Pemandangan Laut dan Pulau Tidore dr Ternate (Sumber foto: RinMuslimah)
Carilah posisi duduk yang nyaman, ingatlah gambar pemandangan diatas ini, lalu pejamkan mata, rasakan seolah-olah duduk manis atas kapal yang berlayar menuju pulau kecil di depan sana, pejamkan mata santaikan raga rasakan udara dan angin disekitarmu seolah-olah merasakan angin yang berhembus melewati perahu yang kamu tumpangi. Bayangkan perlahan-lahan perahumu mulai menepi di pulau kecil tersebut lalu berkata dengan penuh semangat “To Ado Re”.

To Ado Re” yang artinya adalah “Aku Telah Sampai”. Ketiga suku kata tersebutlah menjadi asal muasal penamaan Pulau Tidore, pulau kecil nan elok di Perairan Maluku Utara. Pulau kecil yang mempunyai sejarah yang sangat panjang, bentang alam yang menakjubkan seakan Tidore tercipta saat Tuhan Sedang Tersenyum. Penamaan Nama Tidore awalnya adalah “Limau Duko” atau “Kie Duko” yang berarti pulau bergunung api. Penamaan tersebut sesuai dengan keadaan geografisnya dimana pulau Tidore merupakan gunung api yang terangkat ke permukaan laut. Penamaan tersebut berubah menjadi Tidore karena terjadi peristiwa sejarah.

Menurut kisah yang saya dengar, dahulu di Limau Duko (nama Tidore sebelumnya) sering kali terjadi pertikaian antar Momole sampai akhirnya sekitar Tahun 846 M, rombongan Ibnu Chardazabah, utusan Khalifah al-Mutawakkil dari Kerajaan Abbasiyah di Baghdad tiba di Tidore. Mengetahui adanya pertikaian antar Momole, salah satu dari rombongan yang bernama Syech Yakub berupaya mendamaikan dengan memfasilitasi perundingan/Pertemuan. Pertemuan disepakati di atas sebuah batu besar di kaki gunung Marijang, gunung yang berada di sebrang selatan Tidore. Kesepakatannya, momole yang tiba paling cepat ke lokasi pertemuan akan menjadi pemenang dan memimpin pertemuan. Dalam peristiwa itu, setiap momole yang sampai ke lokasi pertemuan selalu meneriakkan To ado re, karena merasa dialah yang datang pertama kali dan menjadi pemenang. Namun, ternyata beberapa orang momole yang bertikai tersebut tiba pada saat yang sama, sehingga tidak ada yang kalah dan menang. Berselang beberapa saat kemudian, Syech Yakub yang menjadi fasilitator juga tiba di lokasi dan berujar dengan dialek Iraknya: Anta thadore yang artinya “Kamu Datang”. Karena para momole datang pada saat yang bersamaan, maka tidak ada yang menjadi pemenang, akhirnya yang diangkat sebagai pemimpin adalah Syech Yakub. Sejak saat itu mulai dikenal kata Tidore, kombinasi dari dua kata: Ta ado re dan Anta Thadore.

Sejarah kisah asal muasal penamaan Tidore sudah mengajarkan kita bahwasannya perselisihan yang terjadi bisa diselesaikan dengan cara Musyawarah untuk mufakat atau  kesepakatan. Musyawarah untuk mufakat ternyata sudah diterapkan sejak jaman dahulu dan hal tersebut sangat berakar di kehidupan masyarakat Indonesia.

Sultan Nuku (Sumber Foto Slideshare)
Sejarah panjang perjuangan Tidore dalam menentang penindasan dari bangsa-bangsa Eropa seperti Spanyol, Portugis dan Belanda yang mulanya hanya menawarkan kerjasama perdagangan untuk rempah-rempah berubah menjadi tindakan penindasan dan berupaya memonopoli serta menjajah tanah air termasuk juga wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore. Perjuangan terkenal adalah perjuangan dari Sultan Nuku yang membawa Kesultanan Tidore mencapai puncak kejayaan. Sultan Nuku mampu mempertahankan selama 25 tahun berperang mempertahankan tanah air terutama wilayah Kesultanan Tidore meliputi Pulau Tidore, Halmahera Tengah, pantai Barat dan bagian Utara Irian Barat serta Seram Timur. Dengan wilayah yang terpencar tersebut Sultan Nuku melakukan perpindahan ke daerah lain, berlayar keperairan lainnya, mengatur taktik dan strategi serta terjun ke medan perang melawan penjajahan. Sultan Nuku bertekad dan tujuan membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajah dan hidup damai dalam alam yang bebas merdeka. Cita-citanya membebaskan seluruh kepulauan Maluku terutama Maluku Utara (Maloko Kie Raha) dari penjajah bangsa asing. Dengan Tekad tersebut Sultan Nuku menjelma menjadi momok yang menakutkan pemerintah Kolonial Belanda di daerah Ternate, Banda dan Ambon. Hingga usia senja Sultan Nuku masih melakukan perjuangan tanpa kenal lelah dan akhirnya wafat pada usia ke-67 pada tahun 1805.

Pemandangan dari atas benteng Tahula ( Sumber Foto : Langkah jauh)
Benteng Torre ( sumber foto : langkah jauh)
Setelah melewati peristiwa demi peristiwa, Tidore kini mempunyai banyak peninggalan Sejarah yang melimpah dengan balutan bentang alam yang Indah. Datangnya bangsa Spanyol, Portugis, dan Belanda meninggalkan benteng-benteng bersejarah yang sampai saat ini masih berdiri menjadi saksi-saksi bisu perkembangan Tidore dari masa ke masa. Benteng Tahula merupakan benteng yang dibangun bangsa Spanyol. Dari benteng ini seluruh penjuru kota Soasio dan pemandangan lautan indah terlihat jelas sekali. Mungkin hal ini juga alasan Bangsa Spanyol mendirikan benteng disini untuk melindungi dan mengawasi rempah-rempahnya. Benteng selanjutnya adalah benteng Tore yang letaknya tidak jauh dari Benteng Tahula dan pemandangan yang juga sama. Bedanya benteng Tore merupakan peninggalan bangsa Portugis. Saya sedikit menghirup nafas dalam, membayangkan berada di bagian atas benteng-benteng tersebut lalu membayangkan kembali ke Tidore masa lalu. Membayangkan hiruk pikuk kota Soasio dan lalu lalang kapal dagang yang hendak membawa keluar rempah-rempah Tidore.

Tari Soya-Soya ( Sumber Foto : Maluku-Utara)
Tari Soya-Soya merupakan tarian khas dari daerah Maluku Utara begitu pula dengan Tidore. Tarian ini tercipta untuk membakar semangat para prajurit melawan bangsa Portugis saat itu dan kata “Soya-Soya” itu sendiri juga berarti “Semangat Pantang”. Penari tari Soya-Soya memakai cukup menarik, mereka berpakaian dasar berwarna putih, kain sambungan serupa rok berwarna merah, hitam, kuning dan hijau. Setiap penari juga mengenakan ikat kepala berwarna kuning (taqoa) yang merupakan simbol seorang prajurit perang. Kini tari Soya-Soya merupakan tari kebanggaan masyarakat Tidore, anak-anak sejak kecil pun sudah diajari tarian ini bahkan saat masuk sekolah dasar tariann ini diajarkan kembali.
Ritual Lufu Kie tahun 2015 ( foto : Adhiebudho)
Ada satu tradisi budaya yang menarik perhatian saya yaitu Ritual Lufu Kie. Ritual ini diselenggarakan untung mengenang Kufu Fei yang merupakan gelar dari Armada Perang yang berhasil mengusir VOC dari Tidore. Ritual ini dilaksanakan dengan mengelilingi pulau Tidore dengan formasi Armada Kapal seperti kala itu mengusir VOC dari Tidore. Formasinya disebut formasi Hongi Taumoi Se Malofo yang terdiri atas 12 perahu kora-kora tempur dan perahu Kesultanan Tidore yang berisikan 12 pasukan utama Angkatan Laut Kesultanan Tidore. Pada saat itu dengan peralatan yang sudah pasti kalah dari VOC dengan tekad pantang menyerah dari pejuang-pejuang Tidore, VOC dapat diusir. Dengan adanya penyelenggaraan ritual ini, semangat perjuangan mempertahankan tanah air tetap terus terjaga, menyala-nyala selamanya.

Tidore, negeri rempah-rempah yang memiliki sejarah dan pemandangan menakjubkan. Generasi 90-an seperti saya dan mungkin pembaca sekalian, dulu hanya tau dari mata pelajaran IPS lalu berlanjut mengetahui pemandangan Indahnya lewat gambar pada uang Rp.1000 lalu di era teknologi makin canggih saya makin tahu bertapa indahnya Tidore, bertapa menariknya kisah-kisah sejarah yang saya baca saat menulis ini. Ingin pergi kesana, membawa selembar uang Seribu yang telah saya simpan semenjak beberapa tahun yang lalu dengan harapan siapa tau nanti akan ada kesempatan menginjakan kaki ke pulau tersebut dan berucap “To Ado Re”.

Tidore dari Kejauhan (Sumber Foto : spiceislandsblog)
Tertarik mengunjungi Tidore, Yuk Visit Tidore, simpan uang Seribu-mu sebelum berganti dengan uang baru :D.

Artikel ini dibuat untuk mengikuti Lomba Menulis Blog dengan Tema : Tidore Untuk Indonesia 2017.

Suasana Pagi Pantai Syariah
Pulau Santen punya banyak cerita, wajahnya dulu sering dinilai kurang baik karena tidak terawatt, banyak sampah berceceran di sepanjang pantai kini mulai berbenah dan berubah dengan munculnya pantai Syariah sebagai titik balik pulau santen menuju hal yg lebih baik.


Pantai Syari’ah merupakan pantai yang berada di pesisir sebelah utara pulau Santen. Pantai Syariah ini baru launching oleh Pemda Banyuwangi beserta Kelompok Masyarakat Pulau Santen. Pantai ini mempunyai konsep wisata halal yang salah satunya yaitu memisahkan pengunjung wanita dan pria. Mungkin ini adalah pantai pertama yang memisahkan pengunjung pria dan wanita di Indonesia.

pertigaan SD Negeri 2 Karangrejo tinggal ambil kiri lalu lurus
Rute menuju ke Pantai Syariah/Pulau Santen dari Kota Banyuwangi.
Rute menuju pantai syariah dari kota Banyuwangi cukup mudah kok, dari simpang lima kota Banyuwangi arahkan kendaraan anda ke arah selatan menuju lampu lalu lintas hotel Slamet – ambil kiri ikuti jalan besar hingga menemukan perempatan pasar Pujasera (pasar burung) ambil lurus ke timur- ikuti jalan tersebut  hingga pertigaan klenteng – ambil arah ke kiri (ke timur) hingga menemukan pertigaan SDN 2 Karangrejo, ambil kiri lalu ikuti jalan tersebut hingga sampai di lokasi Parkir Pantai Syariah, Pulau Santen. Tarif Parkir untuk mobil sebesar Rp. 4.000 dan Motor sebesar Rp. 2.000.

jembatan menuju pulau santen
Pulau Santen dikategorikan Pulau karena terpisah dari daratan utama oleh sebuah sungai yang bermuara di selat bali. Sungai tersebut juga memisahkan antara Pulau Santen dan Pantai Boom. Karena terpisah oleh sungai, dari parkiran ke Pulau Santen tidaklah perlu menyebrang menaiki perahu seperti halnya ke pulau Tabuhan, hanya berjalan kaki menyebrangin jembatan kayu. Jika datang di pagi hari atau sore hari yang cerah, pemandangan pegunungan yang membentengi kabupaten Banyuwangi terlihat cukup jelas :D. Setelah melewati Jembatan Kayu tersebut maka terlihatlah Pantai Syariah dengan payung dan laybag warna warninya yg menarik perhatian. Penamaan Pulau Santen karena diseluruh pulau ini ditumbuhi oleh pohon-pohon Santen

peraturan di pantai Syariah, yuk dibaca
Pantai Syariah Wanita dan Pria di Pisah :D

Sesampainya di Pantai Syariah akan terlihat papan petunjuk peraturan dan petunjuk memisahkan pengunjung Wanita dan Pria. Hal tersebut merupakan salah satu konsep yang direncanakan untuk menjadikan Pulau Santen merupakan tempat wisata berkonsep wisata halal. Menurut sumber yang saya dapat dari penduduk setempat nantinya akan ada warung yang menjajakan makanan-makanan halal, melarang pengunjungnya berpakaian tidak sopan, ada mushalla yang siap digunakan sewaktu-waktu adzan berkumandang, puskemas dan hal-hal lain selama tidak berbenturan dengan konsep wisata halal.

laybag dan payung warna-warni
Pantai Syariah, area wanita cukup menarik, adanya kursi meja laybag pasir beserta payung khas bali yang dimodifikas dengan warna warni yang mencolok. Jika dilihat rasanya mirip dengan Pantai Double Six di Bali. Fasilitas tersebut disewakan seharga 10ribu saja sudah mendapatkan dua kursi laybag beserta mejanya. Sayangnya karena baru dibuka, belum ada penjaja makanan dan minuman untuk disantap untuk menikmati suasana pantai Syariah ini. Harapannya penjaja makanan dan minuman adalah penduduk lokal pulau Santen saja sehingga bisa mendongkrak penghasilan masyarakat pulau santen yang mayoritas merupakan nelayan. Dibelakang kursi-meja laybag pasir tempatnya sangat teduh karena terdapat barisan pohon Santen yang berjejer rapi. Pengunjung juga bisa menggelar tikar dan menyantap makanan yang dibawa dari rumah.

Pantai Syariah area Pria merupakan area alami dan bisa dibilang merupakan area aslinya pulau Santen. Pohon santen terdapat berjejer bersama pohon waru laut yang berbunga kuning. Di bawah pohon tersebut terdapat kursi-kursi dan meja dari batang pohon yang rubuh atau batang pohon yang terdampat di pesisir Pulau Santen tersebut. Selain itu pada Pulau Syariah area pira terdapat garasi tempat berlabuhnya jukung-jukung tradisional warga setempat yang biasanya digunakan untuk mencari ikan di pesisir pulau santen.

matahari belum terbit, pihak pengelola sudah membersihkan pesisir pantai
Harapan kedepan semoga dengan branding wisata halal dan Pantai Syariah sebagai pantai khusus wanita menjadi titik balik bangkitnya kehidupan pulau Santen yang lebih baik lagi. Para wisatawan diharapkan agar membuang sampahnya ditempat yang telah disediakan oleh pengelola. walau ada yang membersihkan tiap pagi dan tiap saat tetap saja sampah yang dibawa adalah tanggung jawab masing-masing untuk membuangnya.

Tertarik ke mengunjungi Pantai Syariah, Pulau Santen kah kalian?

nb : Postingan selanjutnya (bukan setelah ini) ingin memperlihatkan foto-foto perubahan wajah pulau santen 2 tahun belakangan. ditunggu yak :)
suasana senja di Basecamp Cafe
Sore sepulang kerja mempunyai sisa waktu yang cukup untuk istirahat sejenak sejenak sebelum pulang ke rumah, kadang saya mlipir ke pantai menikmati suasana dan semilir angin panta, salah satunya menikmati sore di Basecamp Cafe, sebuah warung di pesisir pantai Kampung Mandar.

Basecamp Cafe merupakan sebuah warung yang letaknya di daerah pesisir pantai Kampung Mandar. Pesisir pantai Kampung Mandar ini belum lama ini ramai dikunjungi warga setempat di sore hari setelah sepulang kerja, setelah menyelesaikan aktivitas rutin harian karena keberadaan Basecamp Cafe tersebut letaknya pas di tepian pantai, mungkin juga karena adanya perubahan kebijakan kenaikan harga tiket masuk pantai boom yang membuat pengunjung pindah ke pesisir pantai kampung mandar.
(rute 1) belokan ke basecamp cafe sebelum loket masuk pantai boom
(Rute 2) jalan belitung,utara pasar kampung arab 

Rute ke Basecamp Cafe
Untuk menuju Basecamp Cafe dari Kota Banyuwangi cukup mudah. Dari Simpang Lima Kota Banyuwangi, ambil arah ke Pantai Boom melewati Taman Blambangan , pertigaan pom bensin/PLN belok kanan – sebelum jembatan dekat loket retribusi masuk ke pantai boom ada jalan ke kiri memasuki perkampungan nelayan – masuk ke jalan tersebut ikuti plengsengan atau pesisir sungai kecil tersebut hingga mentok menemukan pantai dan Basecamp Cafe. Rute yang lain kalian bisa melewati  Jalan Belitung di sebelah utara Pasar Kampung Arab, daerah Lateng. Ikuti Jalan/Gang Belitung tersebut sampai mentok bertemu Plengsengan lalu ambil kiri untuk sampai ke Pantai dan Basecamp Cafe.

pintu depan Basecamp Cafe
Basecamp Cafe merupakan warung yang sederhana, bangunan utama terbuat dari bambu, menawarkan suasana pantai berpasir hitam dengan pemandangan laut selat Bali dan Pulau Dewata yang menawan hati terlihat dari jejauhan. Menu yang ditawarkan seperti halnya warung kopi pada umumnya ada berbagai kopi lokal, kopi saset, teh, jus buah-buahan dan beberapa makanan ringan seperti tahu walik, rota bakar, roti Maryam, kentang goring dan lain-lainnya. Range harganya juga terbilang murah dari Rp.3.000-Rp.10.000 saja. Range harga yang saya bilang cukup merakyat apalagi sambil bisa merasakan suasana laut selat bali dan semilir angin lautnya.
suasana sore di hari minggu (ramai)
suasana sore di hari minggu (ramai)

Favorit saya adalah datang di sore hari sepulang kerja atau setelah puas bersepeda keliling kota saat hari cerah. Memesan segelas es kopi atau es teh atau cemilan ringan. Saya lebih senang memilih di meja bundar yang terbuat dari eks gulungan kabel-kabel besar beratap langit karena lebih leluasa menikmati suasana pantainya, menikmati terpaan angin sore yang membawa pergi penat dan lelah pergi jauh-jauh. Es Kopi sudah tinggal setengah matahari mulai turun, suasana mulai gelap dan warna awan dan langit mulai berwarna jingga. Lampu-lampu hijau tosca milik Basecamp Cafe mulai dinyalakan, lampu menara suar juga mulai menyala, air laut masih nampak tenang belum pasang, kapal-kapal nelayan belum ada yang melaut karena kondisi laut belum pasang. Di tengah suasana tersebut saya menyalakan lagunya Saras Dewi berjudul Lembayung Bali.

“Menatap Lembayung di Langit Bali, dan kusadari betapa berharga kenanganmu. Dikala jiwaku tak terbatas bebas berandai mengulang waktuuuu ….”
Senja di Basecamp Cafe, Banyuwangi
Ternyata angin sore memang dapat membawa pergi penat dan lelah namun tidak kenangan-kenangan yang pernah dialami.

Es Kelapa Muda atau lebih dikenal dengan nama Es Degan memang enak dinikmati pada cuaca terik kota Banyuwangi. Namun disudut sebuah desa di Banyuwangi, terdapat warung bakso yang menjajakan makanan yang tidak biasa yaitu Bakso Degan atau disebut Juga Bakso Kelapa Muda.

Warung Bakso bernama warung Bakso Mba Tatik yang terletak di Dusun Karang Sari, Desa Segobang Kecamatan Licin, Banyuwangi. Di desa tersebut terdapat banyak pohon-pohon kelapa sehingga tidaklah aneh jika Mba Tatik mencoba berjualan Bakso Kelapa Muda karena bahan berupa Kelapa Mudanya mudah didapat di Desa mereka. Bakso Kelapa Muda buatan Mba Tatik ini terbilang berani dan baru karena mulai dijual pada bulan Januari. Untuk saat ini Warung Bakso Kelapa Muda mba Tatik ini adalah satu-satunya di Banyuwangi sehingga jika kalian ingin mencobanya harus siap blusukan ke Desa Segobang, Licin.

penampakan warung bakso Mbak Tatik
Rute ke Warung Bakso Degan Mbak Tatik
Rute menuju Warung Bakso Kelapa Muda Mba Tatik dari Kota Banyuwangi hanya memakan waktu sekitar 20-30 menit saja dengan pemandangan khas desa yang memanjakan mata. Dari Simpang Lima Banyuwangi  ambil ke arah barat menuju Kawah Ijen – Melewati Rel Kereta Api – Patung Barong –Desa Olehsari – Kantor Kecamatan Glagah –Angkringan Piyu – Mentok di Pertigaan Licin ambil ke kiri (jika ke kanan ke Kawah Ijen) – Ikuti jalan tersebut melewati pertigaan Omah Joglo – Hutan Rakyat –Dusun Karangsari – saat memasuki Dusun Karang Sari Desa Segobang pelan-pelan saja nanti ada masjid Kanan jalan – setelah masjid ada warung bakso dengan spanduk bergambar Bakso Kelapa Muda

sederhana
Warung Bakso Mbah Tatik cukup sederhana, bergabung dengan warung toserba, ada dua meja panjang dengan kursi plastik terpisah-pisah untuk pengunjung yang ingin menikmati Bakso Kelapa Muda, Bakso Biasa dan Mie Ayam buatannya. Sambil menunggu pesanan Bakso Kelapa Muda, saya memperhatikan cara membuat Bakso Kelapa Mudanya. Air kelapa muda yang sudah dibuka dimasukan kedalam panci dan dipanaskan, sambil menunggu kuahnya panas kelapa muda yang sudah dikupas diisi dengan bihun, daun seledri, bawang dll berikut juga baksonya. Setelah sudah siap air kelapa muda yang sudah panas dituangkan kembali kedalam buah kelapa yang sudah siap. Lalu Bakso Kelapa Muda tersebut siap dihidangkan.
kelapa muda dibuka terlebih dahulu
siap disajikan kepada pembeli

Pertama kali yang saya coba adalah kuahnya, iya kuahnya rasanya menarik, kuah bakso bercampur dengan air kelapa muda menurut lidah saya cocok. Mulai dengan menambahkan sambel, saus tomat dan kecap, rasa kuahnya berubah kembali dan rasanya juga unik. Makan bakso kelapa muda pun tidak seperti makan bakso dengan mangkuk pada umumnya. Lubang dari buah kelapa yang tidak terlalu besar membuat kami sebagai penikmat bakso antusias menyeruput kuah, memotong bakso bahkan menyerut daging buah kelapa tersebut.
bakso degan Banyuwangi
Untuk kalian yang ingin mencobanya bisa langsung ke warung bakso mba Tatik tersebut di dusun Karangsari, Desa Segobang Kecamatan Licin, Banyuwangi. Warung tersebut buka dari jam 9 pagi hingga 8 malam. Harga 1 porsi Bakso Kelapa Muda hanya Rp. 15.000 rupiah saja. Sehabis makan bakso bisa juga mampir ke Air Terjun Pakudo yang letaknya tidak jauh dari Warung Baksonya. Sekilat tentang air terjun Pakudo bisa dibaca disini -->> Air Terjun Pakudo, Banyuwangi

air terjun Pakudo, Desa Segobang, Licin, Banyuwangi :D


Air Terjun Jagir :D
Mandi Pagi di hari libur itu malasnya minta ampun. Yahh, jika flashback sekian puluh tahun saat masih kecil, mandi pagi itu pantangan karena banyak godaan berupa film kartun penuh hampir setengah hari. Sampai ada quote “udah bosan mandi, gerakannya itu-itu aja”, ada juga yang bilang “ngapain mandi nanti kotor lagi” dan digali lebih jauh, selalu saja ada alasan-alasan baru untuk malas mandi. Mengatasi kebosanan yang meyebabkan malas mandi mungkin karena bukan gerakannya itu-itu aja tapi kalian butuh tempat baru untuk mandi, salah satunya mandi di alam bebas. Seperti pengalaman saya mandi pagi-pagi di Air Terjun Jagir Banyuwangi XD

Air Terjun Jagir terletak di Dusun Kampunganyar, Desa Taman Suruh, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Air terjun ini merupakan destinasi unggulan karena dengan mengunjungi tempat ini kalian dapat melihat 3 air terjun sekaligus dalam satu tempat dan  jaraknya berdekatan. Air terjun ini lokasinya cukup strategis, dekat dari pusat kota Banyuwangi, dan sejalur dengan wisata ke kawah ijen, kondisi jalan yang aspal, melewati perkampungan, pemandangan area persawahan dan  gunung Marapi dan Meranti yang kadang terlihat megah.
Rute ke Air Terjun Jagir dari Kota BanyuwangiUntuk menuju ke air terjun Jagir dari kota Banyuwangi cukup mudah, arahkan kendaraan ke simpang lima kota Banyuwangi lalu ambil arah barat – melewati stadion pangeran diponegoro- perempatan lampu lalu lintas masih ambil lurus ke barat – melewati pintu rel kereta api – pertigaan patung barong smbil lurus ke barat ke arah perkebunan kalibendo – melewati DesaWisata Kemiren – dari sini tinggal ikuti jalan tersebut saja sekitar 15 menit jalan santai nanti saat memasuki Dusun Kampunganyar akan ada tulisan/petunjuk “Air Terjun Jagir atau Parkir Air Terjun” – parkirkan kendaraan lalu jalan sebentar menyelusuri jalan setapak yang sudah ada.
pemandangan air terjun saat menuruni jalan setapak
Sehabis sunrise di pinggir pantai, saya mengarahkan kendaraan menuju air terjun Jagir lewat rute yang sudah dijelaskan diatas. Lama tempuh dari Banyuwangi kota sampai ke Air Terjun ini sekitar 15- 20 menit saja. setelah sampai parkir kendaraan, saya langsung bergegas mengayunkan langkah kaki menuruni jalan setapak, suara gemerincik air terjun sudah terdengan indah, apalagi karena masih pagi hari suara-suara burung berkicau merdu menyapa kedatangan saya.  Sesaat angin berhembus melewati dasar lembah,  membuat tanaman bambu yang ada disekitar air terjun seakan ikut “berkicau”.
berenang :D
Air terjun Jagir  memiliki ketinggian sekitar 10 meter. Tebingnya ditumbuhi oleh sejenis tumbuhan merambat yang bisanya ada disekitar air terjun. keberadaan air terjun tersebut menambah pesona air terjun Jagir.  Airnya berasal dari sumber mata air yang mengalir sepanjang tahun pertanda siklus air di sekitar wilayah ini masih terjaga dengan baik. Air dari sumber air tersebut sebagian ada yang terjun menjadi air terjun Jagir, sebagian juga dialirkan ke pipa PDAM, bangunan kamar mandi untuk warga setempat - pengunjung, dan sebagian mengalir jatuh pada tebing yang lain. Karena hal itu air terjun ini juga disebut air terjun kembar karena dalam satu tebing dapat dilihat dua air terjun. Air dari sumber air tersebut mengalir kebawah namun tidak langsung bergabung menyatu besama aliran sungai, namun jatuh terlebih dahulu ke dalam kolam semi alami lalu  berlanjut mengalir ke sungai. Kolam semi alami ini kedalamannya hanya sekitar 1 meter menjadi favorit pengunjung terutama saya.

terapi digigit ikan :p
Pagi hari jam 6 pagi, kondisi air terjun masih sepi sekali, saya sering menjadi pengunjung pertama yang datang, kadang pula sudah ada warga sekitar yang mengantarkan anaknya mandi, berenang dan bermain air di kolam semi alami air terjun Jagir ini. Kolam semi alaminya jernih, dasarnya pun sampai terlihat jelas, bahkan ada banyak ikan kecil-kecil hidup di kolam tersebut. Jika kita duduk di tepi kolam alami dengan menaruh kaki ke dalam air, gerombolan ikan-ikan kecil menggigiti kaki layaknya terapi digigit ikan yang sempat naik daun sekitar beberapa tahun yang lalu.

air terjun satunya yg berada 10 meter sebelah timur air terjun jagir
Pose hits Instagram katanya :p
Setelah puas foto-foto dan mengamati sekitar air terjun, saya memutuskan untuk bermain air menikmati air terjun ini layaknya milik sendiri karena belum ada orang yang datang. Sesekali saya meneguk teh panas yang biasanya sudah saya siapkan dari rumah sebelum berangkat melihat sunrise dan main ke air terjun ini. Sambil menikmati teh, tersirat doa yang cukup egois “semoga pengunjung  yang datang setelah saya datangnya jam 9 saja :D”.
buat yg pengen menggelar tikar piknik bisa disini
Air terjun ini menurut saya memiliki fasilitas yang lengkap, warung penjaja makanan-minuman  yang letaknya diatur tidak terlalu dekat dengan air terjun sehingga pengunjung yang datang benar-benar menikmati suasana air terjun yang asri. Fasilitas kamar mandinya cukup baik dengan bangunan permanen, terdapat pula semacam tempat untuk menggelar tikar di sebrang sungai dengan pemandangan air terjun tersebut.

Letaknya yang tidak jauh dari Kota Banyuwangi membuat tempat ini saya rekomendasikan untuk kalian kunjungi. Apalagi buat kalian yang bosen sama gerakan mandi yang itu-itu aja XD.


Spot Sunrise Jogja, Bukit Paguk Kediwung
Pagi Jogja.
Dari dulu emang paling asik nyelusuri daerah mangunan, dlingo pagi-pagi. Bedanya kalau sekarang banyak warga setempat membuat tempat asik untuk menikmati pemandangan di pinggir jurang sungai Oya, pemandangan lautan kabut atau yang sering disebut negeri di atas awannya bantul :D. Salah satu tempat yang asik itu salah satunya adalah Bukit Panguk Kediwung.

Bukit Panguk Kediwung letaknya di Dusun Kediwung, Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Bantul, Jogja. Bukit ini perlahan-lahan menjadi ramai dan menjadi viral media social  tahun 2016 silam karena pemandangan paginya dengan lautan kabutnya, panorama hijau perbukitan dan aliran air sungai Oya yang membelahnya, serta hawa sejuk pagi-pagi yang rasanya benar-benar menyegarkan jiwa. Siapa yang tidak senang berada disana pagi-pagi.

klo udah deket kebun buah mangunan, ada papan petunjuk jalannya
Rute Menuju Bukit Panguk Kediwung dari JogjaDari Kota Jogja arahkan kendaraan ke terminal Giwangan lalu di lampu lalu lintas terminal giwangan ambil arah ke selatan, ke jalan Imogiri Timur- Ikuti jalan tersebut sampai mentok hingga menemukan pertigaan dengan papan petunjuk Kebun Buah Mangunan – Ikutin rute petunjuk ke kebun buah mangunan – ketika sampai di dekat gerbang kebun buah mangunan akan ada petunjuk menuju Bukit Panguk Kediwung, ikuti petunjuk tersebut – ikuti jalan turundi depan gerbang kebun buah mangunan- melewati Jurang Tembelan – melewati Bukit Moko dan akhirnya sampai diparkiran Bukit Panguk Kediwung.

lokasi parkir dan rimbunan pohon jati 
Untuk masuk ke kawasan wisata tersebut kita hanya ditarik retribusi parkir sebesar Rp. 3.000 untuk sepeda motor mungkin kalau kalian membawa mobil ditarik retribusi sebesar Rp. 5.000. Bukit Paguk cukup hijau, ditumbuhi oleh rimbunan pohon jati. Mungkin saat musim kemarau tiba rimbunan pohon jati ini mulai hilang karena daunnya meranggas gugur berjatuhan. Jika melihat jauh ke arah timur kita bisa melihat lautan kabut sudah menyapamu, bergerak perlahan-lahan mengikuti aliran angin yang ada disana. Saat itu kabut tersebut bergerak searah aliran sungai.

diujung jurangnya :D
Jiwa rasanya sudah tidak sabar mencapai ujung jurang sebelah timur, dimana lautan kabur mengalir dengan indahnya dengan warna-warna jingga pagi. Segera melangkahkan kaki mencari jalan setapak yang aman untuk dipijaki karena hujan semalam membuat sebagian jalan tanah cukup licin. Di ujung jurang sebelah timur ada beberapa dermaga kayu yang dibuat sebagai spot foto. Dermaga kayu terbuat sederhana, dari kayu-kayu lokal dari hutan rakyat setempat namun dipasang cukup kokoh dan kuat. Dermaga kayu yang kecil, hanya bisa menampungl 2 orang saja, sehingga saat ramai seperti hari minggu tidak bisa lama-lama karena masih banyak yang ingin berfoto saat moment matahari terbit dan saat lautan kabutnya muncul. Pada ujung sebelah kanan jurang, ada dermaga kayu yang cukup besar yang muat beberapa orang sehingga jika ada yang mau foto sekeluarga masih muat banyak :D.
kabut buatan :v


pemandangan kalau ga ada kabutnya :D


Dermaga kayu yang buat rame2
pemadam kelaparan
Fasilitas yang ada di Bukit Panguk Kediwung menurut saya sudah memadai, terdapat warung penjaja makanan minuman yang siap memadamkan rasa lapar kalian yang datang pagi-pagi dan belum makan dari kemarin. Area parkir cukup luas, bisa memuat banyak mobil dan kendaraan bermotor. Fasilitas kamar mandi pun sudah tersedia. Namun karena wisata ini masuk wisata blusukan, jalan yang ditempuh ketika memasuki kawasan desanya bukan berupa aspal bagus, jalannya tidak lebar sehingga bis besar sudah dipastikan tidak bisa masuk kesana.

datanglah bersama keluarga atau rekan2 tercintamu
Bukit Panguk Kediwung ini menurut saya rekomended buat kalian kunjungi, pagi-pagi. Jika ingin mencoba melihat sunrise dan kabut pagi di bukit panguk kediwung ini berangkatlah pagi jam 4 pagi dari Jogja. Dengan lama perjalanan sekitar 1 jam lebih, kalian akan sampai sekitar jam 5-an sehingga punya waktu bersantai, menghirup udara segar, mencari posisi yang enak untuk menikmati matahari terbit.
Selamat menikmati pagi di Bukit Panguk Kediwung ya :)
dua foto panorama pagi kiriman dari si nove :D


Panorama Air Terjun Temcor
Songgon masih masuk list wilayah Banyuwangi yang penasaran ingin dijelajahi lebih lagi. Jika diliat dari bentang alamnya terletak di kaki gunung raung, bisa dibilang pasti banyak panorama indah yang ada disana termasuk juga Air Terjun.

Air Terjun Temcor, atau masyarakat disana juga menyebutnya air terjun  Kembang Arum.  Air terjun ini terletak di Dusun Sumber Arum, Desa Sragi, Kecamatan Songgon, Banyuwangi. Air tejun ini cukup unik, berada di jurang yang dikelilingi persawahan. Air sungai yang membelah persawahan itulah yang jatuh ke bibir jurang membentuk air terjun dan sungai kecil baru.

Rute menuju air terjun Temcor atau air terjun Kembang Arum
Air Terjun ini searah jika kita mau menuju air terjun telunjuk raung, air terjun lider atau air terjun selendang arum. Rutenya daari kota Banyuwangi – Bunderan Patung Kuda – Jalan utama ke Jember – Kabat – Rogojampi – pertigaan kantor pos Rogojampi ambil kanan ke arah songgon – ikuti jalan tersebut melewati pasar Songgon – Pertigaan kedua ambil yang ke arah Sragi – Ikuti Jalan utama saja hingga mentok pertigaan jika ambil ke kiri kearah genteng ,kita ambil ke kanan – Kantor PKK Sragi - melewati pertigaan air terjun lider – nanti di kanan jalan ada papan pondok pesantren Assidiqiyah ambil gang masuk ke kanan – ikuti jalan tersebut hingga mentok – kendaraan bisa dititipkan di rumah warga. Setelah parkir kendaraan, kita tinggal melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melewati pematang sawah.
melintasi pematang sawah

pemandangan dari bibir jurang
Menuruni Jalan Setapak Menuju Dasar Jurang
Treking menuju Air Terjun Temcor atau air terjun kembang arum cukup seru, pertama kita akan melewati pematang sawah milik warga desa sekitar. Petunjuknya tidak ada kita hanya berjalan menuju lokasi dimana air irigasi sawah mengalir yang merupakan bibir jurang. Dari bibir jurang sudah terdengar  suara dan terlihat air terjun temcor dari kejauhan. Sungai kecil diatasnya mengalir membelah area persawahan yang ada lalu jatuh ke ke jurang membentuk air terjun Temcor. Menuruni Jurang harus ekstra hati-hati, karena jalan turunnya tidak dibentuk mirip tangga dan ruangnya cukup sempit. Saat saya kesana jalan menuruni jurang cukup licin karena masih basah, akhirnya saya menuruninya dengan sedikit merosot :p. Hati terenyuh juga melihat bocah-bocah desa yang berangkat bersama ke air terjun menuruninya dengan santai :D

air terjun Temcor
Sesuai namanya, Air Terjun Temcor berasal dari kata madura yaitu "Temor Cora" yang artinya Timur Jurang. Mungkin karena air terjun ini berada di sebelah timur Jurang dari desa tersebut. Jika dilihat dari dekat, air terjun Temcor lumayan tinggi. Kemungkinan air terjun ini memiliki ketinggian 10 meter. Air terjun yang jatuh dari sungai menuruni tebing cukup lebar sehingga membentuk banyak air terjun dan gemerincik air yang jatuh. Pada sisi di sebelah kiri merupakan air yang jatuhannya paling deras dan semakin ke kanan air yang turun dari tebing mengalir tidak deras. Tebing air terjunnya cukup  unik karena ditumbuhi oleh tanaman merambat. Air dari air terjun Temcor ini mengalir kembali mengikuti alur sungai kecil.
tebing yang ditumbuhi oleh tanaman merambat
Anak-anak desa sekitar
Kebetulan rombongan kami datang bersama anak-anak desa sekitar yang sepertinya habis mengambil hasil bumi berupa dedaunan yang ada di sekitar air terjun ini untuk dimasak. Anak-anak dengan riang bermain bahkan ada berfoto-foto dengan HP yang mereka bawa. Saya berpikir, enak juga mereka dengan masa kecil yang di kelilingi alam yang bagus. Berbeda dengan saya dulu, yang tumbuh berkembang di daerah ibukota. eh “Sawang Sinawang ya”.

Setelah puas, kami kembali naik menuju desa. Menaiki jurangnya juga butuh perjuangan lagi, karena habis hujan kondisi tanah cukup licin. Lagi-lagi saya tereyuh, anak-anak desa sekitar naik dengan santainya :D. Sesampai di Desa kami mengisi kembali tenaga dengan makan bakso dan ngemil gorengan enak di sekitar tempat kami menitipkan kendaraan.


ladang sekitar air terjun jangan diinjak2 ya 
Yah akhir tulisan dapat saya menutup bahwa air Terjun Temcor perlu kalian coba apalagi bagi kalian yang suka medan yang menantang. Air Terjun Temcor belum dikelola, sehingga belum ada fasilitas yang memadai seperti kamar mandi ataupun tempat sampah. Namun karena belum adanya fasilitas membebaskan para pengunjung air terjun ini juga membuang sampah sembarangan. Bawa saja kembali sampahnya, nanti dibuang di tempat sampah yang ada di desa. Dan jagalah kesopanan dan hati-hati agatr tidak menginjak dan merusak area persawahan sekitar air terjun.