Kolam Renang Taman Wisata Osing
Hotel dan penginapan di Banyuwangi makin hari dirasakan makin bertambah, beberapa hotel lawas terlihat mulai melakukan renovasi untuk memberikan pelayanan terbaik. Apalagi saya merasakan kunjungan ke Banyuwangi mulai meningkat.

Taman Wisata Osing merupakan taman rekreasi yang berada di Desa Kemiren, Banyuwangi.  Desa tersebut merupakan desa yang penduduknya merupakan Masyaakat Suku Osing, Suku Aslinya Banyuwangi. Taman Wisata Osing ini terletak 8-10 km dari pusat Kota Banyuwangi atau sekitar 5 km dari stasiun Karangasem. Jika naik motor dari Kota Banyuwangi bisa dicapai selama 15 menit dan dari Stasiun Karangasem bisa ditempuh selama 5-10 menit.

gerbang depan Taman Wisata Using
Rute Ke Taman Wisata OsingRute Ke Taman Wisata Osing dari Kota Banyuwangi cukup mudah kok. Rutenya dari Simpang Lima Kota Banyuwangi Ke Arah Barat – Jl. Jaksa Agung Suprapto – Jln. Hos Cokroaminoto – Melewati Rel Kereta – Pertigaan Patung Barong lurus hingga menemukan gapura masuk desa Kemiren – Melewati Gapura Lurus Terus Sampai menemukan Pertigaan yang ada Kepala Barongnya lalu ambil kiri – Taman Wisata Osing ada di Kanan Jalan.

Taman Wisata Osing (TWO) , bisa dibilang adalah taman bermain yang dilengkapi beberapa fasilitas yang cukup lengkap jika disebut Resort. Sekitar TWO ini istimewa , selain karena berada di tengah desa mayoritas dari suku Osing, suku asli Banyuwangi, TWO berbatasan langsung dengan Hutan Masyarakat Desa Kemiren, sehingga suasana di TWO sangat asri. Bagian sebelah barat TWO ditumbuh berbagai pohon yang relatif besar dan banyak pohon durian. Jika sedang musim durian, durian dari pohon ini pun dijual kepada pengunjung. TWO mempunyai fasilitas seperti Dua Kolam Renang, satu untuk anak-anak satu untuk orang dewasa. Terdapata taman bermain anak-anak yang terdapat mainan seperti ayunan, prosotan, jungkat-jungkit dan mainan lainnya.

ayunan di taman bermain anak-anak
Terdapat pula penginapan dengan fasilitas yang sama tiap kamarnya seperti Kasur dua atau kasur satu, kamar mandi dalam dan kipas angin. Letaknya yang berada di Desa Kemiren membuat kami ingin mencoba menginap disini, sekaligus mencari penginapan terdekat untuk hadir di acara Festival Ngopi Sepuluh Ewu yang diadakan bulan November kemarin.  Dari Penginapan ke pusat acaranya Cuma tinggal berjalan kaki sekitar 2 menit saja sudah sampai di pusat keramaian Festival Ngopi Sewu. Penginapan ini juga pernah dipilih seorang teman untuk pendakian ke Ijen karena penginapannya searah dengan jalur ke Kawah Ijen (sekitar 45 menit naik motor sampe ke paltuding, pos pendakian kawah ijen)

malam hari, syahduu
bangunan adat osing

kamarnya
Sesuai dengan lokasi dan namanya, bangunan berbentuk rumah adat suku osing dengan dinding terbuat dari anyaman bambu kecuali modifikasi kamar mandi yang menempel di bagian samping kamar terbuat dari semen dan batu bata. Karena terbuat dari anyaman bambu, aroma khas terasa saat memasuki kamarnya. Jika menginap di hari weekday rasanya nyaman sekali, taman wisatanya jarang sekali pengunjung, menjadi seperti milik pribadi. Berjalan menyelusuri halaman luasnya, berenang-renang menikmati kolam renangnya atau keluar hotel menikmati suasana desa kemiren atau mencoba beberapa kuliner khas masyarakat osing kemiren yaitu pecel pitik dan Uyah Asem yang bisa dibeli di Pesantogan Kemangi yang letaknya 5 menit dari hotel dengan berjalan kaki.
pesantogan kemangi kemiren
Pengalaman saya untuk memesan kamar di penginapan sini agak kesulitan karena Taman Wisata Osing ini tidak punya nomor telepon kantor. Saya mencatat salah satu npegawainya saat survey,namun tidak bisa dihubungi (mungkin karena sinyal disana agak susah), sehingga perlu kesana kembali lagi kesana untuk mememesan. Baiknya memang Taman Wisata Osing ini memiliki Telpon Kantor atau HP khusus Kantor, sehingga bisa meningkatkan lagi pelayanan terhadap pengunjung khususnya yang ingin menginap dan memesan kamar di penginapan tersebut.

Yukk nyoba nginap disini :D

Harga per November 2016
Kamar Rp. 165.000/malam untuk 2 orang
Ekstra Bed Rp. 40.000
Dapat Sarapan Pagi di Kantin
Nomor Telpon (nyusul ya, belum dapat dapat dihubungi)




Ngopi semalaman pada 3 minggu lalu terasa sekali berbeda. Hiruk pikuk keceriaan, suasana dan obrolan hangat rasanya masih terasa hingga saya menulis ini. perbincangan hangat dan senyum ramah dari pemilik rumah dan orang yang ada di sekitar sana, padahal kami baru bertatap muka saat itu. Yah semua terjadi begitu saja di Festival Ngopi Sepuluh Ewu, Desa Kemiren, Banyuwangi.

Ngopi sepuluh ewu merupakan festival Ngopi tahunan yang diadakan di Desa Kemiren Banyuwangi. Bukan festival Ngopi biasanya yang menunjukan citarasa kopi, teknik pembuatan, teknologi dan lain-lain tapi kepada menjalin persaudaraan. “Sak Corot Dadi Seduluran”, ungkapan setempat yang bermakna dari secangkir kopi yang dinikmati bersama ini akan menumbuhkan persaudaraan. Dari ungkapan tersebut membuat acara Festival Ngopi Sepuluh Ewu ini berjargon “Sekali Seduh Kita Bersaudara”

https://www.google.co.id/maps/dir/Banyuwangi,+Kecamatan+Banyuwangi,+Kabupaten+Banyuwangi,+Jawa+Timur/Kemiren,+Kabupaten+Banyuwangi,+Jawa+Timur/@-8.2171064,114.3275222,14z/data=!3m1!4b1!4m13!4m12!1m5!1m1!1s0x2dd15aeb98f842ab:0x4027a76e3530a90!2m2!1d114.3692267!2d-8.2192335!1m5!1m1!1s0x2dd14fed2ee3c989:0xba6a6751767f498d!2m2!1d114.320772!2d-8.2030117
Rute ke Desa KemirenTahun ini saya berangkat untuk melihat festival ini bersama Halim, Pipit dan Andika  dan Odie yang sudah berniat dari jauh hari untuk datang ke festival ini. menuju ke desa Kemiren dari kota Banyuwangi mudah sekali. Kalian tinggal lurus ke arah barat saja. Rutenya dari Simpang Lima Kota Banyuwangi Ke Arah Barat – Jl. Jaksa Agung Suprapto – Jln. Hos Cokroaminoto – Melewati Rel Kereta – Pertigaan Patung Barong lurus hingga menemukan gapura masuk desa Kemiren.
Sore itu masyarakat desa Kemiren terlihat sedang menyiapkan meja, dan kursi bahkan ada yang sedang menata cangkir-cangkir kopi khas kemiren dengan motif kembang. Terlihat dari jauh jajanan pasar khas banyuwangi sedang ditata diatas meja seakan akan siap menyambut tamu-tamu penting. Setelah melewati waktu Magrib, perlahan-lahan desa ini mulai didatangi oleh berbagai masyarakat dari penjuru Banyuwangi, bahkan dari luar kota seperti saya dan teman-teman ini :D.

suasana desa kemiren di Festival Kopi 10 Ewu
mba pipit - andika sibuk moto :D :p
Kami menelurusi jalan-jalan sepanjang desa kemiren. Meriah sekali suasananya, jika dibandingkan hampir mirip dengan suasana lebaran ketupat di kampung mbah dan di desa-desa. Setiap rumah membukakan pintu bagi siapa saja yang ingin bertamu, pemilik rumah menyambut ramah setiap tamu yang datang ke rumahnya. Awalnya sungkan, karena di Desa Kemiren kami bukanlah siapa-siapa di desa Kemiren, tidak punya saudara, tidak punya kenalan ataupun calon jodoh. Sambut hangat pemilik rumah tetaplah sama. Kopi disajikan dalam cangkir kecil berwarna putih,ber gambar bunga yang khas dan ditutup agar panasnya lebih tahan lama. Cara minum kopi seperti ini merupakan tradisi masyarakat Osing Desa Kemiren yang merupakan suku asli Banyuwangi. Suku ini mempunyai tradisi minum kopi yang sudah ada sejak jaman nenek moyang dahulu. Ada ungkapan nenek moyang dalam bahasa Osing “Welurine Mbah Buyut Kemire Ngombe Kopi Cangkir Tutup”, yang artinya adalah meminum kopi dengan cangkir yang ada tutupnya.

Cangkir kopi motif kembang-kembang yang khas
percet
Tidak hanya menghidangkan kopi, pemilik rumah menghidangkan juga jajanan pasar khas masyarakat kemiren. Perhatian saya teralihkan dengan adanya favorit Kucur (Cucur untuk sebutan kue tersebut di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta ke arah barat. Kucur yang dihidangkan di kemiren warnanya coklat agak gelap dikarenakan menggunakan Gula Aren bukan Gula Jawa dari Pohon Kelapa dan penggunaan gula aren itulah yang membuat rasa Kucur agak berbeda dari daerah lain. Kue yang lain yang penampilannya menarik adalah Cenil. Cenil yang ada di Kemiren, Banyuwangi dihidangkan dengan cara yang unik. Biasanya cenil disajikan dalam pincuk daun pisang lalu ditaburi parutan kelapa. Namun Cenil disini dihidangkan dengan hidangan mirip sate. Cenil ditusuk tusukan sate lalu ditaburi parutan kelapa sehingga membuat kesannya berbeda sekali. Makanan lainnya yaitu kue Lepet, Tape Ekor, Ketan Kirip, Klemben, Percek dan lainnya . Percek ini unik, berbahan dasar pisang yang mirip mie berwarna kuning atau kerupuk rujak buah gerobak atau kerupuk yang dijual di warung asinan di bogor atau Jakarta.

hidangan komplit Kopi+Jajanan Pasarnya

simbah yg membuat kopi

Setelah lama bertamu, mengobrol ngalor ngidul sambil menikmati kopi dan jajanan pasar khas kemiren. Kami pamit dan kembali menikmati suasana ramai Festival Kopi Sepuluh Ewu di jalan desa Kemiren. Ternyata ada cara pembuatan kopi masyarakat osing yang diperlihatkan. Cara menyangrainya ternyata masih tradisional tidak mengunakan wajan dari aluminium melainkan dari tembikar. Penyangrai ternyata adalah mbah-mbah yang saya taksir usianya sekitar 65-70 tahun bahkan bisa melebihi 70 tahun. Dengan menggunakan wajan tembikar, kopinya mempunyai rasa yang berbeda, terlihat lebih hitam dari sangria biasanya.

Sak Ceret, Dadi Duluran
Beberapa langkah dari tempat tersebut kami dipersilahkan mampir bertamu kembali. Sama seperti pengalaman kami sebelumnya keramahan selalu menyambut kami, padahal kami bukanlah kenalan mereka, saudara mereka. Sak Ceret, Dadi Seduluran, bukanlah ungkapan belaka, tapi sudah menjadi cara mereka menghormati dan menghargai tamunya sama seperti saudaranya sendiri.

Menikmati Kopi di Festival Ngopi Sepuluh Ewu, bukan tandingan citarasa, teknik pembuatan, maupun Teknologinya namun lebih kepada bagaimana kita menikmati kopi secara bersama-sama.


Datang ya Ke Festival Ngopi Sepuluh Ewu Tahun Depan :)
Grand Aston Yogyakarta ( Sumber Gambar : lifeinarucksack.com)
Mencari hotel berbintang lima saat liburan di Yogyakarta? Mungkin Grand Aston Yogyakarta bisa menjadi salah satu alternatif yang recommended buat kamu. Di sini kamu nggak hanya menemukan tempat penginapan yang nyaman dan mewah, namun hotel ini juga bisa jadi tempat liburan yang menyenangkan buat kamu.

Nggak sedikit tamu hotel yang lebih suka berada di hotel dari pada jalan-jalan keliling kota. Letaknya di pusat kota dan tidak jauh dari Tugu Jogja kalian bisa menikmati senja di Tugu Jogja sambil menikmati hiruk pikuk lalu lintas Jogja yang cukup padat menjelang malam. Nah, Grand Aston Yogyakarta merupakan hotel yang memiliki fasilitas yang mewah, lengkap, dan pelayanannya juga sangat baik. Nggak heran kalau banyak yang betah berada di hotel ini. Jangan heran juga kalau hotel ini selalu penuh saat liburan datang. Maka dari itu, buat kamu yang mau menginap di sini ada baiknya booking di traveloka jauh-jauh hari.

Grand Aston Yogyakarta yang merupakan hotel berbintang lima ini menyediakan kamar dengan berbagai tipe. Ada tipe Superior Room, Deluxe Room, Suite Room, hingga Presidential Room. Tentunya, setiap kamar memiliki fasilitas yang mewah dan berkelas. Tatanannya pun sangat mewah dan elegan. Fasilitas pendukung juga tersedia seperti TV, Kulkas, AC, Setrika, dan lain sebagainya yang membuat kita nyaman bahkan seakan berada di rumah sendiri.

Kamar Grand Aston Yogyakarta (Sumber Gambar : Traveloka.com)
Di beberapa tipe kamar Grand Aston Yogyakarta juga terdapat ruang keluarga yang sangat nyaman sebagai tempat berbincang-bincang. Desain interiornya yang anggun dan elegan memberikan kenyamanan pada setiap tamu yang datang. Nuansa warna dinding dan perabotan yang ada juga terlihat indah.
Chinoseries Suite Living Room (Sumber Gambar : Aston-international.com)
Di ruangan tersebut juga tersedia alat pembuat kopi dan teh. Adapun meja kerja yang bisa kamu gunakan. Lampu yang ada di ruangan ini juga mempercantik desain interior yang ada. Kamu yang berada di sini mungkin akan betah meski sekedar duduk santai sambil membaca buku atau menyelesaikan kerja kantoran.

Nah, ini dia yang juga akan membuat para tamu di sini merasa betah, yaitu restoran. Restoran Grand Aston Yogyakarta sering dikenal sebagai Saffron Restaurant. Di sini tersedia menu makanan yang akan membuat selera makan kamu terpenuhi. Ada beberapa menu khas yang menjadi bagian dari menu favorit para turis lokal maupun turis asing yang menginap di hotel ini.

Di antara menu makanan favorit yang bisa kamu nikmati ialah Giant Iga yang merupakan hidangan iga yang cukup mewah dengan ukurannya yang besar. Biasanya hidangan ini bisa untuk 2 hingga 4 orang. Tapi tidak menutup kemungkinan kamu sanggup untuk menghabiskannya seorang diri, karena cita rasanya yang nikmat nggak akan sanggup buat kamu bagi-bagi.

Giant Iga Seffron Restaurant (Sumber Gambar : rullyanggiakbar.blogspot.com)
Adapun hidangan Apple Tortilla yang dihidangkan dengan begitu cantik. Selain itu terdapat Pencil Salmon Avocado yang merupakan makanan khas Mexico. Masih banyak hidangan lainnya yang tak kalah menariknya buat kamu. Intinya, Saffron Restaurant akan memuaskan kamu dengan hidangan yang menarik yang jarang sekali kamu jumpai di tempat kuliner lainnya.

Selain hidangannya yang memuaskan, restoran ini sendiri memiliki desain  interior yang mengagumkan. Bahkan, kamu bisa menjadikan restoran ini sebagai tempat romantis bersama sang kekasih. Nggak perlu jauh-jauh mencari tempat romantis, karena hotel ini menyediakan spot yang memiliki suasana romantis dan elegan.

Restaurant Grand Aston Yogyakarta (Sumber Gambar : 2look4beds.com)
Selain restoran dengan hidangan serta suasana yang romantis dan nyaman, jangan lupa bahwa ada salah satu spot menarik lagi dari hotel ini yang akan membuatmu betah berada di hotel ini, yaitu kolam renang. Kolam renang Grand Aston Yogyakarta cukup luas dan memiliki suasana yang nyaman meski sekedar duduk santai di pinggiran kolam.

Adapun fasilitas spa buat kamu yang ingin merelaksasikan tubuh dan pikiran. Dengan berbagai pilihan jenis spa, kamu bisa memilih sesuai yang diinginkan. Selain spa masih banyak fasilitas pendukung lainnya yang membuat kamu berasa liburan di hotel ini, seperti taman, pusat kebugaran, café, dan lain sebagainya.
Spa Grand Aston Yogyakarta (Sumber Gambar : Traveloka.com)
Selain itu, hotel ini juga sangat strategis karena dekat dengan beberapa destinasi menarik di Yogyakarta. Adapun jasa tur yang bisa kamu sewa di hotel ini untuk menuju lokasi yang kamu inginkan. Lokasi rekomended yang sedang diminati adalah wisata napak tilas film AADC 2 yang cocok untuk wisata keluarga adalah Candi Ratu Boko yang letaknya kurang lebih 30 menit dari  Hotel Grand Aston. Kalian juga bisa memilih tur ke beberapa pantai Gunungkidul yang Rekomended untuk wisata kalian bersama keluargaMasih banyak fasilitas hotel yang bisa kamu nikmati selama liburan di sini. Jadi, tunggu apalagi? Segera rencanakan liburanmu ke sini.


Semua orang mungkin sudah tau, hawa sejuk, aroma khas yang terasa saat kita berada di dalam hutan pinus. Rasanya hal-hal rumit yang ada dipikiran lenyap entah kemana, kepala rasanya menjadi ringan kembali. Yah mungkin itulah efek pagi-pagi berada di dalam hutan pinus.

Setelah minggu kemarin ke air terjun Pertemon, kali ini saya penasaran dengan wisata hutan pinus yang ada di songgon. Tepatnya di Desa Sumberbulu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi. Karena libur pas weekend, saya mensiasati untuk berangkat lebih pagi, karena membayangkan lokasi wisata akan ramai mulai jam 8 ke atas. apalagi hutan pinus songgon ini memang membuat penasaran banyak kalangan. Rute menuju Hutan Pinus Songgon cukup mudah dijangkau dari mana-mana.

Rute ke Hutan Pinus Songgon dari Banyuwangi
Jika kalian berangkat kr hutan pinus songgon dari kota Banyuwangi (arah timur), kalian tinggal mengarahkan kendaraan ke jalan Banyuwangi-Jember – Kota Rogojampi – simpang Kantor Telkom Rogojampi ambil kanan lalu ikuti jalan tersebut hingga sampai kecamatan Songgon – Pasar Songgon- Pertigaan setelah pasar Songgon ambil ke kiri (arah sragi atau ikuti petunjuk jalan ke rafting kali badeng) – ikuti jalan tersebut sampai pertigaan patung pahlawan kantor kelurahan desa sumberbulu ambil lurus dsn tinggal mengikuti petunjuk jalan hutan pinus songgon yang ada di setiap sisi jalan dan persimpangan. Dengan mengikuti papan petunjuk tersebut kalian akan sampai di hutan Alas Pinus Songgon.

pertigaan setelah pasar Songgon
pertigaan tugu pahlawan, kantor kelurahan sumberbulu
papan petunjuk jalan yg bisa kamu ikuti 
Rute ke Hutan Pinus Songgon dari Genteng
Jika kalian dari kota Genteng, lebih mudahnya kalian melewati jalan Hasyim Ashari – Ikuti jalan tersebut melewati pasar hewan genteng – stasiun Temuguruh  lalu akan sampai Pasar Gendoh – melewati pasar Gendoh akan ada pertigaan, ambil kiri (jl. Aruji Karta Winata) lalu ikuti jalan terus hingga mencapai desa Sumberarum – dari sini cukup banyak persimbangan yang persis sama, supaya tidak salah belok, tanyalah pada warga setempat, jalan menuju hutan pinus songgon atau desa sumberbulu atau rafting kali badeng.

deket parkiran sudah ada yg gelar tiker
Baru masuk kawasan parkir saja, hawa sejuk khas hutan pinus sudah terasa, tak sabar ingin menyelusuri area wisata hutan pinus songgon ini. Hutan Pinus Songgon ini merupakan hutan milik Perhutani yang dikelola oleh LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) Rimba Ayu yang merupakan LMDH setempat. Awal mulanya hutan pinus ini ditanam dengan sistem tumpang sari dimana masyarakat sekitar diperoleh menanam tanaman semusim bersama dengan pohon pinus dengan tujuan masyarakat juga menjaga dan merawat pinus tersebut hingga tumbuh baik. Ketika sudah tidak bisa ditumpangsarikan lagi, munculah ide mengelola hutan pinus menjadi kawasan wisata mirip dengan hutan pinus dlingo yang ada di jogja dan hutan pinus yang ada di Bandung (lupa namanya).


Konsepnya menarik, hutan pinus menjadi lokasi wisata menikmati alam dan tempat “selfie”. Kenapa Selfie mungkin karena sekarang sedang eranya selfie dimana-mana. Bahkan mau pipis pun selfie :S. Pengelola membuat beberapa spot selfie yang sudah disediakan pengunjungnya yaitu lampion gantung, Mobil Jeep, Rumah Pohon, payung gantung, beranda pandang, tenda camping dan hammock. Semua spot memang menjadi incaran para mua-mudi bahkan bapak-ibu pun saya amati juga ikutan berselfie ria. Spot favorit yang menarik perhatian pengunjung yaitu rumah pohon, payung gantung dan beranda pandang. Pada hari libur spot selfie payung gantung cukup ramai, sehingga susah mendapatkan gambar yang diinginkan sedangkan rumah pohon dan beranda pandang cukup mudah karena pengunjung yang naik dibatasi.

lampion gantung
Hammock-an
tenda kamping
jembatan gantung
Menurut pengelolanya sebenarnya kawasan ini masih belum dibuka karena masih membangun fasilitas yang memadai seperti parkiran, homestay, wahana hiburan lainnya dan taman baca. Membayangkan adanya taman baca ditengah hutan pinus rasanya mengasikan sekali. Keterlanjuran karena terlanjur menjadi viral di media social instagram dan banyak pengunjung yang datang penasaran, wisata hutan pinus pun akhirnya dibuka bulan oktober lalu.

beranda pandang

rumah pohon
payung gantung
Satu hal yang menarik perhatian saya adalah adanya kelas belajar minggu pagi yang diadakan pihak pengelola yang ditujukan pada anak-anak desa sekitar pinus untuk belajar bersama. Untuk saat ini kelas minggu paginya belajar bahasa inggris dengan harapan nantinya anak-anak desa sekitar bisa siap untuk kedepannya Banyuwangi menjadi tujuan destinasi wisata tidak hanya skala nasional, tapi internasional.

Bagi kalian yang liburan ke Banyuwangi dan mencari wisata yang tidak bisa bisa mampir mengeksporasi daerah Songgon. Di dekat sini ada beberapa air terjun yang menarik seperti air terjun telunjuk raung dan selendang arum yang nantinya akan saya post bulan depan :D


Yuk liburan ke Hutan Pinus Songgon, Jaga Kebersihan dan Kenyamanannya juga ya, biar lokasi ini selalu bersih dan nyaman untuk piknik :D
Kali keduanya mencoba menelusuri daerah Songgon, Banyuwangi. Sebuah daerah yang berada di sekitar kaki Gunung Raung. Karena letaknya tersebut tidak heran banyak potensi jasa lingkungan yang bisa dinikmati untuk me”Refresh” jiwa dan raga setelah 5 hari bekerja. Salah satu daerah yang dikunjungi adalah Air Terjun Pertemon

Air Terjun Pertemon, berada di dusun Sambungrejo, Desa Bayu , Kecamatan Songgon, Banyuwangi.  Air terjun bisa dibilang cukup unik karena terletak di celah sempit jurang yang sempit dengan dinding jurang sekitar air terjun ditumbuhi lumut-lumut karena atmosfer lembab dan sinar matahari masih bisa tembus.
Baliho petunjuk menuju pintu masuk air terjun Pertemon
Rute Menuju Air Terjun PertemonUntuk menuju air terjun ini bisa ditempuh dengan lama perjalanan sekitar 1,5 jam menggunakan kendaraan pribadi atau sewa kendaraan karena tidak ada angkutan umum menuju air terjun ini. Air terjun ini rutenya searah jika kalian hendak menuju ke wana wisata Rowobayu. Rute ke air terjun Pertemon dari Kota Banyuwangi bisa melewati jalan menuju Rogojampi –Simpang Kantor Telkom Rogojampi ambil kanan jalan – ikuti saja jalan (ikuti petunjuk menuju Songgon/ Rowobayu) – Melewati Pasar Songgon – sekitar 15 menit akan terlihat Baliho dan Spanduk di kanan jalan menuju Air Terjun Pertemon – Ikuti petunjuk tersebut akan sampai di parkiran air terjun Pertemon.
parkiran
Setelah membayar parkir sebanyak Rp. 5000, kami melanjutkan perjalanan berjalan kaki menuju Air Terjun Pertemon selama kurang lebih 25-30 menit dengan medan jalan yang tidak berat dan seru. Serunya seperti melewati persawahan, perkebunan kopi dan durian milik masyarakat, telusur sungai dan akhirnya yang cukup mencengangkan adalah kami harus menyelusuri Jurang dalam dari dua bukit yang rasanya seperti memasuki jurang menuju air terjun Krono Jiwo, Boyolali dan Air Terjun Madakaripura. Saat memasuki dasar Jurang terdengar gemericik air (bukan gemerincik aliran sungai) dan ternyata di ujung jurang tersebut merupakan Air Terjun Pertemon.
kebun kopi
persawahan

Penamaan Pertemon
Saat berjalan menuju air terjun Pertemon ini kami sempat membahas dan menebak-nebak kenapa dinamakan pertemon. Kosakata pertemon menurut saya tidak jauh dari kata Pertemuan. Mungkin dinamakan demikian karena hubungannya dengan pertemuan. Sempat saya kira air terjun Pertemon mempunyai kisah mirip dengan air terjun Cah Weni dimana cah weni dijanjikan oleh seorang pria untuk menunggu di bawah air terjun untuk pertemuan mereka kembali. Ternyata dugaan saya tidak tepat, nama Pertemon berasal dari kosakata pertemuan, namun pertemuannya bukan antara dua insan manusia tapi pertemuan dua anak sungai Binahu/Binau dan Lentijen yang pertemuannya berada sebelum memasuki dasar jurang. Pertemuan dua sungai di daerah jawa tengah biasa disebut dengan Tempuran.
foto dulu :D
Perjalanan dari kota Banyuwangi dan Tracking menuju air terjun Pertemon terbayar dengan Keunikannya. Keunikannya berada pada letaknya yang di dasar jurang dengan tebing jurang di sekitarnya ditumbuhi tanaman paku-pakuan yang menempel di tebing jurang. Jika diperhatikan pohon yang tumbuh di dasar Jurang beberapa sepertinya pohon yang jatuh dari atas jurang karena tebingnya runtuh. Namun jatuhnya pohon membawa akar dan sebongkah tanah sehingga pohon tersebut masih bisa tumbuh hingga sebesar sekarang. Dinding tebing jurang yang berada dekat dengan air terjun agak berbeda karena ditumbuhi lumut. Berada di dasar jurang di dekat air terjun saya pribadi tidak terlalu betah karena was-was kalau ada batu yang runtuh :D. belum lagi di dasar jurang dekat air terjun cahaya matahari sulit tembus karena di atas tebing tumbuh pohon yang dahannya cukup rapat.  Namun jika duduk di sisi jurang di tengah aliran sungai cukup nyaman selain dapat angin semilir yang bertiup dari luar jurang, tempatnya juga terang terkena sinar matahari.
Dasar Jurang  ada Zona Gelap dan Zona Terang\
Mulai menjelang sore, karena kami ingin hadir di acara Desa Kemiren “Kopi Sepuluh Ewu”, kami emutuskan kembali pulang menuju hotel untuk bersiap-siap menghadiri acara  tersebut. Air Terjun Pertemon wajib kalian kunjungi karena keunikan air terjun ini bisa membuat kalian terkesima. 

Mumpung sedang ada kegiatan di Gilimanuk, Bali, saya mencoba mencari pantai-pantai berdermaga lewat penuturan warga-warga setempat. Menurut mereka selain Pantai Teluk Rahasia atau Secret Bay, ada pantai berdermaga lagi bernama Pantai Karangsewu yang letaknya tidak terlalu jauh dari Pelabuhan Gilimanuk dan Secret Bay.

Pantai Karangsewu terletak di Br. Arum, desa Gilimanuk, Kec. Melaya, Kab. Negara. Pantai ini masuk dalam kawasan Taman Nasional Bali Barat. Pantainya cukup unik, tanpa pasir hanya ada endapan  lumpur yang mulai mengeras bagai karang atau mungkin karang-karang tertutup oleh lumpur sehingga keras menyerupai tanah. Mungkin sepanjang pantai tersebut terdapat tanah atau endapan lumpur yang menyerupai karang tersebut cukup banyak, pantai ini dinamakan Karangsewu.

perempatan pertama setelah masjid kanan jalan (jika dari pelabuhan)
Rute Menuju Pantai KarangsewuPantai ini letaknya dekat sekali dari Pelabuhan Gilimanuk. Dari Pelabuhan Gilimanuk dapat berjalan kaki sekitar 2-3km ke arah selatan sampai melewati Mesjid di kanan jalan – Perempatan Pertama Ambil kiri – ikuti saja jalan tersebut sampai memasuki di padang rumput – Pantai Karangsewu.
padang rumput yg terlihat saat memasuki pantai karangsewu
Padang Rumput di Pantai Karangsewu kerap kali dijumpai Sapi-sapi bali yang mirip sekali dengan Banteng Jawa yang bisa dilihat di Taman Nasional Alas Purwo. Sapi-sapi ini milik warga desa sekitar yang digembalakan di padang rumput sekitar pantai Karangsewu. Terlihat juga banyak Burung jenis tekukur yang terbang dan hinggap di dahan-dahan pohon, bahkan seringkali berada di padang rumput. Pantai Karang sewu merupakan daerah pertemuan air laut dengan muara sungai sehingga tidak aneh di tepian pantainya ditemukan jenis pohon mangrove.

Tidur di bawah Pohon "Bidara" Jomblo
Keunikan Pantai Karangsewu tidak hanya itu, terdapat pula pohon bidara yang menyendiri (nampaknya Jomblo) di tepian pantainya, dahannya berbentuk payung meneduhkan siapa saja yang berteduh disana. Saya duduk di bawah dahannya, bersandar di batang pohonnya. Sejuk sekali rasanya beda jika saya berdiri tidak di bawah dahan pohon ini. Apalagi angin sepoi-sepoi dari teluk Gilimanuk masuk melewati pohon ini. Suara daun pohon bidara yang saling bergesekan karena angin tersebut bagaikan alunan musik merdu. “Ah, Sayang engkau tak duduk di sampingku kawan, wohoho~”.

Dermaga yg bisa bikin galau :D
Sebelum mata makin sayup mengantuk terbawa suasana nyaman, saya bangkin menuju dermaga kayunya. Pemandangan yang cukup syahdu terlihat bukit kawasan Taman Nasional Bali Barat, Hutan Mangrove dan Muara Sungainya serta pegunungan daerah pemuteran yang samar-samar terlihat saat cerah. Kalau dilihat-lihat dan dihayati seksama, berada dermaga ini cukup berbahaya saat sepi karena bisa saja membangkitkan kenangan-kenangan masa lalu. Karena tidak cukup kuat saya tidak terlalu lama berada di atas dermaga.

Anak-anak kampung setempat, berani bgt mereka :D
Langit mulai menunjukan waktu sore, saya pun memilih kembali menuju Banyuwangi. Dan saat menyebrang, berada di tengah selat bali berpapasan dengan waktu senja, sekilas teringat lagu Lembayung senja di langit Bali.

~ Menatap lembayung di langit Bali dan kusadari betapa berharga kenanganmuuuuu …. ~



Indonesia beragam budaya, beragam adat istiadat, juga beragam cara mengungkapkan cinta dan rasa syukur atas karunia yg diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Di Banyuwangi sendiri tradisi ungkapan rasa syukur cukup beragam dan ada hampir di  setiap desa. Biasanya tradisi ini diadakan memasuki atau sudah dalam bulan Suro (Bulan pertama dalam kalender Jawa). Saya pun tertarik mengikuti beberapa tradisi adat yang bisa saya bilang unik, salah satunya adalah Tradisi Adat Kebo-Keboan Alas Malang.

Sesuai dengan nama desanya, Tradisi Kebo-Keboan Alas Malang diadakan di desa Alas Malang, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Letaknya cukup dekat dengan Stasiun  Rogojampi (15 menit) dan Bandara Blimbingsari (sekitar 30 menit). Tradisi ini diadakan mulai 10.00, saya berangkat dari kota Banyuwangi – melewati jalan utama Banyuwangi-Jember – Kota Rogojampi – Pertigaan Lampu Lalu Lintas Tugu Adipura ambil kanan – Ikuti jalan sampai menemukan perempatan Patung Kebo-keboan dan ambil kanan dari sini tinggal mengikuti hiruk pikuk masyarakat yang menuju desa Alas Malang.

Datang pagi saya pikir masih sepi, ternyata masyarakat sudah memenuhi segala penjuru desa. Dilapangan samping panggung wayang sedang berkumpul beberapa kelompok sanggar kesenian yang ada di Alas Malang untuk ikut melakukan Ider Bumi keliling desa Alas Malang. Beberapa dari mereka menunjukan kebolehan sanggar mereka di lapangan tersebut, bisa dibilang pemanasan sebelum tradisi adat kebo-keboan belum dimulai. Tidak jauh dari lapangan tersebut warga yang ditugaskan menjadi Kebo-Keboan sedang melakukan make-up dengan menghitamkan tubuhnya layaknya Kerbau. Menghitamkannya menggunakan bahan seperti serbuk arang dicampur minyak. Warga yang menjadi kebo-keboan cukup beragam, dari kalangan pemuda sampai yang sudah sepuh pun ikut serta. Ada Kebo ada juga pengembalanya dengan baju adat berwarna hitam membawa pecut, tas ayaman daun kelapa layaknya petani yang hendak pergi ke sawah. Tasnya juga bukan hiasan, ada beberapa bungkus rokok, air mineral dan beberapa camilan ibarat benar-benar mau ke sawah. Sedangkan Kebo-keboannya kulit dilumuri cairan hitam, tanduk kerbau dan rumbaian tali rafiah hitam sebagai rambutnya serta kelenteng/lonceng kerbau yang di kalungkan pada leher.

Pengembala Kebo-keboan
tumpengan
Tradisi adat diawali dengan pembacaan doa dan tumpengan, namun sayangnya tumpengan hanya dilakukan untuk pada undangan saja, mungkin karena masyarakat yang hadir terlalu banyak, acara tumpengan masal di depan rumah masing-masing seperti acara-acara lainnya tidak terlalu efektif. Tumpengannya berupa makanan khas Banyuwangi seperti Jenang Suro dan Pecel Pitik. Beberapa kali nyobain pecel pitik, pecel pitik yang dibuatkan di Desa Adat Alas Malang saya nilai cukup enak loh :D. Tradisi Kebo-keboan pun dimulai, jalanan desa cukup ramai air dari irigasi sawah dialirkan ke selokan dan jalanan desa dibanjirkan terutama di area depan panggung. Barisan pawai dimulai dari kereta kencana yang ditarik oleh salah satu peserta kebo-keboan paling besar dan merupakan icon dari kebo-keboan Alas Malang. Kereta kencana tersebut dinaiki oleh gadis cantik berperan sebagai Dewi Sri, yang merupakan Dewi Pertanian, Dewi Padi, Dewi Kesuburan. Setelah Dewi Sri diikuti oleh Kebo-keboan beserta para pengembalanya. Penonton dihimbau dan menjaga jarak  tidak menggoda para kerbau agar  kerbau-kerbau tersebut “terkendali”. Barisan pawai terakhir adalah para sanggar kesenian yang ada di Alas Malang dengan dominan kesenian Barong ada juga kesenian Reog Ponorogo.

Kesenian Barong Banyuwangi
Dewi Sri dan Kereta Kencananya

adik-adik yg mukanya udah cemong >_<
Mendadak Kebo-keboan tak terkendali dengan mendekati penonton dan menghitampan sebagian atau seluruh wajah penonton dengan tangannya, bahkan serunya kebo-keboan mengejar-ngejar penonton secara random membubarkan barisan penonton karena semuanya lari kocar-kacir :D. Begitu pula saya, menjadi korban mereka, dengan muka hitam sebelah tertangkap oleh seekor kebo-keboan. Seiring berjalannya waktu ternyata cukup banyak warga yang mukanya hitam, kebanyakan adalah anak-anak, dan para pemuda-pemudi. Melihat hal-hal tersebut tertawa dan hiruk pikuk keseruan dari penonton terdengar ramai sekali, bahkan saya yang berada di luar perkampungan (daerah persawahan) saya bisa mendengarnya. Setelah melintasi seluruh penjuru desa Alas Malang, rangkaian terakhir yaitu Kebo-keboan berkubang dan membajak sawah di sawah yang sudah disediakan.

bersama salah satu kebo-keboan :D
Dari kacamata saya, Tradisi Kebo-keboan Alas Malang tidak hanya sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat dan karunia Tuhan YME.  Saya melihat adanya kegembiraan dari warga-warga yang ikut serta meramaikan tradisi ini. Dengan bergembira dan tertawa bisa menghindari dan mengurangi stress akibat hidup yang tak selamanya selalu mulus :D


Tahun depan Kalian tertarik melihat Tradisi Adat ini?