoreh Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta.

Pasar ini letak di Desa Kembang, Kecamatan Nanggulan, Kulonprogo. Letaknya dari kota Jogja tidak terlalu jauh hanya berjarak tempuh sekitar 30 menit dari Tugu Jogja. Pasar Kenteng tidak seperti pasar Beringharjo, Malioboro yang buka setiap hari, hanya buka di hari tertentu yaitu Hari Wage pada penanggalan atau Kalender Jawa. Dan pada hari biasa selain hari Wage tidak ada salah satu penjual pun yang berjualan di pasar itu. Pasar ini buka dari setelah subuh hingga biasanya jam 09.00-10.00 pagi mulai sepi. Pasar ini juga merupakan pasar letaknya strategis karena berada di sekitar jalan menuju beberapa daerah wisata Kulonprogo seperti 6 (enam) AirTerjun di Kecamatan Girimulyo dan wisata alam lainnya.
Rute menuju Pasar Kenteng dari Kota JogjaRutenya cukup gampang kok, kalian hanya tinggal menggunakan kendaraan pribadi atau sewa menuju ke arah barat dari tugu Jogja.  Tugu Jogja  kebarat – Bang Jo Ringroad Barat Demak Ijo lurus Kebarat – Godean – Pasar Godean – Jembatan Sungai Progo – Perempatan Pasar Kenteng Lurus (kea rah pemandangan pegunungan menoreh) – Setelah melewati perempatan tersebut kita akan sampai di Pasar Kenteng.
"ehhh di foto" :D
Lihat kalender, besok Minggu adalah hari Wage, mumpung libur saya memutuskan untuk mampir ke Pasar Kenteng, melihat-lihat sekaligus mencari sarapan dan melanjutkan mandi di air terjun Grojogan Sewu. Saya berangkat dari Jogja jam 5 pagi. Udara saat perjalanan pagi itu cukup menusuk-nusuk kulit mengingat saya tidak memakai jaket hehe. sekitar jam setengah 6 keadaan masih agak gelap, saya mencari spot dulu di daerah persawahan sekitar pasar untuk menikmati matahari terbitnya. Jam segitu pasar sudah ramai, beberapa warga berdatangan dengan sepeda ontelnya, ada juga yang naik mobil angkutan berupa truk kecil dan pick up.
Gunung  Merapi di pagi hari yg tertutup kabut
Ahh matahari terbit begitu indah, gunung Merapi-Merbabu sedang terlihat cantik-cantiknya walau dari kejauhan saja. Kabut tipis seakan menari-nari di sekitar persawahan dan langit sekitar pasar kenteng pagi itu. Sudah agak terang saya pun kembali ke Pasar Kenteng untuk mencari sarapan dan melihat seisi pasar.
es Cendolnya

Tradisional dan Unik, dua kata yang terlintas jika kalian baru pertama kali mengunjungi pasar ini. Barang yang dijualkan bisa dibilang cukup beragam dari pakaian, kain batik, peralatan berladang, Bilik Bambu, Jerami Padi untuk atap, sayur mayur, jajanan pasar, hewan ternak bahkan sampai tukang cukur tradisional dengan menggunakan sepeda bisa ditemukan disini. Jajanan Pasar juga unik-unik seperti Nasi Jagung yang saya sempat coba rasanya cukup manis, pecel, mie letek, cenil, bermacam-macam gorengan, Benguk, Tempe Jadah dan jajanan favorit saya yaitu Geblek. Geblek ini dijual oleh rombongan ibu-ibu kece di blok tengah pasar. Awal pertama beli saya tidak tahu cara melafalkan Geblek yang benar sehingga melafalkan Geblek dengan lafal dan logat Jakarta yang berarti “Bodoh”. Sontak ibu-ibu penjual dan beberapa pengunjung pasar tertawa  dan memberi tau kalau melafalkan Jajanan Geblek nya salah fatal :D. Geblek ini memang mirip cireng berbahan dasar sama namun saat prosesnya berbeda. Yah memang setelah saya cicipi satu Geblek ini rasanya berbeda dengan Cireng :D. Saya membelinya sekitar 7ribu dan mendapatkan Geblek cukup banyak untuk bekal makanan yang dibawa ke air terjun. Melipir ke pinggir jalan raya pasar berjejer mbah-mbah penjual tembakau yang sedang menunggu dan melayani pembelinya dengan ramah. Di dekat situ ada penjual es Cendol yang akhirnya saya pesan untuk melepas dahaga. Es Cendolnya enak dengan pemanis alami yaitu berasal dari Gula Aren. Satu gelas es Cendol dihargai cukup murah yaitu Rp. 3000 saja.

geblek
cenil
Pencukur Tradisional
Melipir ke pojokan sebelah barat pasar, penjualnya berupa penjual bilik bambu dan jerami padi untuk atap rumah. Disekitar situ ada antrian bapak-bapak yang agak ramai, ternyata mereka sedang mengantri tukang cukur keliling yang manggal disitu setiap hari wage. Cukup unik karena tukang cukur tersebut tradisional menggunakan sepeda ontel tua, bangku, cermin, dan sekoper kecil peralatan cukurnya. Saya minta ijin kepada yang dicukur dan bapak pencukur tradisionalnya untuk mengambil gambarnya.

Saling berkomunikasi antar penjual
Lapar rasanya kalau tidak makan nasi, saya mencari warung yang menjajakan makanan hangat, sebenarnya tertarik dengan Soto Ayam yang banyak dijual di pasar tersebut namun berubah ketika melihat seorang mbah-mbah menjual makanan sejenis Tongseng. Yah cocok jugalah untuk menghangatkan perut di pagi hari. Komunikasi disini agak sulit karena saya tidak bisa bahasa Jawa, untungnya ada pengunjung yang sedikit membantu menjadi translator. Dengan kepiawaiannya, mbahnya meracik bumbu, mengiris sayuran dan lain-lainnya untuk semangkuk tongseng yang saya pesan dan rasanya enak.

Setelah kenyang memakan hidangan tongseng, saya meninggalkan pasar tersebut dengan perasaan puas dan terkagum-kagum lalu melanjutkan perjalanan ke arah barat, ke arah pegunungan menoreh menuju air terjun-air terjun kecamatan Girimulyo, Kulonprogo untuk mandi hehe.


Semoga kalian tertarik mengunjungi pasar ini ya, ingat Cuma buka di hari Wage tanggalan Jawa ya :)
Menikmati Senja di Baron Techno Park

Setelah puas piknik seharian ke beberapa pantai di daerah Gunungkidul seperti Pantai Sanglen, Pantai Lolang, Pantai Sepanjang, kami mengakhiri kisah hari ini pada sebuah senja diatas bukit memandang lautan yang luas. Baron Techno Park namanya.

Baron Techno Park, sebuah lokasi diatas bukit sebelah barat pantai Baron yang dibangun menjadi pusat pendidikan pemanfaatan energi alam yang ada di sekitarnya menjadi energi listrik. Baron Techno Park sebenarnya adalah proyek lama dan 4 tahun silam nyaris saja saya mau melakukan penelitian skripsi disana :D. Dan setahun yang lalu akhirnya tempat ini dibuka dan bisa dikunjungi untuk pengunjung yang ingin menikmati alamnya maupun melihat-lihat peragaan pemanfaatan energi alam
Pemandangan dari atas bukit Baron Techno Park
Rute Menuju Baron Techno Park. Baron Techno Park terletak di Dusun Parangrucuk, Desa Planjan, Kecamatan Saptosari, Gunungkidul. Tempat ini ditempuh dari Kota Jogja sekitar 2 jam dengan menggunakan kendaraan pribadi. Rute untuk menuju ke Baron Techno Park dari kota Jogja cukup mudah, saya melewati jalur Alternatif ke pantai gunungkidul lewat jalan Imogiri Timur- ke arah Selopamioro – Jembatan Siluk lalu menaiki jalan berliku-liku menuju kecamatan Panggang, Gunungkidul – dari sini cukup ikuti petunjuk jalan ke pantai Baron atau bertanya ke pada warga karena beberapa persimpangan cukup mirip jika salah belok bisa nembus ke Pantai Parangtritis hehe. Nantinya sebelum memasuki penarikan tiket masuk akan ada pertigaan menanjak dengan papan petunjuk mengarahkan ke Baron Techno Park. Rute yang lebih mudah bisa melewati Jalan Wonosari-Bukit Bintang-Patuk-Rest Area Bunder, Hutan Wanagama-Kota Wonosari- dari kota Wonosari tinggal mengarahkan kendaraan anda ke jalan pantai Baron dan mengikuti petunjuk arah ke Pantai Baron. Setelah membayar retribusi arahkan kendaraan ke Kanan ke arah pantai Baron – Pertigaan Pantai Baron ambil lurus hingga menemukan pertigaan jalan menanjak dengan papan petunjuk jalan ke Baron techno park. (Tiket masuk ke Deretan Pantai Baron-Kukup-Drini dll jangan sampe hilang karena bisa digunakan untuk masuk kembali ke kawasan tersebut)
Pertigaan Tamjakan ke Baron Techno Park
Solar Cell
Sampai disana sudah sekitar jam 16:30, kami tidak sempat berkeliling melihat peralatan energi terbaharukan memanfaatkan energi alam, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Ombak yang saya pikir alat ini cukup menarik, apalagi untuk pantai-pantai selatan ini mempunyai energi gerak yang cukup hebat. Peralatan yang terlihat adalah Solar Cell yang berjejer rapi di dekat sebuah bangunan, kemungkinan bangunan tersebut menggunakan listrik dari Solar Cell tersebut, yang paling mencolok mata adalah Kincir angin yang mengubah energi angin menjadi energi listrik. Melihat kincir angin ini saya langsung membayangkan Negeri Belanda berlatar perkebunan bunga tulipnya. Disebelah Kincir angin terbesar tersebut terdapat sebuah bangunan aneh, setelah diperhatikan ternyata adalah sebuah Jam Matahari yang nantinya bisa kita baca menggunakan bayangan dari “tanduk” jam matahari tersebut. Matahari sudah tidak terlalu kuat menyinari tempat kami berada karena terdapat awan yang cukup tebal menutupinya sehingga tidak bisa melihat jam matahari menunjukan arah waktu saat ini. Setelah melihat sekeliling secara sekilas, kami memilih berada ditepian jam matahari duduk memandang barat memperhatikan langit, memandang senja

Jam Matahari
Pada Senja ini, kami mengakhiri perjalanan piknik kami hari ini. Kami mengawali sebuah perjalanan dengan sebuah harapan dan hari ini rekan seperjalanan menemukan harapan mereka hari itu juga. Mba dwi berharap menemukan sebuah pantai bernama pantai lolang yang dicarinya sejak tahun lalu, hari itu akhirnya bisa menemukannya. Nove sedang mencari laut biru dengan pantai yang sepi dia menemukannya juga hari ini di pantai Sanglen dan pantai Lolang. Dan saya sendiri…, iya saya sendiri besok harus meneruskan perjalanan kembali ke Banyuwangi. Warna senja sudah mulai redup kami memutuskan kembali ke Kota Jogja via Jalur alternatif :)

anggap saja di Belanda :D :p
anggap saja di Belanda :D :p
Pemandangan Senja yang agak tertutup awan
pada sibuk mengabadikan senja :D

Spot yg katanya 9-12 sama Raja Ampat Papua (abaikan yg berduaan) :D
Raja Ampat dan Danau Sentani, bagi saya dan mungkin sebagian orang, tempat tersebut menjadi destinasi impian. Karena posisinya berada di pulau paling timur Indonesia biaya perjalanan kesana tidaklah murah. Di Perbatasan Banyuwangi-Situbondo belakangan ini sedang dihebohkan dengan adanya spot mirip Raja Ampat, ada juga yang bilang mirip Danau Sentani, tempat itu bernama Waduk Bajulmati.

Waduk Bajulmati merupakan waduk yang terletak di perbatasam Banyuwangi dan Situbondo tepatnya di desa Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, untuk wilayah Situbondo dan Desa Bajulmati, Kecamatan Wongsorejo untuk Wilayah Banyuwangi. Waduk ini dapat menampung air hingga 10 juta Meter Kubik dan dapat mengaliri area persawahan seluas 1.800 Hektar di Wilayah, Banyuwangi dan Situbondo.
Gapura Waduk Bajulmati
Rute Menuju Waduk Bajulmati Letaknya yang bersebelahan dengan Kawasan Taman Nasional Baluran atau juga dikenal Afrika Van Java untuk menuju kesini pun searah dengan menuju ke Taman Nasional Baluran. Rute dari Kota Banyuwangi  Jika menggunakan kendaraan pribadi atau sewa kalian bisa mengarahkan kendaraan  keluar Kota Banyuwangi – Pelabuhan Ketapang – Pantai Watudodol – Jalan Lintas Banyuwangi-Situbondo – Pasar Bajulmati – Pintu Masuk Taman Nasional Baluran – setelah melewatinya sekitar 10 menit kiri jalan akan ada gapura dan gerbang masuk ke Waduk Bajulmati. Untuk kalian yang menggunakan sarana transportasi umum bisa menaiki Bis Jurusan yang menuju Situbondo dari Pelabuhan Ketapang dan turun di depan gerbang waduk Bajulmati. Begitupula sebaliknya jika kalian dari Kota Situbondo ambil arah ke Banyuwangi atau Pelabuhan Ketapang setelah memasuki kawasan hutan TN Baluran nanti akan bertemu gapura masuk ke Waduk Bajulmati di sebelah Kanan jalan.
Pemandangan Waduk setelah masuk gerbangnya :)
Untuk memasuki Waduk Bajulmati kita dipungut biaya masuk untuk kendaraan saja sebanyak Rp.5.000/Motor atau Rp.10.000/Mobil dan untuk orang untuk saat ini belum dikenakan biaya. Dari pintu gerbang dan pemungutan tiket masuk tinggal berjalan sebentar sejauh 500 meter jalan turun dan akan melihat pemandangan waduk dengan diapit bukit-bukit yang cukup tinggi. Sesampai disana saya langsung memilih untuk melihat-lihat dan berkeliling Waduk mencari spot foto yang bagus.

Lagi blasak-blasak rerumputan di perbukitan waduk Bajulmati, nyari angle foto yg sip :D
Saya berhenti tepian waduk yang cukup tinggi untuk memandang luas keseluruhan waduk Bajulmati. Terlihat jelas liak liuk perbukita membentuk suatu pola yang indah. Melihat pemandangan tersebut seakan-akan melihat Spot Wayag, Raja Ampat yang diidam-idamkan. Sepet saya pikir bayangan ini agak lebay dan mencoba menanyakan ke beberapa teman dan jawaban mereka cukup menghibur miriplah dikit 9-12 :p. Samar-samar terlihat pemandangan Gunung kemungkinan Gunung yang juga terlihat dari Banyuwangi Kota yaitu Gunung Marapi dan Ijen. Namun sayangnya saat di foto tidak nampak begitu jelas. Jika menghadap ke timur akan terlihat Gunung Baluran yang nampak gagah dan terlihat cukup dekat.

Salah satu sudut pandang yg menurut bagus disini. lagi-lagi abaikan pasangan itu ya :D
Pemandangan berlatarkan Gunung Baluran
Makin siang, makin gersang. Jarang sekali ada pohon yang teduh disini, saya kembali ketempat awal karena ada Balai Bengong beratapkan patung tari Gandrung. Ternyata para pengunjung juga sedangasik berteduh dan menyantap bekal yang mereka bawa sambil menikmati pemandangan waduk dari balai bengong tersebut. Untuk fasilitas yang lainnya belum ada sama sekali, karena waduk ini memang belum sepenuhnya dibuka dan disiapkan untuk wisata.

Balai Bengong di pinggir waduk
Tinggi air masih kurang 6 meter lagi, entah berapa kubik lagi ketinggian 6 meter itu
Mengunjungi Waduk Bajulmati baiknya dilakukan pagi hari atau sore hari saja dan jika terpaksa mengunjunginya siang hari jangan lupa membawa tutup kepala jika tidak kuat ssengatan cahaya matahari. Mengunjungi Waduk ini juga bisa sekaligus jalan untuk berkunjung ke Taman Nasional Baluran yang dikenal sebagai Afrika Van Java karena lokasinya cukup berdekatan dan searah. Semoga pengembangan wisata di waduk ini bisa memuaskan pengunjung dan fungsi waduk bisa meningkatkan kesejahteraan petani-petani yang sawahnya teraliri air dari waduk ini.

Situasi di Spot Foto Raja Ampat KW :D, Rameeee
Selamat Mengunjungi Waduk Bajulmati si Papua Kecil di Perbatasan Banyuwangi-Situbondo :)


Sengaja aku datang ke kotamu
Lama kita tidak bertemu
Ingin diriku mengulang kembali
Berjalan-jalan bagai tahun lalu
~
Lirik awal dari lagu legendaris “Sepanjang Jalan Kenangan” yang mendadak saya ingat ketika membawa kendaraan kami menuju Pantai Sepanjang. Sebuah Pantai yang bisa dibilang cukup panjang namun tidak sepanjang jalan kenangan.  “Kenangan kita”.

Sepanjang dari atas bukit
Sehabis dari Pantai Sanglen, Saya masih bersama Nove dan mba Dwi melanjutkan perjalanan ke Pantai Sepanjang dan Pantai Lolang (disebelah baratnya). Pantai Sepanjang ini memiliki pantai yang lumayan panjang, mungkin terpanjang di Gunungkidul lalu diikuti oleh pantai Wediombo. Pantai ini terletak di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Pantai ini  menjadi favorit karena selain memiliki pantai yang luas dan panjang, pantai  ini memiliki jalan yang lebar  serta parkiran yang luas sehingga dapat menampung banyak wisatawan. Belum lagi fasilitas yang cukup lengkap, sampai-sampai ada masjid besar di pesisir Pantainya.

Tulisan besar dipertigaan menuju Pantai Sepanjang
Rute Menuju Pantai SepanjangPerjalanan dari Kota Jogja ke Pantai Sepanjang sekitar 2 jam perjalanan bahkan bisa lebih sedikit. Dari Kota Jogja arahkan kendaraan ke Jalan Wonosari – Pertigaan Piyungan – Bukit Bintang – Patuk – Rest Area Bunder/Hutan Wanagama – Kota Wonosari – Alun-alun Wonosari – Jalan Baron – dari sini ikuti papan petunjuk jalan menuju pantai Baron,Kukup, Drini atau Krakal sampai di Pos Tempat Pemungutan Retribusi Karcis lalu arahkan kendaraan anda melewati pantai Kukup dan setelahnya akan ada Tulisan Pantai Sepanjang yang cukup besar, ambil kanan  kemudian kita akan sampai di Pantai Sepanjang.
Bersihhhhhhh :)
Bersih, pasirnya juga lumayan halus dan tidak terlalu dalam sehingga enak diijak. Karena kami masih di tengah-tengah pantai sepanjang, ujung pantai sebelah barat dan timur yang berupa tebing tidak terlihat saking jauhnya mungkin :D. Di area pantai, pengelola (Kelompok Masyarakat) telah membuat wahana-wahana kecil untuk foto-foto dari beberapa ayunan sederhana yang terlihat tidak kokoh ternyata kuat menampung dua orang (nove dan mba dwi) berayun2 :D. Coba ngambil gambar siluet searah matahari, berasa Ayunan Gili Trawangan ala-ala. Satu lagi yang menarik ada figura berbentuk “Love” dengan pinggirannya diberi hiasan bunga-bunga.  Spot Narsis ini malah bisa jadi tempat foto couple atau prewed heheu..

Ayunan Gili Trawangan Ala-ala  :P
Spot Selfi :D
Untuk makanan-minuman tidak usah khawatir karena sepanjang pantai Sepanjang, sepanjang itu pula warung penjaja makanannya. Fasilitas memadai berupa tempat ibadah, kamar mandi, parkir yang luas dan bahkan sebuah kafe kecil di atas bukit yang mungkin cukup syahdu menikmatinya saat senja-malam hari.

Matahari dilangit mulai senja, kami bertiga sepakat untuk pindah tempat menikmati senja syahdu diatas bukit tepatnya di Baron Teknopark yang letaknya tidak jauh dari Pantai Sepanjang. Kunjungan singkat di Pantai Sepanjang memang tidaklah cukup menyelusuri sudut-sudut unik Pantai Sepanjang namun setidaknya cukup memberikan kenangan tersendiri untuk diri kami masing-masing.


Selamat mengujungi Pantai ini :D
Pantai Sanglen dari Bukit Sebelah Timur
Tiga tahun silam, saya pernah ke pantai ini, pantai yang letaknya sebenarnya berdekatan dengan pantai Gunungkidul yang ramai dikunjungi seperti Pantai Sepanjang, Pantai Kukup dan Drini. Namun karena keberadaannya 3 tahun silam masih tertutup semak, sehingga pantai tersenbut seolah-olah tersembunyi dan tak tergarap oleh kelompok masyarakat sekitar. Pantai tersebut bernama Sanglen.

Pantai Sanglen, belakangan ini mulai diperbincangkan keberadaannya. Pantai ini menurut saya juga merupakan pantai yang memiliki ciri khas yang unik dari pantai disebelahnya. Pantai Sanglen terletak di desa Kemadang, kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul, Jogja atau lebih tepatnya berada di sebelah timur dari Pantai Sepanjang dan sebelah barat pantai Watukodok. Pantai ini masih relatif sepi karena pengunjung masih mengarah ke pantai Sepanjang, pantai Watukodok dan Pantai Drini yang memiliki fasilitas yang lengkap.

Rute menuju Pantai SanglenCukup mudah untuk kalian menuju Pantai ini karena letaknya di satu pintu masuk dan blok pantai-pantai terkenal gunungkidul lainnya seperti pantai baron, kukup, sepanjang, drini dan lain-lainnya.  Rute daru Jogja menuju pantai Sanglen, Arahkan kendaraan anda ke Jalan Wonosari – Piyungan – Bukit Bintang – Patuk – Rest Area Bunder Hutan Wanagama – Kota Wonosari – Alun-alun – Bangjo Pertigaan Pos Polisi ambil kanan ke arah Jalan Baron – dari sini tinggal mengikuti papan petunjuk jalan ke pantai Baron/Kukup/Drini saja sampai mencapai Tempat Penarikan Retribusi (TPR). Setelah melewati TPR ambil kea rah pantai Kukup – Lewati Pantai Kukup sampai menemukan petunjuk Jalan ke Pantai Watukodok. Masuk ke jalan cor-coran Watukodok nanti akan ada pertigaan kecil lalu ambil kanan untuk menuju ke Parkiran Pantai Sanglen. Jika kalian ragu dengan jalan yang kalian tempuh berhentilah dan tanya kepada warga setempat ya :).
Jalan Cor-coran ke Pantai Watukodok dan Sanglen

Setelah menempuh perjalanan dari kota Jogja selama 2 Jam perjalanan naik motor saya bersama Nove (Empunya http://noveriarasyida.blogspot.co.id/) dan mba Dwi (Empunya http://dwitff.blogspot.co.id/ ) akhirnya sampai ke pantai yang membuat Nove penasaran karena sempat liat foto di IG air laut biru dan pantainya masih relatif sepi untuk dikunjungi saat weekend :D. Sesampainya di parkiran motor,kami sudah digoda oleh langit biru, suara angin laut dan deburan ombak pantai Sanglen sudah memanggil-manggil kami. Kebetulan parkiran berada di tebing atas bukit, kami menyempatkan memandang keadaan pantai Sangleng yang cukup hijau dan teduh. Tidak sampai 5 menit kami sudah berada di Pasir Pantai Sanglen. Pasirnya cukup tebal, dan sudah menjadi butiran-butiran cukup halus. Kami menepi sejenak mencari tempat teduh untuk meninggalkan tas, agar bisa leluasa menikmati liburan di pantai dan berfoto2 :D .
si gadis pantai
Sepinya :D
Suket Gimbal
Pantai Sanglen tidak jauh beda dengan pantai Gunungkidul lainnya, diapit dua bukit. Bukit sebelah barat memisahkannya dengan Pantai Sepanjang, Bukit sebelah timur dengan pantai Watukodok. Namun ada dua hal yang menurut saya unik disini yaitu keberadaan pohon-pohon cemara laut (cemara udang) yang cukup rapat memberi ruang teduh dan dijadikan tempat favorit pengunjung pantai dan juga para peladang sekitar pantai ini untuk berteduh dari teriknya matahari. Waktu 3 tahun silam pun pohon-pohon cemara ini sudah ada, dan menjadi tempat berteduh juga. Keunikan lainnya yaitu pada biota laut terutama suket (rumput lautnya) berbentuk seperti rambut gimbal, menggulung gulung ikal. Jumlah rumputnya bisa dibilang banyak jumlahnya terutama di sebelah barat. Rumput ini hanya bisa dilihat saat laut dalam keadaan surut. Sempat saya angkat dan ternyata rumputnya cukup panjang membentang kearah pantai karena mengikuti arah ombak yang menuju ke pantai. Karna belum tau nama rumputnya ini sebut saja Suket Gimbal :D

pepohonan cemara tempat untuk berteduh
Fasilitas pantai ini masih minim dan sederhana, hanya baru tersedia parkiran motor, tempat teduh bersama di pepohonan cemara, kamar bilas dengan sumber air yang masih bisa dibilang rasanya masih agak asin. Di tempat teduh bersama tersebut terdapat tempat sampah untuk membuat sampah-sampah piknik kalian di Pantai ini.


Selamat mengunjungi pantai ini :)

Perjalanan kami masih berlanjut di pantai-pantai lain yang relatif sepi, ditunggu kelanjutannya minggu depan yak :D