Cicip-cicip Makanan dan Jajanan Khas Osing di Desa Banjar, Banyuwangi

, , 5 comments
Jajanan - Makanan Tradisional Masyarakat Osing

Makanan tradisional dan khas setempat pasti menjadi incaran untuk saya cicipi. Banyuwangi merupakan persinggahan ketiga terlama setelah Jogja dan Lampung. Kali ini saya berkesempatan mencicipi hidangan makanan tradisional masyarakat Osing di Desa Banjar yang sedang mengadakan acara desa bertema Osing Culture Festival.

Dalam Osing Culture Festival ini mengangkat tema potensi desa banjar yaitu Gula Aren. Letaknya di lereng perkebunan sudah pasti potensi akan Pohon Aren cukup tinggi, mengingat pohon aren sangat baik dan tumbuh di daerah tinggi dan biasanya tumbuh di pinggir-pinggir sungai. Pada acara ini  salah satu yang diperlihatkan oleh Desa Banjar adalah Makanan Khas Desa Banjar yang terbuat dari bahan Gula atau produk-produk hasil pengelolaan air nira pohon aren.
Ikamsi hehe
Membayangkan konsep acaranya saja membuat saya antusias, pagi hari berangkat ke Desa Banjar yang letaknya satu arah dengan arah mau ke Ijen. Desanya asri, dikelilingi hamparan sawah, air di sungai kecil bersih untuk bermain-main air. Sebelum acara di mulai beberapa Ibu2 warga setempat atau kita sebut saja Ikamsi (Ibu2 Kampung Sini). Ibu2 ini berpakaian rapi, bisa dibilang cukup manis di usianya. menawarkan beberapa hidangan yang asing dan belum pernah dicicipi. Ikamsi cukup sabar dan senang menjawab pertanyaan saya atau mengulangan bahkan mengeja nama makanan tradisional yang susah sekali saya eja :D. Ini dia makanan tradisional masyarakat Osing yang mereka hidangkan

1. Jenang Procot

Namanya cukup unik, Procot. Kata yang asing buat saya haha. Makanan ini juga berbahan dasar dari gula aren sehingga makanan ini berwarna coklat. Kemasan jenang ini cukup unik berbentuk seperti keong atau bekicot. Mlocrot, dinamakan demikian karena makannya dengan cara di procot.  Sebelum dimakan jenang tersebut diberi Santen terlebih dahulu di atasnya sebelum akhirnya di procot. Untuk lebih jelasnya bagaimana di procot itu sepertinya harus dipraktekan langsung :D
cara makannya seperti ini :)

2. Awug-awug dan Jokong
awug-awug
Awug-awug dan Jokong hijau merupakan makanan dibungkus oleh daun pisang. Sepertinya saya pernah menemukan makanan di Jogja.  Awug-awug terbuat dari tepung ketan, tepung beras, parutan kelapa dan diberi cairan gula merah. Pada acara Osing Culture Festival gula yang digunakan menggunakan Gula Aren. Sedangkang Jongkong hampir sama dengan awug-awug hanya saja berwarna hijau. Saya kurang tau bahan dasar apa yang membuat Jongkong ini berwarna hijau hehe
jongkong

3. Kopi Utek-Utek
Kopi dan Utek-utek
Kopi Utek-Utek ini merupakan cara minum kopi kebiasaan masyarakat setempat. Utek-utek merupakan jajanan atau cemilan yang terbuat dari Gula aren yang kering bercampung dengan kacang. Kopi yang disuguhkan merupakan kopi hitam dari perkebunan kopi desa banjar dan diolahdan dibuat sendiri. Kopi yang dihidangkan dalam Kopi Utek-Utek ini tanpa gula, pahit-pahit semestinya kopi. Rasa manis didapat berasal dari Utek-utek tersebut. Seteguk kopi, satu gigit utek-utek, saya membayangkan betapa nikmatnya minum kopi utek-utek setelah pulang dari kerja, atau istirahat setelah bekerja. Sungguh nikmatnya Ngopi J

4. Telo Rebus Gula Aren (ga tau nama lokalnya)
Telo Rebus Gula Aren
Telo yang di rebus bersama air nira yang hendak matang atau gula aren yang di cairkan kembali. Namun kebanyakan warga setempat membuatnya sekaligus memasak Nira aren. Sesudah Telo matang direbus, telo diangkat dan dihidangkan. Beberapa juga menghidangkan dengan memberi taburan parutan kelapa dan beri topping penutup dengan gula aren cair kembali.
Pisang Rebus Gula Aren
Pengganti ketela atau telo jika sedang tidak ada bisa menggunakan buah pisang dan rasanya wihh terutama bagi yang tidak suka makan pisang tanpa diolah seperti saya hehe. Sepertinya hidangan seperti ini enak menjadi makanan berbuka puasa nanti.

5. Lempok Sawi

Sawi dalam bahasa Osing bukanlah sayuran melainkan Telo, Ketela, Singkong. Terbuat dari parutan telo atau ketela yang dipadatkan, dan setelah pada direbus bersama rebusan air nira yang hendak menjadi gula arena tau gula aren yang dicairkan. Setelah cukup matang bisa dihidangkan dengan memberikan sedikit gula aren cair di atas piring.

Jajanan tersebut mungkin hanya sedikit dari banyaknya jajanan dan makanan tradisional khas masyarakat osing lain yang tidak kalah unik. Harapan saya sih, semoga bisa mencicipi hidangan masyarakat osing lainnya selama masih di Banyuwangi ^^.

yuk ke Banyuwangi, Bukan hanya mengunjungi wisata-wisata alamnya tapi juga cicipi Kulinernya




nb jika ada penulisan nama mohon saya dikoreksi ya hehe

5 komentar:

  1. Jajanan kayk gini susah nyarinya :-(

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kak,, pasti pas hajatan atau acara desa aja ya?

      Hapus
  2. Mayoritas jajanannya berasa manis ya mas? Soalnya kebanyakan dicampur gula aren terkecuali kopi...
    Pingin nyicip pisang yang disiram gula aren cair

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa, soalnya tema acaranya potensi desa kebetulan potensinya Gula Aren :D

      Hapus
  3. duhhh kemaren ke Banyuwangi cuma numpang lewat mo ke Bali sih,
    jadi belum sempat icip2 kulinernya..

    BalasHapus