Secuil Kenangan Tak Terlupakan di Pasar Wage Kenteng, Kulonprogo

, , 16 comments
Ibu-ibu kece penjual Geblek :D
Jogja menyimpan banyak memori memori menarik saat saya merantau ke sana untuk mencari ilmu. Salah satu memori menarik yang tidak terlupakan adalah Pasar Tradisionalnya. Pasar tradisional dimana-mana ada, bahkan untuk kota sekelas Jakarta pun masih ada pasar tradisional yang masih bertahan. Pasar Tradisional di Jogja yang menyimpan memori dan selalu saya sempatkan berkunjung namanya Pasar Kenteng, Sebuah pasar yang letaknya di persawahan daerah pegunungan Menoreh Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta.

Pasar ini letak di Desa Kembang, Kecamatan Nanggulan, Kulonprogo. Letaknya dari kota Jogja tidak terlalu jauh hanya berjarak tempuh sekitar 30 menit dari Tugu Jogja. Pasar Kenteng tidak seperti pasar Beringharjo, Malioboro yang buka setiap hari, hanya buka di hari tertentu yaitu Hari Wage pada penanggalan atau Kalender Jawa. Dan pada hari biasa selain hari Wage tidak ada salah satu penjual pun yang berjualan di pasar itu. Pasar ini buka dari setelah subuh hingga biasanya jam 09.00-10.00 pagi mulai sepi. Pasar ini juga merupakan pasar letaknya strategis karena berada di sekitar jalan menuju beberapa daerah wisata Kulonprogo seperti 6 (enam) AirTerjun di Kecamatan Girimulyo dan wisata alam lainnya.
Rute menuju Pasar Kenteng dari Kota JogjaRutenya cukup gampang kok, kalian hanya tinggal menggunakan kendaraan pribadi atau sewa menuju ke arah barat dari tugu Jogja.  Tugu Jogja  kebarat – Bang Jo Ringroad Barat Demak Ijo lurus Kebarat – Godean – Pasar Godean – Jembatan Sungai Progo – Perempatan Pasar Kenteng Lurus (kea rah pemandangan pegunungan menoreh) – Setelah melewati perempatan tersebut kita akan sampai di Pasar Kenteng.
"ehhh di foto" :D
Lihat kalender, besok Minggu adalah hari Wage, mumpung libur saya memutuskan untuk mampir ke Pasar Kenteng, melihat-lihat sekaligus mencari sarapan dan melanjutkan mandi di air terjun Grojogan Sewu. Saya berangkat dari Jogja jam 5 pagi. Udara saat perjalanan pagi itu cukup menusuk-nusuk kulit mengingat saya tidak memakai jaket hehe. sekitar jam setengah 6 keadaan masih agak gelap, saya mencari spot dulu di daerah persawahan sekitar pasar untuk menikmati matahari terbitnya. Jam segitu pasar sudah ramai, beberapa warga berdatangan dengan sepeda ontelnya, ada juga yang naik mobil angkutan berupa truk kecil dan pick up.
Gunung  Merapi di pagi hari yg tertutup kabut
Ahh matahari terbit begitu indah, gunung Merapi-Merbabu sedang terlihat cantik-cantiknya walau dari kejauhan saja. Kabut tipis seakan menari-nari di sekitar persawahan dan langit sekitar pasar kenteng pagi itu. Sudah agak terang saya pun kembali ke Pasar Kenteng untuk mencari sarapan dan melihat seisi pasar.
es Cendolnya

Tradisional dan Unik, dua kata yang terlintas jika kalian baru pertama kali mengunjungi pasar ini. Barang yang dijualkan bisa dibilang cukup beragam dari pakaian, kain batik, peralatan berladang, Bilik Bambu, Jerami Padi untuk atap, sayur mayur, jajanan pasar, hewan ternak bahkan sampai tukang cukur tradisional dengan menggunakan sepeda bisa ditemukan disini. Jajanan Pasar juga unik-unik seperti Nasi Jagung yang saya sempat coba rasanya cukup manis, pecel, mie letek, cenil, bermacam-macam gorengan, Benguk, Tempe Jadah dan jajanan favorit saya yaitu Geblek. Geblek ini dijual oleh rombongan ibu-ibu kece di blok tengah pasar. Awal pertama beli saya tidak tahu cara melafalkan Geblek yang benar sehingga melafalkan Geblek dengan lafal dan logat Jakarta yang berarti “Bodoh”. Sontak ibu-ibu penjual dan beberapa pengunjung pasar tertawa  dan memberi tau kalau melafalkan Jajanan Geblek nya salah fatal :D. Geblek ini memang mirip cireng berbahan dasar sama namun saat prosesnya berbeda. Yah memang setelah saya cicipi satu Geblek ini rasanya berbeda dengan Cireng :D. Saya membelinya sekitar 7ribu dan mendapatkan Geblek cukup banyak untuk bekal makanan yang dibawa ke air terjun. Melipir ke pinggir jalan raya pasar berjejer mbah-mbah penjual tembakau yang sedang menunggu dan melayani pembelinya dengan ramah. Di dekat situ ada penjual es Cendol yang akhirnya saya pesan untuk melepas dahaga. Es Cendolnya enak dengan pemanis alami yaitu berasal dari Gula Aren. Satu gelas es Cendol dihargai cukup murah yaitu Rp. 3000 saja.

geblek
cenil
Pencukur Tradisional
Melipir ke pojokan sebelah barat pasar, penjualnya berupa penjual bilik bambu dan jerami padi untuk atap rumah. Disekitar situ ada antrian bapak-bapak yang agak ramai, ternyata mereka sedang mengantri tukang cukur keliling yang manggal disitu setiap hari wage. Cukup unik karena tukang cukur tersebut tradisional menggunakan sepeda ontel tua, bangku, cermin, dan sekoper kecil peralatan cukurnya. Saya minta ijin kepada yang dicukur dan bapak pencukur tradisionalnya untuk mengambil gambarnya.

Saling berkomunikasi antar penjual
Lapar rasanya kalau tidak makan nasi, saya mencari warung yang menjajakan makanan hangat, sebenarnya tertarik dengan Soto Ayam yang banyak dijual di pasar tersebut namun berubah ketika melihat seorang mbah-mbah menjual makanan sejenis Tongseng. Yah cocok jugalah untuk menghangatkan perut di pagi hari. Komunikasi disini agak sulit karena saya tidak bisa bahasa Jawa, untungnya ada pengunjung yang sedikit membantu menjadi translator. Dengan kepiawaiannya, mbahnya meracik bumbu, mengiris sayuran dan lain-lainnya untuk semangkuk tongseng yang saya pesan dan rasanya enak.

Setelah kenyang memakan hidangan tongseng, saya meninggalkan pasar tersebut dengan perasaan puas dan terkagum-kagum lalu melanjutkan perjalanan ke arah barat, ke arah pegunungan menoreh menuju air terjun-air terjun kecamatan Girimulyo, Kulonprogo untuk mandi hehe.


Semoga kalian tertarik mengunjungi pasar ini ya, ingat Cuma buka di hari Wage tanggalan Jawa ya :)

16 komentar:

  1. Fotomu dapet mas, ekspresi-ekspresinya mereka dan segala suasananya terekam banget deh!
    wkwk aku ketawa pas mas alan pertama kalinya melafalkan "geblek".
    Sekalian beli tempe benguknya kah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe isin aku nek keinget kejadiann itu :D
      diketawain..
      eh ak g beli tempe benguknya, pernah nyoba ternyata kurang doyan hehe

      Hapus
  2. Mas Alan, aku bisa membayangkan pagi-pagi ikut melihat aktivitaa si Pasar Kenteng. Indahnya. Karena yang berjualan dan pembeli sama-sama penduduk sana, pasti suasananya kental banget oleh oleh konten lokal ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. yap sangat kental menurutku mba,, suara-suara relatif jawa-jawa kromo. untungnya keramahan warga sekitar sana, bantu menerjemah bahasa jawa yg g dipahami hihi

      Hapus
  3. Itu higienis banget yg jual cenil.. biasanya di pasar yg jual pada pake tangan kosong.. haha,

    Asik banget ya suasana pasarnya, njawa banget..

    BalasHapus
    Balasan
    1. yap itu juga aku kaget hihi, mungkin bener biar lebih higienis :)

      Hapus
  4. Gebleknya menggoda. Aku jadi kepikiran nulis kayak gini tapi temanya beda ahhahah. Kemarin sempat motret bus, terus pengen nulis tentang bus ahahhaha

    BalasHapus
  5. Itu yang saling berkomunikasi dengan sesama penjual paling sering saya lihat kalau saya pergi ke pasar dan kalau orang tua semua serasa lucu gituh lihatnya.

    BalasHapus
  6. Ayeeeee.... itu pasar memang sesuatu banget buatku. Dulu ketika masih SD-SMP setiap hari Legi, Pon dan Wage sore saya menyapu pasar itu bersama Bapak yang sekarang sudah pensiun. Duuuuh.... Terima kasih postingannya, Mas! Mantabs sekali, Jogja memang ngangeni! :D

    BalasHapus
  7. Saya senang sekali ada yg post tentang pasar Kenteng .soalnya itu salah satu pasar emak saya dagang.

    BalasHapus
  8. Geblek itu makanan apaan yaaa ??? #LangsungGoogling

    BalasHapus
    Balasan
    1. :D miriplah sama cireng mas cumi untung kesan pertama

      Hapus
  9. Jadi penasaran sama gelbelknya mas.. :D
    Btw, salam kenal mas Nobi :)

    BalasHapus
  10. Rumahku jaraknya 5 rumah dari pasar kenteng...
    Dimana aku tinggal.. yang aku rindukan.. bakmi pasar kenteng... dan geblek sengek... nikmat dimakan sama Teh Ginastel buatan ibukku...
    Kangen pasar kenteng...

    BalasHapus