Yuk Lihat Prosesi Saparan Bekakak

, , 4 comments
Yogyakarta memang penuh tradisi.
Satu lagi tradisi yang menurut saya unik di daerah Yogyakarta yaitu SAPARAN BEKAKAK.

Sesuai namanya yaitu Saparan yang berarti bulan Syafar dalam bahasa arab atau biasa disebut Sapar oleh masyarakat jawa, tradisi Saparan Bekakak dilaksanakan pada bulan Sapar. Bekakak juga mempunyai arti yaitu korban penyembelihan hewan atau manusia. Bekakak pada saparan ini bukan manusia beneran loh melaikan hanya tiruan manusia saja, berujud boneka pengantin dengan posisi duduk bersila yang terbuat dari tepung ketan. Tradisi ini sudah dilaksanakan turun temurun dari masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono (HB) I yang dilaksanakan di daerah Ambarketawang, Gamping, Sleman.

bekakak pengantin
Ada api pasti ada asapnya, begitu juga tradisi saparan bekakak ini pasti cerita yang melatarbelakangi keberadaan tradisi tersebut. Menurut info yang saya dapat acara ini bermula dari Sultan HB I pindah dari pesanggrahan Ambarketawang, Gamping menuju Kraton baru (ditempat sekarang ini) ada seorang abdi dalem penangsong (pembawa payung kebesaran) Sultan HB bernama Ki Wirosuto tidak ikut pindah dan tinggal bersama istrinya di daerah Ambarketawang, Gamping. Untuk membangun kraton Yogyakarta, abdi dalem bersama penduduk Gamping melakukan penggalian batu kapur di gunung Gamping. Namun penggalian tersebut memakan banyak korban termasuk abdi dalem beserta istrinya. Sultan HB I pun melakukan pertapaan di wilayah Gunung Gamping tersebut untuk mengatasi masalah tersebut. dalam tapanya sultan mendapat bisik dari setan Bekasan penunggu gunung Gamping untuk mengorbankan sepasang pengantin sebagai pengganti warga melakukan penggalian batu kapur di gunung Gamping. Jika hal tersebut tidak dihiraukan maka para penggali batu kapur tersebut akan terkubur menjadi tumbal. Sultan mengiyakan hal tersebut dengan tipu muslihat mengganti tumbal sepasang penganting manusia dengan sepasang pengantin yang terbuat dari tepung ketan dan sirup gula merah sebagai pengganti darah.

Untuk melihat acara ini, kita memang harus memantau kalender/agenda wisata Jogja yang bisa diambil ambil di dinas pariwisata Yogyakarta maupun bisa mengecek di situs-situs agenda wisata jogja. Untuk tahun 2012 ini dilaksanakan dua kali karena diterdapat 2 kali bulan Sapar. Tradisi ini telah dilaksanakan bulan Januari lalu dan akan dilaksanakan pada tanggal 28 Desember 2012 pukul 2 siang dimulai dari Balai desa Ambarketawang, Gamping. Untuk mencapai balai desa dari kota Jogja cukup mudah, anda bisa melewati jalan ring road barat ke arah jalan Wates (ke selatan) atau bisa juga melewati perempatan Wirobrajan lurus terus ke arah jalan Wates. Setelah pasar Gamping akan ada perempatan ambil kanan untuk mencapai balai desa tersebut.

setan-setan cilik ^^
Sesampai di balai desa anda akan melihat setan-setan yang berkeliaran disini, namun jangan takut karena setan-setan tersebut merupakan setan yang ditiru oleh warga untuk mengambarkan setan-setan yang ada di Gunung Gamping. Terdapat pula Bekakak Pengantin yang menjadi simbol utama tradisi ini. nantinya Bekakak pengantin dan para setan tiruan akan berkeliling daerah Ambarketawang, Gamping menuju gunung Gamping. Sesampai digunung Gamping Bekakak ini akan di sembelih di altar yang telah disediakan. Dan sesaji yang dibawa bersamaan dengan bekakak pengantin akan disebar kepada pada para penonton yang mengikuti prosesi ini.

penyembelihan bekakak (jgn ditiru yah)
Walau saat ini masyarakat tak lagi melakukan penggalian gunung gamping namun tradisi ini tetap terus dilaksanakan selain untuk melestarikan budaya Indonesia juga menghormati kesetiaan Abdi Dalem Ki Wirosuto dan Nyai Wirosuto pada tuannya sampai akhir hayatnya. Semoga Tradisi-Tradisi Tradisional Indonesia selalu lestari.


4 komentar:

  1. Ih itu kok serem ya ngelihat penyembelihannya itu lan, hiii...

    BalasHapus
  2. huum ci, walaupun kue ttp aja serem ya hii

    BalasHapus
  3. wah ini acaranya dikampungku...
    nobiiii...besok tgl 20 desember ada saparan bekakak lagi

    BalasHapus