Klenteng Hok Tek Bio, Pasar Baru - Klenteng Tua Yang Terlupakan

, , 4 comments

Di tengah perkembangan kota Jakarta yang pesat, Kawasan Pasar Baru pun terus tumbuh menjadi salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Selain itu, kawasan Pasar Baru ini merupakan salah satu kawasan tempat tinggal etnis Tiong Hoa di Jakarta yang sudah ada sejak jaman Belanda. Salah satu bukti, masih ada sisa-sisa arsitektur rumah jaman dahulu seperti atap, atau hiasan/ukiran di tembok rumah.  Namun sayangnya rumah-rumah tertutup bangunan toko-toko modern yang berdiri sejajar sepanjang jalan utama Pasar Baru. Di suatu gang yang sempit, terdapat Klenteng yang menjadi sudah menjadi saksi bisu perkembangan kawasan Pasar Baru lebih dari 300 tahun yang lalu, Hok Tek Bio namanya.

Untuk mencapai klenteng ini cukup mudah, kita bisa menggunakan kendaraan pribadi langsung menuju kawasan Pasar Baru, atau bisa menggunakan Busway TransJakarta dan Kereta. Jika menggunakan kereta, anda bisa turun di Stasiun Juanda, lalu dari stasiun tinggal berjalan kaki sekitar kurang dari 1 km akan sampai di depan gapura masuk kawasan Pasar Baru. Jika naik Transjakarta, bisa melalui rute trayek PGC-Harmoni transit di Juanda lalu ke Pasar Baru dan dari Harmoni-PGC tak perlu transit di Juanda.

Sesampainya di kawasan Pasar Baru, kita akan melihat gapura besar dan tinggi bergaya etnik Tiong Hoa, terukir tulisan “Pasar Baroe 1820” yang menandakan bahwa kawasan ini mulai berdiri pada tahun 1820. Melewati gapura, kita bisa melihat banyak toko-toko modern berdiri. Dari toko elektronik, toko pakaian, kain, kuliner dan lain-lain. Semakin memasuki kedalam, anda akan melihat plang petunjuk kecil menuju yayasan Vihara Dharma Jaya (Sin Tek Bio) nama lain dari Klenteng yang kita tuju. Plang petunjuk tersebut membawa kita melewati gang sempit yang hanya muat untuk 1-2 orang saja.

Tertulis jelas di tembok gang sempit yang kita lewati, kalau Klenteng ini berdiri sejak tahun 1698. Karena saya berkunjung tahun 2014 jadi umur klenteng ini kurang lebih adalah 316 tahun. Klenteng ini ada 3 tingkat namun digunakan tempat ibadah hanya sampai tingkat tida saja. Di dalam klenteng ini terdapat ratusan dewa yang berasal dari abad ke-17 dan abad ke-20 dengan 14 altar di ruang utama dan 14 altar di ruang atas. Dan yang menarik disini adanya altar-altar tokoh lokal seperti Mbah Raden, yang altarnya berisi peralatan tempat tidur seperti kasur, bantal guling mini, cangkir-cangkir teh. Menurut sumber yang saya baca enempatan altar tokoh lokal adalah suatu penghormatan para pendatang dari Tiongkok kepada wilayah dimana mereka tinggal. Altar ini merupakan bentuk akulturasi kepercayaan pendatang dan kepercayaan lokal.

suasana dalam klenteng
suasana dalam klenteng

Klenteng ini dibuka untuk siapa saja baik yang ingin beribadah atau sekedar wisata seperti saya. Kita tidak ditarik biaya masuk, hanya saja berkunjung ke klenteng ini harap berlaku sopan karena merupakan tempat ibadah. Ada baiknya saat berkunjung ke sini, berbicara dahulu meminta ijin kepada petugas yang ada di klenteng ini.



nb : berkunjung kesini kita bisa sekalian kuliner terkenal di lokasi dekat sini,, tunggi tulisan berikutnya ya J

4 komentar:

  1. Duh dari dulu aku tuh penasaran gimana rasanya megang lilin segede itu lan, hehehe...
    *salah fokus

    BalasHapus
    Balasan
    1. rasa meluk lilin gede itu panas ci XD, bsk coba deh hehehehe

      Hapus
  2. wah pernah nih kesini, malah sampe keatas2nya di jelajahin hehe.. btw keren mas fotonya

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahhh, sampai lantai paling atas juga mas??

      Hapus